FISFIC 6 Vol. 1: Sebuah Antologi Film Pendek

FISFIC adalah singkatan dari Fantastic Indonesian Short Film Competition dan bagi yang bertanya-tanya apa itu FISFIC, maka yang bisa saya jelaskan adalah sebuah bentuk kreatif dari sekumpulan nama-nama yang berasal dari kalangan pembuat film Indonesia yang merasa resah dengan perkembangan film fantastik dan horor di industri perfilman Indonesia yang menunjukkan gejala kemunduran dari segi kualitas. Oleh karenanya beberapa nama praktisi film di Indonesia, Sheila Timothy, Joko Anwar, Gareth Evans, The Mo Brothers, Ekky Imanjaya dan Rusli Eddy, menggagas sebuah kompetensi film pendek dalam genre ini guna menjaring nama-nama baru yang diharapkan memberi angin segar kedepannya. Setelah melalui proses yang cukup panjang, akhirnya terpilihlah enam tim produksi yang berkesempatan untuk membuat sebuah film pendek mereka secara lebih profesional dengan Lifelike Pictures (Pintu Terlarang) sebagai rumah produksi yang mendukung kinerja mereka.

Proyek yang kemudian disebut dengan FISFIC 6 Vol.1 pun kemudian tayang perdana di perhelatan film fantasi-horor populer INAFFF (Indonesian Fantastic Film Festival) di bulan November 2011 yang lalu. Meski tayang terbatas, namun kita tidak perlu merasa kuatir tidak bisa menyimak hasil kerja keras mereka, karena sebuah distributor home video bersedia untuk merilis FISFIC 6 Vol. 1 dalam bentuk keping DVD dan diedarkan secara lebih luas sehingga bisa kita nikmati bersama. Dan review berikut ini adalah pandangan saya terhadap film-film pendek tersebut dan disusun berdasarkan rating terendah hingga paling tinggi terhadap film-film tersebut, bukan berdasarkan urutannya di dalam film.

06. Rengasdengklok

Rengasdengklok punya ide gemilang untuk sebuah film yang tampaknya mencoba memberi homage kepada film-film grindhouse. Dan bagi yang dulu pernah belajar sejarah pasti familiarlah dengan Rengasdengklok. Berseting sehari sebelum peristiwa bersejarah rakyat Indonesia, calon presiden pertama kita harus berurusan dengan sekelompok zombie mutan kiriman Kaisar Jepang yang depresi karena kalah perang. Maka terjadilah “pertempuran” penuh darah untuk bertahan hidup.

Dibuka dengan animasi yang cantik, Rengasdengklok terlihat menjanjikan. Namun saat akting payah para pemainnya langsung terpapar dengan brutal, mau tidak mau perasaan dongkol yang kemudian terpercik di hati. Belum lagi para zombie muncul dengan tidak meyakinkan sama sekali. Saya tidak ada masalah dengan efek yang buruk, karena justru merupakan bagian dari “tradisi” film sejenis. Namun eksekusi mentah ala video amatiran anak sekolahan sungguh mengganggu ilusi visual yang coba ditawarkan oleh kisahnya.

Cast: Hosea Aryo Bimo, Surja Saputra, Ari Himawan / Sutradara: Dion Widhi Putra / Penulis Skrip: Yonathan Lim / Produser: Abdul Rasyad H.S. / Durasi: 19 menit

05. Reckoning

Home invasion memang selalu menjadi ide menarik bagi banyak film. Begitu juga dengan Reckoning yang tampkanya tertarik untuk menggali tema seperti ini dengan twist supernatural di kisahnya. Film bercerita tentang suami istri yang terjaga di tengah malam saat menyadari di rumah mewah mereka kedatangan tiga tamu tak di diundang. Apa motivasi para perusuh ini? Apakah mereka perampok atau ada motivasi lain yang lebih gelap dan mengerikan?

Agar bisa sukses dalam misinya, film-film seperti ini seharusnya mengandalkan ketegangan dan intensitas yang terjaga, sesuatu yang nyaris tidak kita temukan dalam Reckoning. Durasi yang berlama-lama dengan dialog verbal dan “pidato-pidato” panjang yang tak menarik malah melemahkan suspensi yang ingin dibangun. belum lagi akting yang tidak alami oleh para pemainnya. Film sebenarnya mempunyai potensi untuk tampil dengan lebih baik, akan tetapi sang sutradara tampaknya lebih mementingkan gaya ketimbang esensi. Tidak ada masalah sebenarnya dengan pemilihan hitam-putih sebagai warna film yang mungkin diniatkan sebagai film noir. Akan tetapi akan lebih baik lagi jika film lebih telaten dalam membangun ketegangan, sesuatu yang sayangnya kita tidak temui.

