Film Review: The Sorcerer and the White Snake (2011)

Legenda si Ular Putih. Siapa yang tidak mengenal kisah dongeng yang berasal dari negeri Tiongkok ini? Mulai dari panggung tonil, theater, sandiwara hingga tentu saja layar perak dan serial televisi. Mungkin masih ingat dengan serial  fenomenal White Snake Legend yang dulu ditahun 90-an diputar di salah satu stasiun televisi swasta? Serial berupuluh-puluh episode itu rasanya cukup lengkap dalam menggambarkan kisah klasik ini. Meski begitu, satu yang paling berkesan sebenarnya adalah versi film karya Tsui Hark yang berjudul Green Snake (1993), dimana sutradara kawakan tersebut merangkai sedemikan rupa dongeng ini menjadi sebuah film art-house yang sangat berkesan. Meski film lebih menitik beratkan pada karakter si ular hijau yang diperankan oleh Maggie Cheung, namun secara garis besar film masih berada dalam koridor dongengnya.

Kini, sutradara dan koreografer laga beken asal Hong Kong, Tony Ching Siu-tung (A Chinese Ghost Story, Swordsman II) berniat mengangkat kembali dongeng tersebut dan mengupdatenya dalam konteks yang lebih mutakhir dalam sebuah film yang berjudul The Sorcerer and The White Snake (Bái Shé Chuán Shuō Zhī Fǎ Hǎi – 白蛇傳說之法海). Tentu saja dengan keberadaan nama Jet Li sebagai aktor utama, jelas film mengindikasikan bahwa laga akan mendapat porsi yang utama dari keseluruhan jalinan ceritanya. Dan tampaknya memang Tony berniat untuk mengeksploitasi Li dengan maksimal, sehingga mayoritas adegan yang harus dijalani Li mengharuskan dirinya untuk terlibat dalam pertarungan atau adegan yang membutuhkan kemampuan fisik lainnya. Kabarnya Li sempat mengeluh karena adegan tarung yang dilakukan serasa tiada berkesudahan.

Namun, Li bukan hanya atraksi utama The Sorcerer and the White Snake, karena film juga menjadi ajang pamer efek khusus yang tampaknya dikerjakan dengan serius dan maksimal. Meski harus diakui kualitas CGI yang ditawarkan oleh film ini terasa agak kurang halus dan mentah, namun setidaknya mampu memberi kesan megah dan menakjubkan yang ingin dikejar oleh Tony.

Nah, disinilah kemudian letak masalahnya. Demi adegan laga dan efek khusus yang spektakuler, Tony agak sedikit mengorbankan jalan ceritanya. Secara umum, kisahnya masih dalam garis merah yang sama, sepasang siluman ular, putih dan hijau, bernama Pai Su-chen (Xu Xu dalam versi film ini) dan Siau Qing (Qing Qing) berkenalan dengan seorang pria lugu bernama Xi Xian. Xu Xu dan Xu Xian kemudian saling jatuh cinta dan memutuskan untuk menikah. Sampai Fahai, seorang rahib sakti mengetahui hal ini dan kemudian mencoba memisahkan mereka.

Terlepas dari unsur fantasi dalam kisahnya, hakekatnya kisah si Ular Putih adalah sebuah cerita yang romantis, sehingga kebanyakan interprestasi memang lebih menekankan pada romansa dan juga tragedi dalam kisahnya. Bisalah disebutkan bahwa keindahan cinta sejati dalam dongeng ini sebagai tandingan kisah Romeo dan Juliet buah karya Shakespeare. Tony Ching sendiri tentu bukan nama asing dalam romantisme-fantasi seperti ini karena telah menghasilkan karya yang kini dianggap klasik, A Chinese Ghost Story (1987). Kisah cinta si pelajar miskin Ning Tsai-Shen (Leslie Cheung) dan si hantu jelita, Hsiao-Tsing (Joey Wong, yang juga berperan sebagai Pai Su-chen dalam Green Snake), terasa begitu dramatis dan juga menggetarkan.

Oleh karenanya tidak heran jika The Sorcerer and the White Snake juga mempunyai momen-momen romantisnya sendiri. Apalagi Eva Huang (Kung Fu Hustle) cukup cantik dalam menerjemahkan karakter si ular putih ini. Koneksi kimianya dengan Raymond Lam yang berperan sebagai Xu Xian terjalin dengan cukup kuat. Tony Ching juga masih tanggap dalam membangun kekikukan yang terjalin dalam hubungan kasih mereka, sehingga kita merasa gregetan dan gemas.

Sayangnya, kisah mereka justru kemudian harus dianaktirikan, karena harus mengalah pada ambisi Tony dalam memberi adegan laga dan fantasi yang maksimal, sehingga kebanyakan adegan dibangun untuk dapat menggambarkan hal tersebut. Pada akhirnya kisah kasih ini menjadi termarginalisasi dan hanya basa-basi. Diringkas sedemikian rupa, sehingga pesan subtil yang seharusnya terdapat dalam materi aslinya, nyaris tidak teraba lagi. Bahkan karakter Qing Qing yang diperankan oleh Charlene  Choi seolah menjadi gimmick untuk unsur komedi belaka.

Dan jangan kaget jika melihat adegan yang menampilkan kura-kura atau tikus yang berbicara layaknya manusia. Mungkin tujuan Tony hanya ingin memberi penekanan pada ranah siluman yang terdapat dalam dongengnya, namun malah tidak membaur dengan baik dan seolah-olah berasal dari film yang berbeda, karena lebih condong sebagai  karakter  yang komikal ketimbang sebagai sosok yang utuh. Oleh karenanya jangan mengharapkan ada perkembangan karakter yang signifikan disini, karena mereka semua hadir memang tidak lebih sebagai alat untuk penggerak ceritanya belaka.

Meski begitu, The Sorcerer and the White Snake adalah sebuah film yang menghibur. Hanya saja ini bukanlah versi mutakhir yang bisa menggantikan film-film versi lawasnya, karena mereka bahkan hadir dengan lebih kuat. Dibuka dengana degan spektakuler, dimana Fahai melawan seorang siluman perempuan (Vivian Hsu, dalam cameo khusus), dan juga kemudian banyak siluman peremnpuan lainnya (heran, mengapa semua siluman pengganggu manusia harus berjenis kelamin perempuan yah?), jelas kalau film tidak memilih pendekatan yang subtil. Sejatinya ia memang tak lebih dari sebuah fantasi-laga yang menginginkan untuk menghibur kita sebagai penonton. Tidak lebih.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s