Film Review: Final Destination 5 (2011)

Final Destination 5

Dalam semesta Final Destination, kematian selalu punya skema untuk setiap orang. Tidak akan bakal bisa menghindari kematian, meski untuk sementara kita mengira bisa mencurangi dirinya, karena ia akan kembali datang, menuntut haknya dengan sedikit bunga. Yah, tidak sedikit juga. Agak berlebibah malah. Demikan yang selalu terjadi. Bahkan dalam seri kelimanya ini, Final Destination akan mengkespos kematian dalam sebuah pola yang tidak acak, tersusun rapi dan pastinya berimbah darah.

Semua yang kita harapkan dari sebuah film Final Destination akan kita temui disini. Sebuah kecelakaan yang masif. Sekelompok orang yang selamat karena salah seorang dari mereka tiba-tiba mendapat “visi”. Dan kematian kembali dalam cara yang luar biasa tragis.  Setelah pesawat terbang, kecelakaan lalin, rollercoaster, dan mobil balap, maka kali ini musibah yang terjadi saat sebuah jembatan rubuh. Yang pasti, penggambaran untuk adegan rubuhnya jembatan ini dieksekusi dengan sangat baik sekali. Perpaduan efek khusus dan ketangkasan para kru film dalam memberi kita sebuah kecelakaan yang tidak hanya terasa real namun juga mengerikan dan intens. efektif dalam memberi efek mencekam. Terbaik setelah Final Destination 2.

Pastinya kredit memang harus diberikan kepada Steven Quale. Setelah sebelumnya James Wong dan David R. Ellis saling bergantian menangani seri ini, sudah seharusnya mendapat asupan nafas segar. Dan Quale cukup berhasil menjalankan tugasnya. FD5 kali ini lebih memberikan ruang untuk membangun suspensi, ketimbang tiba-tiba mengagetkan kita dengan kematian. Justru karena itu, intensitas menjadi lebih terbangun. Atmosfir kelam pun diinfusi dengan lebih penuh, mengingatkan akan seri pertamanya. Tentu saja, beberapa humor masih dimasukkan, namun terasa gelap dan penuh ironi. Kredit untuk sang, penulis skrip, Eric Heisserer.

Heisserer tampaknya juga berminat agar kita terikat dengan karakter-karakternya. Oleh karenanya ia membiarkan adegan berjalan sedikit perlahan agar penonton dapat mengenal mereka sebagai individu yang awam, bukan hanya sekedar karakter dalam sebuah film horor yang ujung-ujungnya toh bakal tewas juga. Kita dibiarkan perduli pada mereka, sehingga saat kematian menjemput, kita merasakan simpati kepada karakter tersebut dan menjadi tidak rela jika mereka mati. Good job, Heisserer!

Masalahnya, FD5 tetap saja terasa seperti sebuah film yang miskin dalam pergerakan cerita. Segalanya sudah terkonsep dalam pola dan pada akhirnya karakter-karakter memang hadir untuk mengisi pola tersebut. Pola kematian lebih tepatnya. Hey, bukankah FD tidak lain dan tidak bukan adalah salah satu varian dari film-film slasher yang mengandalkan bodycount? Cerita yang brilian tidak diperlukan disini. Namun begitu, upaya FD5 untuk memberikan sedikit twist and turn boleh diberi kredit lebih untuk menghindarkan monotinitas.

Akting para pemainnya juga tidak luar biasa. Bahkan Emma Bell sendiri tampil jauh lebih gemilang dalam Frozen (2010) yang berkualitas semenjana. Tapi sebagai salah seorang karakter utama, ia boleh dibilang sudah cukup memberikan asupan enerji dan vitalitas yang diperlukan. Sang aktor utama, Nicholas D’Agosto, agak keteter diparuh awal, meski kemudian membaik saat film memasuki paruh akhir.

FD5 adalah sebuah jenis film eskapis, jadi jangan berharap banyak akan batas realita atau seberapa banyak akal yang dicurangi. Satu yang pasti, sekali lagi ia membuat kita terjerat dalam fiksi gelapnya dan merasa was-was saat keluar dari gedung bioskop, mengira jia hal yang sama akan terjadi pada diri kita. Hahaha. Yah, bagi siapa pun yang menggemari serial ini, FD5 is a must, tentu saja. Watch it on 3D, kalau mau. Tapi satu yang harus diwanti-wanti; persiapkan perut untuk setiap kesadisan pangkat tiga yang terpampang dilayar.  Jangan sampai muntah di bioskop, yah?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s