Film Review: Thor (2011)

Invasi The Avengers oleh Marvel Comic memang berjalan sistematis. Dan ini cukup efektif untuk membangun rasa penasaran calon penonton terhadap film superhero yang akan ditayangkan pada tahun 2012 nanti itu. Sebuah film dengan ensemble cast yang menampilkan deretan nama terdepan dibawah naungan paguyuban  pahlawan super milik sesepuh komikus legendaruis, Stan Lee, tersebut. Mulai dari Hulk, Iron Man, Captain America mendapat  porsi yang besar untuk diceritakan kisahnya secara utuh, sebelum akhirnya bergabung dalam The Avengers. Tentu saja formasi menjadi kurang lengkap tanpa kehadiran sang THOR yang perkasa yang mendapat jatahnya untuk dikisahkan secara lengkap asal muasalnya.

Thor (Chris Hemsworth) adalah calon pewaris tahta Asgard, sebuah kerajaan para….dewa (?) yang terletak di sebuah titik di jagad luar angkasa raya. Nyaris saja menjadi raja berikutnya, saat Odin (Anthony Hopkins), ayahandanya, melucuti semua kekuatan Thor dan mengasingkannya ke bumi. Hal ini disebabkan kecerobohan Thor dalam memancing perseteruan dengan musuh lama Asgard, kaum raksasa es dari Jotunheim yang dipimpin oleh Laufey (Colm Feore). Thor yang dipenuhi dengan enerji dan juga emosi yang meletup-letup ini menyerbu Jotunheim bersama adiknya Loki (Tom Hiddleston) dan para sahabatnya, ksatria-ksatria pilihan dari Asgard, Sif (Jaimie Alexander), Volstagg (Ray Stevenson), Fandral (Joshua Dallas) dan Hogun (Tadanobu Asano), untuk mengkonfirmasi penyusupan yang dilakukan oleh para raksasa es ke istana Asgard.

Di bumi tanpa sengaja Thor bertemu dengan Jane Foster (Natalie Portman), seorang ilmuan yang bergerak di bidang astrofisika. Sementara itu, Mjolnir, palu senjata Thor yang juga dilempar ke bumi, menarik perhatian banyak orang karena tertanam dengan keras di sebuah batu. Layaknya pedang Excalibur, tidak perduli berapa keras upaya untuk mencabut Mjolnir, ia tetap bergeming. Ini menarik perhatian agent Phil Coulson (Clark Gregg) dari dinas rahasia S.H.I.E.L.D, yang merasakan kehadiran sosok misterius Thor. Sementara itu, selama bergaul bersama Jane dan juga asistennya, Darcy Lewis (Kat Dennings)  dan Mentor Jane, Erik Selvig (Stellan Skarsgård), Thor mulai belajar menjadi sosok manusia yang seutuhnya. Namun, disisi lain ada sebuah ancaman misterius yang dapat saja membahayakan jiwa Thor.

Thor diangkat dalam bentuk komik oleh Stan Lee, Jack Kirby dan  Larry Lieber berdasarkan dari mitologi Nordik tentang sang Dewa Petir yang bernama Thor. Kompleksitas dan juga kekuatan karakter Thor tampaknya menginspirasi mereka untuk mewujudkan dirinya dalam sosok sebuah pahlawan super kontemporer. Setelah muncul dalam berjilid-jilid komik, tentu saja tidak mengherankan jika Thor menyusul banyak rekan-rekannya sesama alumnus Marvel untuk diangkat menjadi sebuah proyek layar lebar. Setelah terkatung-katung cukup lama, akhirnya Thor pun dapat disaksikan dalam bentuk sebuah film.

Awalnya cukup pesimis saat mengetahui Kenneth Branagh yang mendapat “kehormatan” menjabat sebagai pengarah bagi Thor. Branagh memiliki reputasi yang mengagumkan sebagai seorang sutradara yang cukup handal, berkat karya-karyanya yang kebanyakan mengangkat karya Shakespeare sebagai objek cerita. Okelah, mungkin ia pernah suskes dengan epik seperti Henry V (1989), namun bagaimana jika harus menangani  sebuah proyek fantasi superhero semacam ini? Setelah menyaksikan filmnya, saya justru  berterimakasih kepada Branagh yang dengan cukup sukses mempersembahkan sebuah epos pahlawan super yang ditampilkan dalam perspektif yang cukup berbeda.

Tentu saja latar belakang Branagh sebagai sutradara film-film Shakespeare memberi pengaruh yang cukup signifikan untuk Thor. Seting dunia mitologi seperti Asgard tentu saja merupakan wacana yang tepat untuk menghadirkan sebuah drama tragedi layaknya sebuah karya sastra. Bukan berarti Thor kemudian adalah sebuah film yang dengan bunga-bunga sastrawi, hanya saja pendekatan ini membuat film menjadi sedikit berbeda dengan kebanyakan film-film pahlawan super lainnya, terutama yang banyak beredar saat ini yang mencoba untuk tampil membumi.

Bukan berarti Thor tidak mencoba untuk tidak tampil “membumi” juga. Saat seting berpindah ke Bumi dan Thor mulai melakukan interaksi dengan karakter Jane, cerita kemudian mengizinkan Thor untuk juga tampil dengan segala kekuarangan yang manusiawinya. Dan Branagh cukup pintar memadukan antara drama, laga dan juga romansa dalam balutan komedi situasi dalam jalinan ceritanya. Ini menjadikan Thor memiliki tekstur yang padat dalam narasinya. Ada keseruan dalam laganya, ada dinamika dalam dramanya dan ada kelucuan yang menggemaskan dalam romantismenya. Untuk yang terakhir, kita harus berterimakasih kepada chemistry Hemsworth dan Portman yang terjalin dengan sangat kental.

Thor bukannya tidak berjalan dalam pondasi arketipe klise. Rasanya kita sudah dapat merasakan kemana arah narasi akan bergerak. Namun terkadang film tidak melulu soal narasi. Kadang ia juga soal  hubungan emosionil antar karakternya dan juga perjalanan. Thor menawarkan itu. Dan sebagai bagian besar dari skema The Avenngers yang telah direncanakan, ia memberikan kontribusi yang cukup signifikan. Meski dibeberapa bagian ia dapat berdiri sendiri dari semesta The Avengers, namun Branagh tetap setia unntuk melekatkan Thor didalamnya.

Branagh mungkin tidak meningkatkan standar apa-apa untuk subgenre superhero semacam ini, akan tetapi ia cukup mampu menalangi kompleksitas Thor tanpa harus terlihat terlalu kartun atau kekanak-kanakkan, namun juga tidak melampaui batas untuk tampil terlalu serius. Dengan visual-visual cantik yang mengagumkan,  laga yang mendebarkan dan dramatisasi yang menarik, Thor mungkin adalah salah satu yang terbaik dari barisan film tentang pahlawan super pada saat ini.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s