Mildred Pierce (2011) – Sebuah Mini Seri

Mildred Pierce

Mildred Pierce‘ adalah adaptasi kedua dari novel berjudul sama karya James M. Cain (1941), setelah film noir yang kini dianggap klasik, ‘Mildred Pierce’ (1945). Sebagai pengganti Joan Crawford, kini aktris watak Kate Winslet yang mengambil peran karakter yang juga menjadi judul kisah ini. Dan ini bukanlah sebuah remake, karena stasiun televisi HBO khusus mengajak Todd Haynes (Far From Heaven) membuat sebuah mini seri lima bagian untuk menjabarkan kisah panjang Mildred Pierce yang penuh dengan lika-liku.

Berseting di masa krisis ekonomi melanda kehidupan masyarakat Amerika diera 40-an, ‘Mildred Pierce’ adalah sebuah drama yang intens tentang seorang perempuan paruh baya yang berpisah dengan suaminya dan harus membesarkan kedua putrinya. Perempuan itu bernama Mildred (Kate Winslet). Suaminya Bert Pierce (Brian F. O’Byrne) meninggalkan dirinya untuk wanita lain. Akhirnya Mildred yang belum pernah bekerja sebelumnya, selain menyediakan jasa layanan pembuatan kue pie, mengambil kesempatan untuk bekerja sebagai pelayan di sebuah restoran. Semua itu dilakukan untuk memenuhi kebutuhan kedua putrinya, Veda (Morgan Turner) dan Ray (Quinn McColgan).

Beruntung di restoran tersebut ada Ida Corwin (Mare Winningham), karyawan senior yang membantunya. Akhirnya, setelah cukup menguasai seluk-beluk dunia restoran, dengan dibantu oleh Wally (James LeGros), teman Bert, suaminya, dan dukungan sahabatnya Lucy Gessler (Melissa Leo), Mildred membuka usahanya rumah makannya sendiri. Sementara itu, ditengah usahanya yang semakin maju, ia pun berhubungan dengan seorang pria parlente bernama Monty Beragon (Guy Pierce). Di saat lain ia juga berupaya memperoleh respek dan juga rasa kasih sayang dari putri tertuanya, Veda, yang seolah-olah membencinya.

Yep, materi novel James M. Cain ini sangat tepat untuk dikembangkan sebagai sebuah melodrama-cum-opera sabun untuk komnsumsi televisi. Tidak heran, alih-alih sebuah remake, Mildred Pierce pun dibuat ulang dalam bentuk mini seri. Tentu saja tujuannya adalah eloborasi secara lebih mendetil pada perkembangan plot dan juga karakterisasi. Cerita yang ditawarkan sebenarnya memang sederhana saja. Oleh karenanya karakterisasi yang kuatlah kemudian yang menggerakkan ritme dinamika plotnya. Beruntung Haynes didukung oleh barisan pemain yang dengan sangat kredibel memainkan peran mereka. Winslet bermain dengan sangat cemerlang disini. Tentu saja kita tidak usah meragukan kemampuan aktingnya yang versatil. Dengan didukung oleh nama-nama kuat seperti Melissa Leo (yang baru saja memenangkan Oscar untuk ‘The Fighter‘), Guy Pearce, Mare Winningham, maka emosi dan intensitas bisa tersalurkan dengan baik.

Meski begitu, esensi utama dari kisah ini adalah hubungan Mildred dengan putri tertuanya, Veda. Friksi yang terjadi diantara mereka seperti air pasang yang kadang naik namun kadang surut, namun tidak pernah lepas untuk mendeburkan ombak. Sekecil apa pun itu. Veda kecil diperankan dengan baik oleh Morgan Turner. Ia cukup mampu menandingi akting Winslet yang kuat, meski terkadang dibeberapa bagian terasa sedikit berlebihan dan over-akting, jika tidak mau dikatakan terlalu memaksa diri. Sementara itu Veda dewasa diperankan dengan gemilang oleh Evan Rachel Wood. Meski hanya kebagian jatah dua episode terakhir saja, namun Wood mampu dengan baik meneruskan karakter yang telah dikembangkan oleh Morgan Turner dan sekaligus memberi perkembangan yang cukup signifikan.

Todd Haynes cukup berhasil membangun plot yang mengikat, meski jujur saja dua episode awal terasa kendor dan sebenarnya dapat dipadatkan untuk mempercepat pace. Ibarat drama tiga babak, dua episode awal adalah pengenalan karakter dan konflik. Sayang, rasanya terlalu bertele dengan tempo yang draggy. Bahkan, meski sudah diberi jatah dua episode, tidak ada detil latar belakang yang benar-benar jelas sebagai latar belajang konflik. Barulah memasuki episode ketiga, cerita mulai menunjukkan arah hendak kemana tujuannya dengan munculnya konflik-konflik tajam yang memenuhi durasi. Akhirnya, cerita pun ditutup dengan epilog yang cukup menguras emosi, baik bagi kita sang penonton maupun, tentu saja, karakter-karakternya.

Kelebihan lain dari pengarahan Haynes adalah detil yang mengagumkan. Setting, tata busana, musik, bahkan aksentuasi dialog diperlakukan seolah-olah ini adalah sebuah film yang berasal dari era tersebut. Tentu saja ini sangat berguna untuk membangun kesan otentik yang alami dan meyakinkan.

Mungkin akan tidak adil jika membandingkan mini seri ini dengan adaptasi versi filmnya, karena pada dasarnya mempunyai media cerita yang sedikit berbeda. Skrip yang dikerjakan oleh Todd Haynes dan Jon Raymond tampaknya ingin menerjemahkan secara utuh esensi ceritanya dengan bersikap setia pada materi yang terdapat dalam novelnya. Tentu saja penyesuaian dengan konsep serial ataupun mini seri mengharuskan mereka untuk memberi akhir menggantung dalam setiap episodenya, yang saya yakin pastilah tidak terdapat didalam novelnya.

Meski ada beberapa cacat cela, namun ‘Mildred Pierce’ adalah sebuah mini seri yang mempunyai nuansa dramatis serta kedalaman yang cukup solid. Meski tidak mamakai gaya suspensi ala film noir layaknya versi tahun 1945, akan tetapi ‘Mildred Noir’ tetap sebuah karya yang cukup istimewa dan menarik untuk diikuti.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s