Film Review: Di Bawah Lindungan Ka’bah (2011)

Mengadaptasi sebuah novel ke dalam bentuk film bukan perkara mudah. Sebuah film hasil adaptasi haruslah memaparkan esensi novelnya, namun disaat lain juga harus melakukan banyak kompromi dengan keterbatasan dirinya sebagai sebuah medium audio-visual. Sementara bagi para pembaca yang telah familiar dengan materi aslinya akan selalu menemui dilematika saat menyaksikan sebuah film yang diangkat dari novel yang telah dibacanya tersebut, terutama jika terjadi penyimpangan yang cukup substantif.  Meski begitu, tidak jarang sebuah film berhasil dalam melakukan komprominya, dengan tetap menarik benang merah materi aslinya akan tetapi juga cukup cermat dalam menerjemahkannya kedalam bahasa gambar. Di Bawah Lindungan Ka’bah (DBLK) adalah sebuah novel klasik karya salah seorang pujangga kenaaman Indonesia, Haji Abdul Malik Karim Amrullah atau yang lebih dikenal dengan Hamka. Novel terbitan Balai Pustaka terbitan tahun 1936 itu saat ini dikenal sebagai salah satu sastra klasik legendaris, sehingga tidak mengherankan ekspektasi kemudian meninggi saat mendengar kabar jika novel tersebut akan difilmkan kembali.

Benar sekali. Ini bukan kali pertama DBLK diadaptasi dalam bentuk film, setelah sebelumnya di tahun 1977 silam, sineas kenamaan Asrul Sani menghasilkan film berjudul Para Perintis Kemerdekaan. Meski bergeser cukup jauh dari novelnya, namun film tersebut dipuji karena mampu mereka sebuah kisah yang tidak hanya memberangus kondisi sosio-kultural masyarakat Minang (dimana novel berlokasi) secara efektif, akan tetapi juga menjadi sebuah kritisi politis yang tajam (pada jamannya). Kini, di tahun 2011, sineas yang terkenal dengan deretan film-film romantisnya, Hanny R. Saputra (Heart) rupanya tergerak untuk mereka ulang novel tersebut dalam bentuk film.

Fikiran segera membentuk beberapa pertanyaan: apa urgensi seorang Hanny hendak menceritakan ulang kisah klasik ini; sudut pandang apa yang akan dipakai oleh film ini; dan, apakah film ini akan mampu menangkap esensi cerita yang ditawarkan Hamka dalam kisahnya? Ternyata terlalu naif jika menganggap DBLK versi baru ini akan menjadi sebuah tontonan berkelas dan tajam. Seharusnya rasa curiga sudah terasah dengan adanya nama-nama yang berada dibelakang pengerjaan film ini. Seharusnya…seharusnya.. Ah, sudahlah.

DBLK ternyata adalah ambisi lainnya seorang Dhamoo Punjabi untuk menciptakan “film fenomenal” lainnya, setelah kesuksesan Ayat-Ayat Cinta (2007) yang diklaim sebagai tandingan Indonesia akan Kuch Kuch Hota Hai (1998) (sic). Maka DBLK adalah upaya untuk menyamai epik romansa Titanic (1997) yang fenomenal. Entah dia terlalu naif atau tolol, namun jelas terendus jika ketamakan adalah motivasi utama, sehingga tega “memperkosa” sebuah karya klasik sehingga tidak ubahnya menjadi sebuah chick-lit. Kelas kacangan pula.

Dalam novelnya, romansa seorang Hamid yang berasal dari strata bawah dengan seorang Zaenab dari tingkatan diatasnya adalah gambaran kritis bagaimana sistem di masyarakat menjadi sebuah aral dalam sebuah interaksi personal. Bagaimana sistem menghancurkan tidak hanya asa, impian tapi juga cinta. Dan semua digambarkan dengan begitu puitis dan penuh makna oleh Hamka. Alih-alih mengumbar romansa picisan, DLBK versi novel berbicara dalam tataran filosofis dan tentunya sastra. Tidak dapat dipungkiri kalau dalam konteks kekinian, gaya bahasa dan cerita Hamka dalam novel tersebut akan terkesan kolot dan juga membosankan. Diperlukan sebuah aktualisasi yang matang jika memang hendak menceritakan kisah baheula tersebut dalam koridor dan kemasan kekinian.

Sayangnya, skrip yang dikerjakan oleh Titien Wattimena dan Armantono terlalu berlama-lama dengan romantisme. Masalahnya, pola yang dipakai juga sudah basi dan membosankan. Salah besar jika mereka mengira penonton akan terlena dengan cerita klise dan juga solusi gampangan yang ditawarkan. Demi kemasan ringan yang (diduga) menjual tersebut, esensi novel tega dikorbankan dengan melakukan penyederhaan cerita dan juga karakterisasi.

Tentu saja film versi Asrul Sani cukup menyimpang dari materi aslinya, akan tetapi ia setia dengan atmosfir juga moral yang terdapat dalam bukunya, sehingga deviasi yang terjadi dapat ditoleransikan dan malah menghasilkan sebuah karya yang tak kalah berkelasnya dengan versi aslinya. Sementara DBLK versi Hanny adalah reka ulang kesekian kalinya dari kisah basi dua orang insan yang terpaksa memendam cinta mereka akibat perbedaan kelas. Sayangnya karakter mereka terlalu kosong dengan motivasi untuk memperjuangkan kisah mereka dan malah cenderung apatis juga statis. Alterasi yang dilakukan justru menjauh dari kisah yang lebih inventif apalagi inspiratif. Kecurigaan jika sebenarnya Hanny justru merekaulang filmnya sendiri, Love Story (2011), akhirnya menjadi besar, mulai dari kemiripan dalam treatment cerita sampai penggunaan atmosfir dan ambience yang setipe (baca: sedih tak berkesudahan).

Kalau masih ingat, TVRI dahulu sekali pernah menayangkan miniseri yang juga diangkat dari novel-novel Balai Pustaka. Siti Nurbaya dan Sengsara Membawa Nikmat adalah dua judul yang begitu berkesan bahkan mungkin hingga sekarang. Jika dibandingkan dengan DLBK yang diberkahi dengan bujet (yang katanya) fantastis, kedua miniseri tersebut tampil dengan jauh lebih sederhana dan membumi. Namun mereka justru sangat efektif dalam melakukan proses tranfer media tulisan menjadi audi-visual yang menarik. Mereka dengan jujur tidak hanya berhasil mencerita-ulang kisah klasik tersebut akan tetapi juga mampu berkomunikasi dengan baik kepada para penontonnya.

Jika harus membanding-bandingkan, DLBK tidak lain hanya sebuah produk komersil yang bertujuan mengeruk uang penontonnya dengan mengira kisah klise adalah yang diharapkan oleh penontonnya. Sayangnya mereka lupa, penonton dapat dengan mudah mendapatkan hal tersebut melalui kotak televisi yang dengan rajin menayangkan serial-serial semenjana yang bertaburan setiap harinya. Pada akhirnya DLBK adalah sebuah film yang terperangkap didalam mesin waktu dan seolah enggan keluar, namun berkeras mempertahankan kontemporeritasnya, layaknya salah satu produk kacang yang dengan rajin tampil dalam berbagai adegannya dan dengan sangat percaya diri yakin kalau dirinya adalah sebuah “karya” klasik.

Advertisements

One thought on “Film Review: Di Bawah Lindungan Ka’bah (2011)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s