Film Review: Taste of Cherry (1997)

Taste of Cherry

If you look at the four seasons, each season brings fruit. In summer, there’s fruit, in autumn, too. Winter brings different fruit and spring, too. No mother can fill her fridge with such a variety of fruit for her children. No mother can do as much for her children as God does for His creatures. You want to refuse all that? You want to give it all up? You want to give up the taste of cherries?” (Bagheri)

Di tahun 1997, maestro ternama Iran, Abbas Kiarostami (Certified Copy), mengarahkan sebuah film yang berjudul ‘Taste of Cherry’ (طعم گيلاس, Ta’m-e gīlās), yang berkisah tentang pencarian dan kerapuhan. Dengan memenangkan Palme d’Or pada Cannes Film Festival 1997, tentulah ada yang istimewa dari film ini. Melalui teknik filmis Kiarostami yang khas, kisah pencarian tersebut berujud sebuah perjalanan yang tidak hanya mencari akan tetapi juga menemukan.

Dengan sebuah mobil, seorang pria setengah baya bernama Badii (Homayon Ershadi, The Kite Runner) berputar-putar keliling Tehran seperti seorang predator yang tengah mencari mangsanya. Apa yang tengah dicarinya? Ternyata ia berupaya menemukan orang yang bisa membantu dalam upaya bunuh dirinya. Ada tiga orang yang bersedia diajaknya “bernegoisasi”; seorang tentara remaja Kurdi yang pemalu, seorang mahasiswa agama asal Afganistan dan seorang pria tua asal Turki. Dimanakah diantara mereka yang akan membantu dirinya?

‘Taste of Cherry’ adalah film yang sulit. Bukan karena berisi naskah yang kompleks apalagi berbelit-belit. Narasinya cukup linear bahkan minimalis. Akan tetapi pemakaian visual long shot yang cenderung monoton dan pace yang perlahan akan menguji kesabaran penonton untuk dapat betah mengkuti plot yang berjibun dengan dialog verbal. Tentu saja ini akan menyulitkan jika kita tidak sabar dengan pendekatan narasi yang dilakukan oleh Kiarostami ini. Tapi jika berhasil menahan diri, pastilah kita akan merasa nyaman dan terseret dalam perjalanan sang karakter utama, Badii.

Lanskap perbukitan tandus yang berputar-putar seolah menjadi perwujudan akan perasaan yang tengah berkecamuk didalam diri Badii. Namun mayoritas lokasi berada di dalam mobil Badii, karena disinilah ia berupaya mempersuasi orang yang sedianya dapat membantu dia. Sayangnya Badii tampaknya bukan tipe orang yang pintar membujuk. Entah karena rasa putus asa atau terdesak oleh waktu, sikapnya yang seolah memaksa menjadi menyebalkan, tidak hanya bagi karakter lain akan tetapi juga kita sebagai penonton. Tidak ada penjelasan mengenai latar belakang Badii, termasuk alasan dia hendak membunuh diri. Tampaknya disini kita sebagai penonton turut diposisikan sebagai pihak yang bertanya-tanya akan motivasi Badii, seperti halnya orang-orang yang ditemuinya.

Awalnya film dibuka dengan ambiguitas pendekatan Badii terhadap orang yang “didekatinya”, terutama si tentara remaja Kurdi tadi. Seolah-olah ia seorang oom senang yang tengah mencari klien untuk memenuhi hajatnya yang mendesak. Akan tetapi ternyata itu merupakan penekanan akan urgensi Badii terhadap niatnya. Kiarostami begitu piawai menggiring persepsi yang tadinya diniatkan untuk si pemuda Kurdi, namun berimbas pula kepada kita, dan kemudian kita memposisikan diri pada si pemuda alih-alih Badii sebagai protagonis.

Tiga orang asing yang hendak dimintai pertolongan oleh Badii sendiri dapat menjadi simbol bagi kehidupan yang seharusnya dijalani Badii. Pria remaja yang bahagia, pria muda yang dalam proses pencarian dan pria tua yang penuh dengan kontemplasi. Badii membunuh diri tentu saja karena ia tidak bahagia akan kehidupannya, namun apakah begitu menderitanya dia sehingga harus memutus pertaliannya dengan sang hidup? Ketiga karakter ini mungkin dapat menjadi jawaban untuk pertanyaan itu.

Pada akhirnya bagi ‘Taste of Cherry’ tujuan akhir menjadi tidak penting lagi, akan tetapi bagaimana upaya menuju akhir tersebutlah yang lebih krusial. Kiarostami menunjukkan jika pendekatan dalam bercerita dalam film tidak melulu harus mengejar solusi, akan tetapi bukankah film juga bentuk sebuah “perjalanan” dan juga “pengalaman”?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s