10 Films I Have Seen More Than 10 Times

Film bagi sebagian besar orang memang hanya sekedar sarana hiburan. Namun terkadang film tidak melulu hanya berfungsi sebagai penghibur, karena bagi sebagian besar orang, menonton film itu layaknya sebuah perjalanan. Dan jika perjalanan itu menyenangkan atau berkesan, tidak urung ingin mengulangi lagi pengalaman tersebut. Dari sekian banyak yang saya tonton, terselip beberapa judul yang kerap ditonton berulang-ulang, bahkan lebih dari 10 kali. Film-film tersebut begitu berkesan di hati sehingga ada rasa kangen untuk selalu menyempatkan diri untuk menyaksikannya lagi dan lagi. Sebenarnya jika difikir-fikir, ada lebih dari 10 film yang serig saya tonton ulang, namun demi efisiensi, akhirnya saya membatasi khusus untuk 10 judul paling favorit dan juga paling sering. So, here goes my 10 Films I Have Seen More Than 10 Times list:

10. Scream (1996)

Scream

Setelah terseok-seok dengan film-film semenjana, master horor ternama, Wes Craven, kembali lagi menjulang namanya berkat skrip yang dikerjakan oleh seorang penulis muda yang gemar menonton film horor. Kevin Williamson, demikian nama sang penulis skrip, dengan cerdas memutar semua klise dalam film horor, terutama subgenre slasher, menjadi sebuah satir tentang ketakutan tentang kematian. Dering telepon sebagai awal teror ditambah suara kharismatis dibelakangnya, menambah kesan seram. Akan tetapi, dibalik semua agendanya, Scream adalah sebuah thrill-ride seru yang tidak akan pernah bosan untuk dialami lagi.

09. Punch-Drunk Love (2002)

Saya tidak tahu siapa itu Paul Thomas Anderson sebelumnya. Yang pasti, saya membeli VCD Punch-Drunk Love semata-mata karena tertarik pada posternya. Akan tetapi saya justru jatuh cinta kepada film ini dalam tontonan pertama kalinya. Setelah terpendam beberapa lama, akhirnya saya pun memutuskan untuk menontonnya. Dan, wham! Saya terseret dalam kisah cinta tidak biasa antara karakter-karakter yang juga tidak biasa. Adam Sandler berhasil menampilkan akting yang gemilang disini sebagai seseorang yang cenderung anti-sosial. Chemistrynya yang kental bersama Emily Watson memenuhi atmosfir film komedi romantis yang gelap ini.

08. A Chinese Ghost Story (1987)

Lupakan versi remake, karena A Chinese Ghost Story (ACGH) arahan Tony Ching dengan Tsui Hark sebagai produser jauh berkali lipat lebih mengesankan. Diangkat dari salah satu cerita karya sastrawan era Dinasti Ching, Pu Songling, ACHG adalah sebuah gado-gado laga, fantasi, horror, komedi, dan romansa. Berkisah tentang percintaan seorang pelajar miskin dengan seorang hantu cantik yang semula ingin memangsanya. Alm. Leslie Cheung dan juga Joey Wong memberikan penampilan yang sangat menawan disini, apalagi Tony Ching dengan cukup tangkas menarik ulur emosi saya sebagai penonton. Bahkan sampai saat ini, jika saya menonton ulang.

07. Gosford Park (2001)

I always love British period drama. The wicked accent and that lavish setting charms me a lot. Tapi mungkin Gosford Park adalah yang paling saya favoritkan. Tidak hanya mengandung elemen dari semua hal yang membuat drama British mentereng, namun studi sosiologis tentang struktur sosial di kalangan masyarakat Inggris pada saat ini selalu menyenangkan untuk dicermati. Bukan itu saja, Gosford Park adalah paket lengkap dari drama, komedi hingga thriller suspense yang mengambil karya-karya Agatha Christie sebagai panduan. Barisan ensemble cast yang luar biasa semakin menambah semarak intensitas alur filmnya.

06.  Psycho (1960)

Apakah Psycho adalah puncak prestasi seorang master of suspense, Alfred Hitchcock? Rasanya memang masih dapat diperdebatkan, namun bagi saya Psycho adalah sebuah drama kelam yang dipenuhi dengan adrenalin yang memicu jantung untuk berdegup lebih kencang. Tentu saja, setelah beberapa kali tonton, nilai suspensinya sudah berkurang namun tidak menganggu kenikmatan saya untuk menontonnya berulang-ulang. Adegan pembunuhan di bak mandi yang legendaris selalu mengasyikkan untuk ditonton. Astaga, jangan langsung mengasosiasikan saya dengan Norman Bates si pemilik motel horror, karena adegan tersebut bisa dikatakan sebagai salah satu adegan sinematis yang paling mendebarkan yang pernah ada.