Cast: Emil Kusumo, Nicole Jiawen Lee, Katharina Vassar / Sutradara: Zavero G. Idris / Penulis Skrip:  Zavero G. Idris & Katharina Vassar / Produser: Putra Sigar,  Zavero G. Idris & Katharina Vassar / Durasi: 20 menit

04. Effect

Seorang karyawati merasa sangat sebal dengan bos-nya yang cerewet. Secara iseng-iseng ia memasukkan nama sang bos dalam sebuah laman internet bernama Effect, yang menanyakan siapa yang paling ia ingin sakiti. Ternyata, yang bermula hanya dari iseng-iseng kemudian berbuntut panjang, karena sang bos kemudian menemui ajalnya dengan menggenaskan. Lantas dirinya mulai merasa gelisah, jika kematian sang bos memang ada hubungan antara dirinya dan juga situs misterius tersebut.

Effect punya ide cerita yang sangat menarik, bahkan memungkinkan untuk dikembangkan menjadi sebuah film fitur yang berdurasi lebih panjang. Ide death by an orchestrated freak accident bukanlah sesuatu yang baru, karena sudah ada Final destination sebelumnya atau film Hong Kongyang berjudul Accident (2009) yang memiliki konsep nyaris sama. Film-film tersebut dikerjakan dengan sangat terampil, sehingga adegan “kecelakaan” dapat ditampilkan dengan sangat rapi dan penuh dengan suspensi. Sesuatu yang tidak kita temui dalam Effect. Diatas kertas, kita dapat merasakan ide yang diapungkan memang menarik, namun sayangnya ketrampilan untuk mengeksekusi adegan tersebut dengan lebih rapi dan intens masih kurang dimiliki, sehingga malah membuat filmnya terasa datar.

Cast: Tabitha, Sita Nursanti, Monika Paska, Darwyn Tse / Sutradara: Adriano Rudiman / Penulis Skrip: Adriano Rudiman  & Leila Safira / Produser: Leila Safira / Durasi: 20 menit

03. Rumah Babi

Sebagai penulis skenario, Alim Sudio mungkin punya daftar film yang tidak begitu membanggakan, namun dengan prestasi terakhirnya melalui The Perfect House (2011), tampaknya Alim berniat naik kelas dengan menggarap kisah-kisah yang lebih bernas. Bukan itu saja, tampaknya ia juga menunjukan indikasi sebagai seorang sutradara yang cakap pula, melalui Rumah Babi ini, sebuah thriller supernatural yang mengandalkan atmosfir seram sebagai nyawa kisahnya. Bertutur tentang seorang pembuat film dokumenter yang harus kembali ke sebuah rumah keluarga Tiong Hoa korban pembantaian masa untuk melengkapi footage-nya. Saat ia memasuki rumah itu, sesuatu yang mengerikan pun mulai meneror dirinya, lahir dan batin.

Dengan adanya sentimen seperti isu rasial, jelas Rumah Babi memiliki tingkat kedalaman yang lebih dari kisah horor kebanyakan. Sayangnya, ide tersebut hanya merupakan gimmick bagi film untuk dapat menampilkan “setan oriental” ketimbang benar-benar substantif untuk keutuhan ceritanya. Terlepas dari itu, film sudah cukup baik membangun kesan menyeramkan, meski tetap saja trik peek-a-boo usang masih di percaya dapat menakuti-nakuti (mengagetkan) penonton.

Cast: Anwari Natari, Nala Amrytha, Tina Susanti, Nanang Hape / Sutradara: Alim Sudio / Penulis Skrip: Harry Setiawan / Produser: Agus Kurniawan & Alim Sudio / Durasi: 22 menit

02. Meal Time

Berlokasi si sebuah “rumah singgah” untuk tahanan polisi yang terletak di daerah terpencil, dua orang sipir kedatangan tamu seorang sipir lainnya yang membawa beberapa narapidana. Namun, saat satu persatu mereka menemui kematian yang menggenaskan, mau tidak mau mereka harus mencari tahu siapa pelaku sebenarnya dan apa motivasinya.

