Vampyr (1932): A Classic Tale of Horror

Halloween! Ah, rasanya memang paling cocok menonton film-film horor di perayaan yang juga dikenal sebagai All-Hallows-Eve ini. Tapi alih-alih menonton film-film kontemporer, mengapa tidak sesekali kita menilik ke belakang. Film-film lawas yang kini dianggap klasik pun rasanya masih layak untuk disimak. Salah satunya adalah Vampyr (1932), sebuah film Jerman yang disutradari oleh seorang Denmark yang bernama Carl Theodor Dreyer. Dan jangan pusing jika hendak menonton film ini  akan tetapi bingung hendak mencari DVDnya, karena kebetulan situs video terbesar, YouTube memiliki film ini dan dapat ditonton untuk umum.

Cast & Crew
Cast
1. Julian West : David Gray
2. Maurice Schutz : Lord of the Manor
3. Jan Hieronimko : Doctor
4. Sybille Schmitz : Léone
5. Rena Mandel : Giséle
6. Henriette Gérard : Marguerite Chopin

Director
Carl Theodor Dreyer

Producers
1. Baron Nicolas de Gunzberg
2. Julian West
3. Carl Theodor Dreyer

Plot
Diangkat berdasarkan dari salah satu tulisan di buku berjudul In a Glass Darkl karya J. Sheridan Le Fanu, film berkisah tentang seorang pemuda yang bernama Allen Grey (Julian West aka Nicolas de Gunzburg) yang menginap di sebuah penginapan di desa yang bernama Courtempierre. Pada saat ia tengah tidur, sesuatu membuat ia terjaga. Ternyata seorang pria asing paruh baya masuk ke kamarnya dan memberi sebuah paket yang hanya boleh dibuka jika ia meninggal.

Dikemudian waktu diketahui jika si pria (Maurice Schutz) adalah pemilik sebuah rumah besar yang ia tempati bersama dua putrinya. Putri tertuanya, Léone (Sybille Schmitz) tengah didera sakit yang aneh. Ia thanya dapat  terbaring lemah di tempat tidur. Keadaann Léone ini mencemaskan sang ayah juga adiknya, Giséle (Rena Mandel). Hanya pertolongan sang dokter desa (Jan Hieronimko) yang menjadi harapan mereka. Tanpa mereka ketahui, sang dokter sebenarnya adalah antek seorang vampir berujud seorang perempuan tua bernama Marguerite Chopin (Henriette Gérard) yang berencana memangsa keluarga tersebut.

Sementara itu, Grey yang terjaga karena gangguan sang pria, dari balik jendela kamarnya menyaksikan sosok-sosok bayangan tanpa tubuh fisik. Karena penasaran ia mengikuti bayangan-bayangan tersebut sampai kemudian menyasar ke rumah tempat si pria paruh baya. Sang pria kemudian tewas ditembak oleh sosok bayangan. Grey kemudian memutuskan membuka paket yang diberikan sang pria kepadanya dan menemukan isinya ternyada adalah sebuah buku tentang vampirisme. Berdasarkan buku ini, Grey pun mencoba mengungkap apa yang tengah terjadi sebenarnya.

Review
Vampyr adalah film berbicara pertama yang dikerjakan oleh Drayer, sehingga tidak heran jika pengaruh film bisunya masih terasa mendominasi. Visual yang menampilkan mimik dan gestur masih mengambil porsi narasi, sedangkan dialog dihadirkan seperlunya saja. Insert-insert title card ala film bisu pun masih dipergunakan secara aktif. Uniknya, dengan tampilan warna hitam-putih, nuansa seram dapat dibangun dengan efektif. Apalagi Drayer cukup tangkas dalam menampilkan angle-angle yang cukup inovatif untuk masa itu dan berguna dalam membangun atmosfir gelapnya. Oleh karenanya, meski tidak berseting di puri megah, namun kesan gothic pun dapat dengan mudah dirasakan oleh penonton.

Gambar-gambar surealis yang secara struktural sepertinya kurang integratif dengan jalan cerita justru memberikan  aksentuasi horor yang kental. Film seolah-olah menjadi sebuah fragmen mimpi buruk yang harus kita jalani. Bahkan apakah semua kejadian ini benar-benar dialami oleh David Grey atau hanya bentuk dari delusinya juga bisa menjadi perdebatan. Drayer dengan sangat brilian, disebuah adegan, menggambarkan roh Grey keluar dari tubuhnya dan menjadi pelaku aktif. Pada bagian lain diperlihatkan sebuah POV dari tubuhnya yang terbaring kaku dalam sebuah peti. Mungkin personifikasi untuk bentuk delusi tadi.

Tapi yang paling juara sepertinya memang departemen kasting, karena berhasil memakai aktor-aktor non profesional yang cukup kompeten dan juga mempunyai fisik yang cukup “mengerikan”, yang “tepat guna’ sebagai karakter dalam film horor, terutama Jan Hieronimko yang berperan sebagai sang dokter dan Henriette Gérard yang berperan sebagai sang vampirina. Tanpa perlu berkata-kata saja mereka sudah menyeramkan, hahaha.

Vampyr mungkin hadir dengan segala arketipe yang biasa kita temukan dalam sebuah film horor. Namun ia membuktikan tidak perlu tampil ruwet untuk dapat menghasilkan horor bagus. Yang paling penting itu adalah atmosfir dan Vampyr menyediakannya.

Watch the Film

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s