Film Review: Insidious (2010)

Insidious

Kapan terakhir kali menonton sebuah film horor yang benar-benar menakutkan? Tidak hanya membuat kita menjerit-jerit juga merasa tercekam oleh situasi dan atmosfir yang terdapat di dalam sebuah film horor? Terus terang kalau saya ditanya, saya juga lupa. Terakhir kali saya merasakan itu mungkin saat menonton ‘Pocong 2’ (2006), dan sampai kemudian akhirnya saya berkesempatan untuk menonton ‘Insidious’, sebuah horor psikologis yang benar-benar mengandalkan suasana seram dan menegangkan, ketimbanb banjir darah atau potongan tubuh. Yang lebih memuaskan lagi, film ini sangat menyeramkan!

Premis ‘Insidious’ sebenarnya sederhana saja bahkan cenderung memakai arketipe film-film sejenis. Sepasang suami istri, Josh (Patrick Wilson) dan Renai Lambert (Rose Byrne) baru saja pindahan kesebuah rumah, bersama dengan tiga anak mereka, Dalton (Ty Simpkins), Foster  (Andrew Astor) dan Cali yang masih batita. Tidak lama, Dalton mengalami insiden kecil, ia terjatuh dari tangga. Luka yang dideritanya sama sekali tidak  berbahaya, namun keesokan harinya ia ditemukan koma. Tiga bulan kemudian, Dalton masih tergeletak koma yang kini merawati perawatan dirumah saja. Namun, kemudian Renai mulai merasakan keganjilan. Ia merasa diganggu oleh sosok-sosok misterius yang ia yakini bukan manusia. Renai yakin jika rumah mereka berhantu.

Disaat karakter-karakter di film sejenis malah berlama-lama di rumah yang dikira angker, karakter di film ini cukup cerdas dengan serta-merta memutuskan untuk pindah kerumah yang lain, meski sebenarnya Josh tidak terlalu percaya dengan ketakutan sang istri. Namun ternyata pindah rumah bukan solusi terbaik bagi mereka, karena tetap saja segerombolan mahluk halus kerap mengantui mereka. Akhirnya Josh pun percaya dengan ketakutan istrinya. Atas inisiatif ibunya Josh, Lorraine (Barbra Hershey), mereka  akhirnya memanggil seorang cenayang bernama Elise Reiner (Lin Shaye) yang dibantu oleh dua orang ahli mahluk gaib yang dipersenjatai perlengkapan moderen, Specs (Leigh Whannell) dan Tucker (Angus Sampson), untuk membantu Lambert sekeluarga dalam menghadapi gangguan mahluk halus tersebut. Lantas, apa latar belakang terror ghaib tersebut?

Sungguh tidak menduga jika duo James Wan-Leigh Wannel, yang pada tahun 2003 silam berhasil membuat hati miris melalui jebakan-jebakan berdarah di SAW, memilih pendekatan yang sangat jauh berbeda dalam film horor terbaru mereka ini. Wan sebenarnya telah mencoba mengarahkan film bergaya horor atmosferik dalam Dead Silence (2007). Sayangnya, film tersebut tidak begitu berhasil dalam menyampaikan kengerian yang seharusnya menjadi esensi sebuah film horor. Tampaknya, belajar dari kekurangan film tersebut Wan menebusnya dengan mengganjar ‘Insidious’ dengan barisan kengerian yang bahkan sudah menggedor nyali semenjak film dibuka.

Kelebihan ‘Insidious’ adalah betapa efektinya kengerian dibangun melalui penempatan sudut-sudut pandang kamera yang tepat guna, sehingga atmosfir suram yang mencekam dapat terbangun dengan baik. Bahkan pada paruh pertama film dengan begitu solid mengungkung kita dengan kengerian berbekal minimnya informasi tentang hal yang tengah terjadi dilayar. Saat kemudian film mulai memberi penjelasan tentang anomali yang terdapat difilm, unsur seram dan misterius memang agak sedikit berkurang, namun film tidak pernah kehilangan momentum kejutnya.

Yang menarik untuk dicermati dari ‘Insidious’ adalah betapa terampilnya Wan merangkai filmnya untuk tidak hanya mengalir secara lancar, akan tetapi juga sangat memerhatikan kapan presisi keseraman harus hadir dan kapan film mengendurkan tensi dengan memberi asupan kelucuan yang mengapungkan ironi dipermukaan kisahnya. Meski Wan mengerjakan film ini dengan serius, namun ia juga sadar betapa basi sebenarnya cerita yang ditawarkannya, sehingga ia memilih untuk bermain-main dengan formula, sebagai rangkaian homage terhadap film-film hantu klasik yang dulu terlah berhasil “menghantui” penonton.