Duo sineas sekaligus pasutri, Ian Salim dan Elvira Kusno sempat memeriahkan kancah film pendek Indonesia dengan Yours Truly yang dipuji itu. Kini, dalam Meal Time mereka memilih pendekatan yang berbeda. Film ditampilkan dengan pemilihan warna yang lebih pucat dan mentah. Sinematografi cantik dan skoring yang indah absen dulu. Agaknya Ian Salim ingin mengambil pendekatan yang lebih membumi untuk mengemukakan kengerian dalam ceritanya. Boleh dikata ia lumayan berhasil untuk itu. Shot-shot dingin dan kosong mampu menghadirkan kesan muram. Twist dalam kisahnya pun dialirkan dengan cukup baik dan mengena. Hanya saja, susah juga menghilangkan kesan jika filmnya juga terlihat mentah dan pace-nya juga kurang terjaga sehingga film terasa sedikit kendor. Plot yang sedikit mengingatkan akan [SPOILER] The Thing juga terasa “sangat padat” sehingga tidak terlalu memberi ruang untuk perkembangan karakter. Hasilnya film terlihat seperti sebuah ringkasan dari kisah yang lebih panjang ketimbang film pendek yang utuh.

Cast: Abimana Arya, Rudy Raga, Danar Wijanarko, Josep Alexander  / Sutradara: Ian Salim  / Penulis Skrip: Ian Salim / Produser: Ian Salim & Elvira Kusno / Durasi: 20 menit

01. Taksi

Seorang perempuan muda terlihat gelisah. Hari sudah larut malam. tampaknya ia ingin segera pulang ke rumahnya. Sebuah taksi mendekat dan menawarkan untuk mengantarkan sang perempuan ke tujuannya. Gelagat sang supir taksi memang mencurigakan, namun akhirnya sang perempuan memutuskan untuk menumpang taksi tersebut. Di pertengan jalan, dua pria mabuk “menginvasi” taksi dan mimpi buruk pun dimulai.

Taksi memiliki plot yang sangat sederhana, namun terasa tepat guna dalam medim film pendeknya. Tanpa basa-basi duo Arianjie AZ dan Nadia Yuliani membiarkan filmnya mengalir. Ketegangan dibangun dengan perlahan dan ketika tiba pada momentumnya, rasa penasaran kita pun terbayarkan. Orang-orang yang berada di belakang Taksi tampaknya memang sudah mengerti benar dengan apa yang hendak mereka sampaikan karena presisi adegan dibangun dengan nyaris sempurna. Tidak hanya itu, secara teknis ini film yang juara. Tidak ada kesan amatiran saat kita menyimaknya. Editing, POV kamera, sampai musik latar memberi kontribusi yang sangat memuaskan. Bisa dikatakan ini sudah merupakan sebuah film yang dikerjakan secara matang dan profesional. Keputusan untuk memakai Shareefa Daanish sebagai talen utama adalah pilihan brilian, karena dirinya merupakan magma utama dari keberhasilan Taksi dalam membangun ketegangannya.

Cast: Shareefa Daanish, Hendra Louis, Manahan Hutauruk, Alex Loppies / Sutradara: Arianjie AZ & Nadia Yuliani / Penulis Skrip: Arianjie AZ & Nadia Yuliani  / Produser: Titis Sapto Raharjo, Arianjie AZ, Nadia Yuliani, Ferry Arya Seto & Audy Sutama / Durasi: 16 menit

VERDICT

FISFCIC 6 Vol. 1 mungkin tidak sempurna dan tidak semua film berhasil dalam misinya, namun sebagai sebuah upaya untuk membangkitkan semangat membuat film dalam kualitas yang terjaga, tentu saja antologi ini cukup layak untuk disimak, terutama untuk melihat geliat dan perkembangan sineas-sineas muda Indonesia.

PS:

Terimakasih untuk rekan saya Raditherapy yang berbaik hati mengirimkan saya kopi DVD FISFIC 6 Vol. 1 🙂

Advertisements

One thought on “FISFIC 6 Vol. 1: Sebuah Antologi Film Pendek

  1. Pingback: Film Review: Dilema (2012) « SayaCeritaFilm

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s