Film Review: The Girl On The Train (2009)

The Girl On A Train

Saat menyaksikan ‘The Girl On The Train‘ atau La fille du RER karya sutradara ternama Perancis, André Téchiné (Wild Reeds, My Favorite Season) saya menjadi agak bingung. Apakah saya tengah menyaksikan sebuah film yang bagus atau tidak? Sebenarnya apa sih yang ingin diceritakan oleh Téchiné dalam filmnya ini? Terinspirasi dari sebuah kisah nyata, film berkisah tentang tentang perempuan yang mengaku mendapat pelecehan hanya karena ia dikira seorang Yahudi. Namun ternyata ia sebenarnya hanya mengarang cerita saja. Lantas apa motivasi sang perempuan?

Perempuan tersebut bernama Jeanne Fabre (Emilie Dequenne). Tidak bekerja dan tinggal berdua saja dengan ibunya, Louise (Catherine Deneuve). Suatu hari, ia bertemu dengan seorang pemuda bernama Franck (Nicolas Duvauchelle), saat tengah bermain roller blade. Lantas mereka kemudian berpacaran, meski Louise sebenarnya kurang setuju jika menilik latar belakang si pria. Franck mengajak Jeanne tinggal bersama sekaligus bekerja sebagai sebuah toko elektronik. Tanpa Jeanne ketahui toko tersebut sebenarnya hanya kamuflase untuk seorang bandar narkoba dimana Franck, yang juga seorang pegulat, bekerja. Saat seorang pria menusuk Franck, terbukalah rahasia itu.

Entah mengapa, mungkin terpengaruh oleh banyaknya berita tentang pelecehan anti-semit, atau tidak puas dengan keadaan yang menimpa kehidupannya, Jeanne pun mengaku jika ia telah menerima perlakuan yang sama. Padahal ia bukanlah Yahudi. Menurut Jeanne, para pelaku menemukan kartu nama pengacara Yahudi ternama, Samuel Bleistein (Michel Blanc) bersama dirinya dan itulah pencetusnya. Sang pengacara sendiri, yang ternyata adalah teman lama Louise, mempunyai masalah sendiri dengan putranya dan juga sang menantu mengenai identitas Yahudi mereka, terutama berhubungan dengan sang cucu yang akan menjalani upacara Bar Mitzwah-nya.

Film dibagi dalam dua bab, yaitu Circumstances dan Consequences. Menilik pembagian tutur cerita ini, jelas film menggali soal sebab-akibat. Pada akhirnya film tidak melulu soal suspensi, thriller atau kejahatan, akan tetapi justru bermain dengan moralitas dan (tentu saja) drama yang terjadi karenanya. Meski begitu, Téchiné tampaknya sengaja membangun rasa penasaran dengan membiarkan kita sebagai penonton menebak-nebak kemana sebenarnya film bergerak atau apa yang sebenarnya ingin diceritakan.

Pada beberapa bagian Téchiné dengan murah hati mengobral plot sementara dibagian lain dengan sengaja menutup-nutupi seolah-olah ada sesuatu yang krusial tengah terjadi. Disatu sisi narasi seolah berjalan melingkar dengan hal-hal trivial yang (sepertinya) kurang penting akan tetapi kemudian ia bertindak dengan sangat impulsif dan signifikan. Inilah yang mungkin menyebabkan terjadinya kebingungan tentang apa yang tengah berlangsung dalam ‘La fille du RER‘ ini.

Akan tetapi, dengan hadirnya kereta api secara terus menerus, nyaris disetiap adegan, menyadarkan saya jika kereta api, atau dalam film ini RER (Réseau Express Régional), merupakan salah satu karakter penting yang memerankan peranan sebagai metafora konteks yang tengah dibicarakan. Jeanne digambarkan sebagai seorang gadis yang naif bahkan terkadang dangkal. Ia kerap menggunakan RER sebagai alat transportasinya. Lantas apa hubungan Jeanne dan RER? Ternyata mereka berfungsi untuk saling menghubungkan. Jika RER menghubungkan antara satu daerah kedaerah lain, maka Jeanne berfungsi untuk menghubungkan karakter-karakter lain yang ada di film.

Bagi Téchiné, pegulatan kelas, ras atau gender tampaknya selalu menjadi isu yang menarik untuk dikulik. Begitu juga dengan film ini. Dengan kehadiran dua keluarga yang tengah berhadapan dengan masalah yang berbeda namun pada akhirnya mendapat penghubung, melalui satu karakter, yaitu Jeanne, maka ‘La fille du RER‘ pun tengah berbicara soal pergulatan kelas dan ras juga gender tadi.

Bagi saya pribadi, ‘La fille du RER‘ memanglah tidak sebernas film-film Téchiné sebelumnya dalam memberi impresi yang kuat. Akan tetapi, dengan didukung oleh akting yang solid dari para pemainnya, ‘La fille du RER‘ tetap menampilkan sebuah drama yang cukup intens untuk diikuti. Lagi-lagi Téchiné membuktikan tidak perlu materi yang terlalu kompleks untuk memaparkan cerita yang sarat kesan. Cukup dengan memelintir hal-hal yang biasa terjadi disekitar kita, dan voilà, sebuah drama menarik pun dapat disimak kemudian.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s