Film Review: Drive (2011)

Saya bisa membayangkan jika Neil Marshal dan Hugh Jackman jadi menduduki posisi sutradara dan aktor utama untuk film hasil adaptasi novel James Sallis, Drive. Bukan berarti jelek juga, namun apakah mereka akan berhasil mencapai tingkat subtilitas seperti yang disampaikan oleh eksekusi Nicolas Winding Refn dan performa Ryan Gosling, yang mendapat kesempatan untuk mewujudkan novel tersebut dalam bentuk film? Seperti isi lirik lagu A Real Hero, yang dinyanyikan oleh College bersama Electric Youth yang menjadi salah satu soundtrack untuk filmnya, “a real human being, and a real hero“, Drive menampilkan jagoan yang berbeda dari biasaya. Berada dalam garis yang tidak hitam, tidak putih. Namun ia adalah seorang manusia.Dengan segala kelebihannya dan juga kekurangannya.

Dibuka dengan sebuah prolog yang lebh mirip film pendek sepanjang delapan menitan yang menampilkan ketangkasan karakter yang diperankan oleh Ryan Gosling (tetap tidak bernama sampai durasi film berakhir) dalam mengemudikan mobil. Ia adalah seorang supir bagi kompolotan perampok. Mirip yang dikerjakan oleh Jason Statham dalam film Transporter. Dengan ketrampilannya yang luar biasa, ia berhasil menelikung kepungan polisi dan menghilangkan jejak mereka. Sungguh prolog yang langsung meyedot perhatian, karena Nicolas Winding Refn (Bronson, Valhalla Rising) dengan sangat tangkas menjadikan menit-menit pembuka film ini menjadi begitu mendebarkan.

Sang pria ini adalah seorang penyendiri dan sehari-harinya bekerja di bengkel milik seorang pria paruh baya bernama Shannon (Bryan Cranston, Breaking Bad), selain juga bekerja paruh waktu sebagai seorang stuntman. Tetangganya di apartemen tempat ia tinggal adalah seorang perempuan muda, Irene (Carey Mulligan, Never Let Me Go), yang mempunyai seorang putra bernama Benicio (Kaden Leos). Suami Irene, tengah berada di penjara. Entah karena sama-sama kesepian atau bagaimana, sang pria dan Irene kemudian menjadi akrab dan sering menghabiskan waktu bersama. Sampai suami Irene, Standard (Oscar Isaac, Sucker Punch) keluar dari kurungan dan berada dalam sebuah masalah.

Sang pria kemudian bersedia membantu Standard yang terjebak hutang kepada Cook (James Biberi) dengan merampok sebuah toko. Bersama dengan mereka, ditugaskan juga seorang perempuan bernama Blance (Christina Hendricks, Mad Men). Perampokan tidak berjalan mulus karena ada pihak lain yang menyabotase yang menyebabkan kematian Standard. Dari Blance akhirnya sang pria paham jika mereka dikhianti oleh Cook yang bekerja untuk komplotan mafia Bernie Rose (Albert Brooks, Looking for Comedy in the Muslim World) dan Nino (Ron Perlman, Hellboy). Sang pria kemudian menyadari jika jiwa Irene dan Benicio berada dalam bahaya jika ia tidak menyerahkan uang hasil rampokan. Masalah lainnya, ternyata ia dan Shannon tengah terikat dalam sebuah pekerjaan untuk Bernie. Lantas apa yang harus ia lakukan?

Tentu saja jawabannya kemudian terletak pada serangkaian adegan penuh kekerasan yang tidak hanya menggiriskan namun juga cukup mampu memacu adrenalin. Tapi Drive tidak hanya bercerita tentang kekejaman atau kriminalitas. Ia juga berkisah tentang manusia dan sifat alami mereka untuk terikat dalam sebuah hubungan penuh afeksi dengan orang lain yang disukainya. Juga tentang naluri bertahan hidup yang membuat manusia terkadang melakukan apa saja untuk dapat tetap bernafas.

Sang pria adalah sosok pribadi yang tak gampang untuk ditebak. Pembawaanya selalu tenang. Nyaris tanpa riak emosi yang berarti di wajahnya. Namun ia juga bisa bersikap penuh kasih atau bahkan beringas, tergantung dengan situasi yang tengah dihadapinya. Bahaya tidak pernah menjadi alasan baginya untuk takut. Bahkan mungkin memilki ketergantungan kepada bahaya itu sendiri. Mengapa ia bisa menjadi sosok seperti ini tidak pernah mendapat tempat untuk dibahas oleh film. Narasi berjalan dalam waktu sekarang. Tidak pernah melongok ke masa lalu atau meloncat ke masa depan.

Narasi murni berdasarkan pada dialog-dialog dan juga motivasi yang dilakukan oleh karakter-karakternya. Kisah juga dibangun berdasarkan suasana. Ada atmosir gelap ala film-film thriller-kejahatan ala dekade 80-an yang menyelimuti film. Bahkan semangat tersebut sudah kita rasakan saat credit title yang membuka film diwakili oleh penggunaan font Mistral (yang entah kenapa berwarna merah muda) yang terkesan cheesy. Tapi sama sekali tidak ada kesan murahan dalam penggarapan Winding Refn. Tempo yang berjalan dalam pace yang cukup lambat dan mungkin memang dapat menguji kesabaran penonton yang mengharapkan adegan-adegan aksi dalam tempo kilat. Sebaliknya Drive membangun tensi secara perlahan sampai kemudian tiba di klimaksnya.

Keberhasilan Drive tentu saja juga terletak ditangan Ryan Gosling. Jujur saja, Gosling mungkin tidak akan memenuhi arketipe seorang bintang laga. Akan tetapi ternyata ia dengan sangat kompeten meniupkan kesan berbahaya dan misterius kedalam karakternya. Dan saat ia harus “terjebak” dalam adegan-adegan yang mengharuskan ia menampilkan atraksi fisik, ia pun melakukannya dengan sangat meyakinkan. Kelebihan lainnya, Gosling adalah aktor watak yang serius. Dengan ini ia menghindarkan karakter sang pria misterius dari kesan dua dimensi dari seorang jagoan.

Mengutip Wikipedia, Winding Refn mengatakan jika film ini dipengaruhi oleh Bullitt (1968) dan The Day of the Locust (1975); dan sebagai sebuah tribut untuk sineas asal Chili, Alejandro Jodorowsky. Tentu Drive bukan Santa Sangre apalagi film-film yang disebutkan tadi, akan tetapi jelas jika Drive adalah sebuah drama-thriller-aksi yang mumpuni. Sebuah film kelam yang intens namun tidak pernah melupakan bahwa filmnya juga mempunyai sebuah kisah untuk diceritakan.

Advertisements

3 thoughts on “Film Review: Drive (2011)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s