Apakah terlalu dini untuk mengklaim ‘Insidious’ sebagai sebuah horor klasik? Mungkin saja. Tapi ditengah keringnya fim-film horor yang benar-benar mampu menangkap esensi sebuah horor, jelas film ini terasa sangat superior. Sebuah film yang dengan jeli membangun salah satu naluri dasar manusia kepermukaan,  yaitu rasa takut. Rasa takut yang muncul karena terbitnya rasa percaya terhadap hal yang dilihatnya di layar. Dan Wan berhasil membangun kepercayaan kita terhadap hal-hal supernatural yang terjadi dihadapan kita, seolah-olah kita pun terlibat di dalamnya. Mengungkung rasa penasaran yang kemudian berujung pada rasa takut.

Jadi, kalau ingin merasakan sensasi seram dan jejeritan dalam menonton film horror, jelas ‘Insidious’ adalah pilihan teratas. Adu nyali pun kemudian tidak perlu harus menghadapi jurig beneran, hahaha.

Advertisements

25 thoughts on “Film Review: Insidious (2010)

  1. cella says:

    padahal pas masuk g pikir,’ ah paling jg gt2 doang seremnya. Ternyataaaa….. uda pengen cepet udahan aja pas nontonnya. Si muka merahnya itu loh!!! Najis tralalala deh kalo nonton 2 x.

  2. Lina says:

    film horor yang paling bagus..two tumbs up..
    horornya alami banget, efeknya kejutnya keren..bikin ga bis tidur semalaman.
    ada lagi film kaya gini ga ya ?

  3. pengamat film horror says:

    Ini adalah satu film horror yg seram dan menakutkan tanpa kita harus khawatir munculnya darah berliter-liter yang berhamburan spt film saw dan lanjutannya. Adegan paling seram menurut saya pada saat ayahnya dalton berhasil keluar dr tubuh dan ke “dunia lain” dan sampai jalan ke rumah lama yg mana dia bisa ngeliat langsung hantu2 yg selama ini mengganggu…wah seram…Two Thumbs up untuk film ini…padahal expectasy sy pertama biasa saja liat covernya paling cerita rumah berhantu doang…ternyata tidak sesederhana itu…mantab

  4. Abang Fadli says:

    Yang paling seram beberapa itu ketika si gendut rambut pirang tapi brewok hitam (?) foto kamar dalton dengan 3 warna, yang ketiga fotonya ada hantunya terus nyengir, terus pas Lorraine cerita “I can still hear the voice” langsung ada demon muka merah di belakang josh, terus ketika josh melirik sebentar ke atas tangga terus melihat ke ruang tengah, ada 4 hantu di hadapan dia dengan nyengir (yg ada adegan tembak2an) .

    Kalo di poster itu yg keliatan seram si anak kecil, tapi bukan itu yg seram.
    Si Josh masih ada di dunia lain kan? masalanya tubuh si josh udah dimasukki nenek2, si Dalton juga belum difoto jadi belum tau yang masuk itu siapa. Yah, semoga ada sequelnya.

  5. reyno says:

    Jujur, setelah nonton film ini, saya merasa parno. Pulang kerumah saya masih kebanyang mengingat iblis,setan,hantu, jin dan mahluk serem lainnya di film tersebut. Pada saat bercermin pas cuci mukapun parno saya makin menjadi-jadi, yaitu saya membayangkan takut ada bayangan makhluk lain yang muncul dibayangan cermin disaat saya sedang berkaca. Untuk tidur pun saya terpaksa tidak mematikan lampu, saking rasa takut saya yang benar2 dihatui gara-gara film horor sialan tersebut …

  6. parno says:

    teman teman sudah pada cek foto foto kalian blom ? x aja selama ini kelewatan..ada yg ngikut difoto juga dilatar belakang kalian. he he he

  7. adil hijri muhammad says:

    emang horror the best yg ini… :)) di blog ku ada sinopsis film2 horror lainnya yg juga ga kalah keren gan… silahkan liat kalo tertarik… :)) ada di menu all about movies, submenu ‘sinopsis horror thriller’ atau ‘twist endings’…

  8. adil hijri muhammad says:

    ohh.. trnyata directornya juga yg bkin SAW and dead silence yaa… hmm…. tpi emg bner film ini sangat “superior” dibanding horror lainnya… hehee…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s