Film Review: Source Code (2011)

Source Code

Source Code’ trailer and poster doesn’t give this film justice. Mengindikasikan film sebagai sebuah sebuah mega-blockbuster dengan konsep fiksi-lmiah yang mengedepankan visual yang dijamin memanjakan mata atau cerita yang ruwet. Saya tidak akan membiarkan ekspektasi anda berada di tempat yang salah. ‘Source Code’ bukan film seperti ini. Bahkan ini adalah jenis film yang mempunyai cerita yang cukup sederhana dan  juga lebih memilih pendekatan yang lebih menekankan pada unsur drama dalam menyampaikan ceritanya.

Dibuka dengan seorang pria yang bernama Colter Stevens (Jake Gyllenhaal) yang terjaga disebuah kereta api tanpa menyadari kapan ia berada di tempat itu. Di depannya duduk seorang perempuan yang tampaknya mengenal dirinya dengan akrab. Nanti Colter akan mengetahui jika si perempuan bernama Christina (Michelle Monaghan). Si perempuan memanggil dirinya dengan Sean Fentress, nama yang  asing ditelinganya. Kebingungannya semakin bertambah saat Colter yang merupakan seorang pilot helikopter kesatuan tentara Amerika ini melihat sosok yang sama sekali berbeda di cermin. Ditengah kekalutannya, tiba-tiba kereta yang ditumpanginya itu meledak berkeping-keping!

‘Source Code’ punya materi yang ideal untuk sebuah fiksi ilmiah yang mengedepankan unsur misterius dan menginginkan penontonnya untuk menebak-nebak apa gerangan yang terngah terjadi. Tapi tidak. Skrip yang dikerjakan Ben Ripley memberikan semua penjelasan yang diperlukan. Setelah peledakan terjadi, tidak lama Colter terbangun disebuah ruangan yang sangat sempit dengan tubuh terikat. Di depannya terdapat seorang perempuan di dalam sebuah monitor. Perempuan itu bernama Colleen Goodwin (Vera Farmiga), seorang kapten dari Angkatan Udara. Dengan instruksi-instruksi yang membingungkan, Goodwin berusaha membimbing Colter akan tugas yang harus diembannya, menemukan pelaku peledakan kereta api tersebut.

Melalui skema ilmiah yang rumit, ternyata Colter berada di sebuah proyek pemerintah yang prestesius. Kemampuan otak saya tidak begitu canggih untuk menyerap penjelasan tentang skema teknologi yang diberikan oleh Dr. Rutledge (Jeffrey Wright), pimpinan proyek ini, namun satu yang pasti, Colter akan mampu kembali ke momen delapan menit terakhir seorang pria bernama Sean Fentress. Dan ia akan berulang-ulang menjadi Sean Fentress selama delapan menit, sampai bisa menemukan pelaku peledakan.

Setelah menyaksikan filmnya, saya mau tidak mau membayanglan film ini sebagai varian ‘Groundhog Day’ yang dipadu dengan ‘Jacob’s Ladder‘ dan ‘Deja-vu’. Yep, setiap elemen film yang saya sebutkan tadi terdapat dalam ‘Source Code’ Semoga saja ini bukan sebuah spoiler, tentu saja. Akan tetapi film ini mempunyai momentumnya sendiri yang membedakan dirinya dengan film-film tersebut. Perkembangan cerita sungguh tidak terduga, saat alih-alih berbicara tentang suspensi (jangan kuatir, film tetap menyediakannya), aksi-laga atau pamer efek khusus, ‘Source Code’ justru berbicara dalam konteks yang lebih humanis dan emosionil.

Dalam film pertamanya, ‘Moon’, Duncan Jones mengembangkan sebuah fisi ilmiah  dengan atmosfir yang gelap dan humor yang satirikal. Sesuatu yang mungkin tidak banyak terdapat dalam film ini, dimana Jones lebih memilih untuk pendekatang yang lebih membumi dan mengedepankan perkembangan emosionil seorang Colter Stevens dalam menghadapi kenyataan yang saat ini menimpa dirinya. Pada akhirnya plot kemudian menjadi alat untuk mendorong dan pemicu sebuah filosofi tentang berharganya waktu dan pentingnya untuk mengapresiasi setiap kesempatan yang kita punya.

Colter Stevens: What would you do if you knew you only had one minute to live?
Christina Warren: I’d make those seconds count.

Interaksi Colter dengan Christina adalah magma utama dalam perkembangan cerita. Repetisi waktu yang harus dialami oleh Colter mengizinkan dirinya, dan juga film, untuk merekonstruksi plot  sedemikian rupa dan membiarkan Colter untuk berdamai dengan dirinya juga beradaptasi dengan kehadiran sosok yang sama sekali baru dalam hidupnya. Sementara itu karakter Goodwin, selain menyediakan asupan informasi, juga berperan sebagai katalis bagi determinasi Colter dalam sikap dan tindakannya. Pada akhirnya, film memang bergerak berdasarkan interaksi personal ketiga karakter ini, meski sudut pandang jelas diambil dari perspektif Colter.

Dibandingkan kebanyakan fiksi ilmiah yang berbicara tentang ironi, kritik terhadap masa sekarang  atau kemuraman atas teknologi yang terkadang berada diluar batas nalar, ‘Source Code’ malah menjadikan teknologi sebagai alat yang untuk mencapai kesadaran yang lebih prinsipil. It’s a mind bending film, but works in more psychological platform. Tanpa embel-embel suspensi dan teknologi tingkat tinggi tersebut, ia justru hadir sebagai kontemplasi tentang takdir dan pilihan-pilihan yang membentuknya. Dan jika perlu repetisi delapan menit bagi seorang Colter Setevens untuk membuka tabir jalan hidupnya, maka itu adalah delapan menit yang berharga.

Terlepas dari kekurangan-kekurangan logis yang cukup fundamental, ‘Source Code’ memberikan kita  sebuah pengalaman yang jenial dan meski dramatis, ia mampu membangun sebuah  stuktur cerita yang solid.  Ada ketegangan, ada fakta-fakta ilmiah, ada suspensi dan juga ada drama. Mengutip perkataan “villain” di film ini, terkadang masa depan perlu dibangun dari puing-puing, maka ‘Source Code’ pada awalnya seperti puing-puing berserakan yang harus menjadi dasar bagi Colter Stevens tidak hanya melaksanakan tugasnya, namun juga untuk berdamai dengan masa lalu dan bersiap akan masa depan yang akan dijelangnya. Pada akhirnya, saya menolak untuk menyebut ‘Source Code’ sebagai sebuah fiksi-limiah canggih. Ia adalah sebuah drama menyentuh tentang kesadaran humanis yang emosionil.

PS + Minus Spoiler
Scott Bacula, dari serial terkenal ‘Quantum Leap’, mengisi vokal ayah Colter Stevens. Anyone, does it ring a bell? *wink*

Advertisements

3 Comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s