Film Review: Eat Drink Man Woman (1994)

Eat Drink Man Woman‘Eat Drink Man Woman‘ (Yin shi nan nu – 饮食男女) mempunyai banyak kesamaan dengan film Ang Lee sebelumnya, ‘The Wedding Banquet’ (1993). Tidak hanya sebagai ajang reuni Lung Sihung, Gua Ah Lei dan Winston Chao dan keberhasilan dalam mendapatkan nominasi sebagai film berbahasa asing terbaik di anugerah Oscar dan Golden Globe, akan tetapi juga persamaan dalam tema dan juga pendekatan film terhadap narasi yang dirangkainya. Sebuah komedi satir yang dimulai seolah-olah sebuah drama serius yang melodramatis, namun berkembang menjadi serangakain tawa lirih yang menyindir sikap dan prilaku manusia, yang kadang memang sulit tertebak.

Tidak hanya itu, konsep hubungan orang-tua anak yang dilematis kembali lagi menjadi acuan Ang Lee dalam menjabarkan kisahnya. Dengan personifikasi makan dan minum yang menjadi kebutuhan sehari-hari setiap orang, maka Lee menegaskan, meski remeh, akan tetapi mereka adalah pondasi mendasar dalam kehidupan kita.

Dibuka dengan kesibukan seorang pria paruh baya bernama Pak Chu (Lung Sihung) yang tengah mempersiapkan hidangan makan malam bagi ketiga putrinya, Jia-Jen, (Yang Kuei-Mei), seorang guru yang sinis karena duka patah hati yang pernah dideritanya, Jia-Chien (Wu Chien-lien), seorang wanita karir yang tampaknya mewarisi keahlian memasak sang ayah dan si bungsu Jia-Ning ( Wang Yu-wen) yang ceria. Acara makan malam mingguan dengan hidangan lezat yang berlimpah ini telah menjadi semacam ritual bagi keluarga mereka, sehingga meski enggan, ketiga putrinya tetap mengikutinya dengan takzim.

Sulit untuk mengindarkan terbitnya air liur saat menyimak film ini. Penggambaran Lee terhadap proses pembuatan makanan begitu terampil dan elaboratif. Setiap detil begitu diperhitungkan dan tangkas.  Ketika akhirnya barisan makanan tersebut terhidang di meja dengan indahnya, kita hanya bisa mengeluh, mengapa menonton film ini saat perut tengah kosong, hahaha.

Pentingnya pamer kelihaian Pak Chu ini bagi Lee mungkin untuk memperlihatkan kepada kita bahwa selain sebagai seorang chef handal (beliau juga bekerja disebuah restoran terkenal), Pak Chu juga seseorang yang sangat memerhatikan detil dan mungkin juga perfeksionis. Sebagai seorang ayah tunggal yang harus menghadapi tiga orang putri, ia berusaha semampunya untuk memahami dan mengakomodir kebutuhan mereka.

Namun ketiga putrinya adalah perempuan-perempuan kontemporer yang dalam pilihan hidupnya terkadang bertentangan dengan prinsip sang ayah. Seolah-olah perbedaan prinsip antar generasi tak lekang oleh zaman, maka film juga memperlihatkan situasi tersebut dalam sebuah kekikukan rutinitas makan bersama yang mereka lakukan. Pada akhirnya, momen tersebut mereka pilih untuk menyampaikan uneg-uneg yang terpendam dibenak mereka.

Mungkin ada alasan mengapa Emma Thompson memilih Ang Lee untuk mengarahkan adaptasi Jane Austen yang ditulisnya, ‘Sense And Sensibility’ (1995), karena ‘Eat Drink Man Woman’ memang mengingatkan akan karya-karya novelis klasik Inggris tersebut. Plot yang melodramatis akan tetapi kritis, karakter-karakter perempuan yang melawan struktur, karakter-karakter lelaki yang dilematis dan tentu saja romansa yang berbelit.

Akan tetapi film juga tidak melulu terbuai dalam sentimen perasaan yang mengharu biru. Alih-alih, ia memamerkan kecerdasan dalam memerangkap fakta sosial akan pergeseran nilai dan adaptasi terhadap perubahan sosial. Karakter Pak Chu digambarkan dengan sangat menarik oleh Lee. Ia mungkin bukan seorang kharismatis. Bahkan kita dapat mengendus kekesalan putrinya, terutama Jia-Chien, kepada sang ayah. Namun sulit untuk tidak menyukai dirinya, karena kita dapat merasakan setiap emosi yang diperlihatkannya.

Begitu juga dari sisi para putrinya. Mereka seolah terperangkap dalam imaji  klasik sebagai seorang anak yang harus selalu patuh dan berbakti terhadap orangtuanya, namun disisi lain modernitas  menyebabkan mereka mempunyai pilihan-pilihan hidup yang (sebenarnya) bisa mereka jalani. Namun selama ini mereka menekan keinginan tersebut.  Dengan menetap bersama sang ayah, meski secara finansial mampu untuk mandiri, menunjukkan bahwa mereka seolah terperangkap dalam kungkungan tradisional untuk selalu mengikuti perkataan orang tua.

Layaknya sebuah makanan yang kerjakan oleh koki yang sangat handal, ‘Eat Drink Man Woman’ diolah dengan bahan-bahan yang berkualitas dan dikerjakan dengan sangat terampil. Hasil akhirnya adalah sebuah hidangan yang terlihat mengundang selera dan tidak hanya lezat namun juga bergizi. Saran saya, selama menontonnnya, perbekali diri dengan banyak makanan, agar tidak “tersiksa” :).

Advertisements

One thought on “Film Review: Eat Drink Man Woman (1994)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s