05. La Mala Educación (2004)

Pedro Almodovar adalah salah satu sutradara favorit saya dan ini adalah film yang membuat saya jatuh cinta kepada karya-karyanya. Dengan plot yang bertumpuk, Bad Education adalah sebuah studi karakter yang mumpuni. Dengan gaya Hitchcockian yang kental, Almodovar tidak hanya membuat Bad Education sebagai sebuah thriller yang cakap, namun juga sebuah drama yang subtil. Penampilan Gael García Bernal dalam berbagai karakter yang berbeda tidak hanya menampilkan akting yang gemilang namun juga menjadi nilai lebih dalam memberi intensitas dalam ceritanya.

04. Green Snake (1993)

Terlepas dari efek khususnya yang, bisa dikatakan sedikit kurang meyakinkan, akan tetapi Green Snake merupakan salah satu film adaptasi terbaik dari legenda klasik China. Dan ini semua berkat tangan dingin sutradara handal Hong Kong, Tsui Hark. Ditangannya, kisah folklore sederhana tersebut berkembang menjadi sebuah drama romantis dan juga kompleks. Tidak melulu berdongeng, akan tetapi juga memberi perspektif yang lebih manusiawi kepada sepasang ular siluman dan sang manusia yang mereka cintai. Diangkat dari interprestasi novelis Lilian Lee, Tsui Hark kemudian menjelmakan Green Snake menjadi sebuah film drama fantasi dengan sentuhan arthouse yang kental. Duo Maggie Cheung dan Joey Wong sebagai sepasang siluman ular pun tampil takkalah berkesan. Saking sukanya dengan film ini, bahkan dulu saya sempat menonton film ini selama 3 hari berturut-turut di bioskop tanpa pernah merasa bosan.

03. The Silence of The Lambs (1991)

Memenangkan lima Oscar bukan alasan utama saya untuk menggemari film ini.  Saya sudah cinta dengan film ini semenjak pertama kali menontonnya, kurang lebih dua puluh tahun yang lalu di salah satu bioskop di dekat kediaman saya. Saya begitu terjerat dalam pusaran psikologis di interaksi yang terjadi antara agen FBI rookie dengan seorang psikiater handal yang juga seorang pembunuh berantai. Kerjasama yang bermula untuk menangkap seorang pembunuh berantai lainnya yang tengah berkeliaran kemudian berkembang menjadi sebuah hubungan pelik yang mencekam namun juga menyentuh. Sebuah “kisah cinta” yang tidak biasa. Dan jika Anthony Hopkins dan Jodie Foster kemudian diganjar Oscar, hal tersebut memang sangat layak, karena permainan akting mereka yang luar biasa merupakan salah satu kunci keberhasilan film ini. Oh ya, bahkan novelnya yang ditulis oleh Thomas Harris pun sudah saya baca ulang entah untuk keberapa kalinya.

02. Eternal Sunshine of the Spotless Mind (2004)

Call me freak or nerd, akan tetapi Eternal Sunshine of The Spotless Mind adalah salah satu film dengan kisah cinta yang paling romantis yang pernah saya tahu. “Meet me in Montauk.” Sebuah frasa yang terus menerus melekat di benak Joe Barish. Apa maksud dan makna dari kalimat tersebut sungguh sulit untuk dipahaminya. Sampai ia bertemu dengan Clementine (Kate Winslet) yang sangat talkative dalam sepanjang perjalanan Joe ke Montauk. Perkenalan Joe dengan Clementine kemudian menjadi awal sebuah petualangan tidak biasa yang harus kita alami untuk memahami bahwa cinta sejati itu bukan terdapat di benak, akan tetapi di hati. Michael Gondry mungkin belum bisa melepas ciri khasnya saat mengerjakan video musik namun ia cukup lancar saat mengajak kita untuk terikat dalam sebuah perjalanan sinematis yang meski terlihat sedikit absurd, namun sebenarnya sangat sederhana

01. Le Fabuleux Destin d’Amélie Poulain (2001)

Amélie Poulain adalah seorang gadis yang istimewa. Dibalik penampilannya yang cupu dan introvert, terdapat hati yang budiman dan welas asih. Dengan memakai prinsip tangan kanan memberi, tangan kiri tak mengetahui, Amélie kemudian melancarkan aksi untuk menolong orang-orang tengah bermasalah. Sampai kemudian ia menemukan “masalahnya” sendiri. Siapa yang akan membantu dirinya?  Jean-Pierre Jeunet menghadirkan Le Fabuleux Destin d’Amélie Poulain dengan kekayaan visual yang cantik. Namun keberhasilan utama Amélie adalah karakter si gadis itu sendiri serta kemampuan Audrey Tautou untuk meniupkan ruh ke tubuh Amélie, sehingga mereka menjadi satu kesatuan entitas yang utuh. Amélie tidak hanya sebuah drama humanis yang manis, namun ia juga sebuah komedi romantis yang tak terlupakan.

Advertisements