Film Review: Tyrannosaur (2011)

Tulisan ini mungkin mengandung spoilers.

Apa yang bisa kita sukai dari sosok pria paruh baya bernama Joseph (Peter Mullan, Session 9, Harry Potter and The Deathly Hallow part 1) ini? Seorang duda pengangguran yang alkoholik dan bertemperamental kasar. Tidak segan-segan pula untuk melempar sumpah serapah darfi mulutnya (kalau rajin, coba hitung berapa banyak kata-kata f*ck dan c*nt yang terucap dari bibirnya). Satu-satunya sosok yang bisa membuat dirinya ramah mungkin anak kecil tetangganya yang bernama Samuel (Samuel Bottomley). Itu juga tanpa terlupa sarkasme yang seolah-olah telah mendarah daging di dirinya.

Kenapa sih Joseph menjadi sosok yang menyebalkan seperti itu? Padahal saat ia tersenyum atau tertawa, ada sesuatu yang membuat dirinya terlihat lembut dan tulus. Dan apa hubungan dirinya dengan hewan prasejarah yang kini telah punah, Tyrannosaurus? Setelah membaca premisnya, bocah cilik saja juga tahu kalau judul film ini adalah sebuah metafora, jadi jangan berharap ada adegan orang-orang tunggang langgang di kejar-kejar oleh si mahluk raksasa. Akan tetapi, setelah menyaksikan filmnya, pasti perasaan kita porak poranda oleh amukan badai emosinya.

Tyrannosaur adalah debut penyutradaraan Paddy Considine (In America, The Bourne Ultimatum), seorang aktor Inggris yang cukup watak, dan secara mengejutkan tidak ada kesan plonco dalam filmnya ini. Di balik tampang gaharnya, Tyrannosaur ternyata bukan sebuah thriller banal tentang kekerasan. Dengan mengambil perspektif sebagai sebuah studi karakter, Paddy, yang juga merangkap sebagai penulis skrip, membiarkan film berjalan dengan merambat. Emosi dibangun dengan perlahan-lahan dan kemudian menyeret kita untuk terjebak dalam arusnya. Plotnya tidaklah istimewa, karena memang alur bergerak berdasarkan pada emosi karakter-karakternya.

Tentu saja film tidak melulu berkisah tentang Joseph. Ada sosok Hannah (Olivia Colman, Hot Fuzz, The Iron Lady) yang tiba-tiba hadir dikehidupannya. Pertemuan mereka terjadi tidak direncanakan dan tampaknya diatur oleh tangan suci Tuhan. Saat dalam guncangan emosi yang sangat membuncah, Joseph nyasar kedalam toko amal milik Hanna. Sebagai pemeluk Kristen yang baik, bukannya mengusir, Hannah malah mencoba menenangkan diri Joseph. Bahkan saat dirinya mendapat perlakuan kasar secara verbal dari Joseph, ia masih bersedia bersikap ramah terhadap si pria pemabukan.

Sayangnya Hannah bukan seorang malaikat dengan kehidupan sempurna. Rumah tangganya yang terlihat ideal, sebenarnya bagai hidup berkalung neraka, karena sang suami, Eddie Marsan (yang untuk kesekian kali manjadi orang menyebalkan) adalah pelaku kekerasan dalam rumah tangga yang masif. Dan Hannah tidak bisa lama-lama menyimpan rahasia kelam dirinya di depan Joseph. Dari titik ini, film pun kemudian mulai menunjukkan apa sebenarnya yang ingin disampaikannya.

Dalam pandangan tradisonal, sosok perempuan biasanya hadir untuk menjinakkan laki-laki, seberapa vulgar atau kasarnya sosok tersebut. Seorang laki-laki akan tergerakkan kejantanannya saat mengetahui seorang perempuan lemah teraniaya dan kemudian melakukan tindakan jantan untuk menyelamatkan sang perempuan. Tyrannosaur punya potensi laten untuk itu. Dengan cerdik alur juga menggiring kita kedalam pehaman seperti itu. Namun kemudian dia pun mulai menyobek topengnya dan menunjukkan rupa sebenarnya. Progresi karakter Joseph dan Hannah berjalan dalam alur yang, meski mungkin tertebak, namun tetap terasa organik dan wajar.

Peter Mullan memberikan akting yang menghantui. Atmosfir kisah dibangun berdasarkan gerak-gerik prilakunya. Tentu saja Mullan memang sudah terbiasa untuk ditampilkan sebagai sosok yang keras namun  kali ini ada sesuatu yang rapuh dibalik sikapnya tersebut. Kesedihan dan juga kesepian. Seolah-olah terjebak secara mutlak di dalam cangkang tebal yang kasar dan enggan untuk keluar dari dalamnya. Sesuatu yang mengundang rasa, bukan simpati, tapi kasihan.  Hannah pun kemudian hadir sebagai pencetus untuk penyobek cangkang tersebut. Sosok non-bintang Olivia Colman sangat efektif dalam memberikan kesan membumi dan nyata. Ditunjang pula dengan kemampuannya menerjemahkan karakter Hannah dengan gemilang, sehingga dirinya pun menjadi tandem yang sempurna bagi Mullan untuk meniupkan ruh pada alur kisahnya.

Semenjak adegan pembuka, bahkan Tyrannosaur sudah menampilkan adegan yang meyentuh sisi emosionil. Tapi ini bukan film yang bertujuan menguras air mata. Tapi ia berbicara tentang sebuah redemption atau penebusan diri. Tapi Joseph bukan karakter tipikal yang akan ditampilkan berubah 180 derajat demi kepentingan ini. Semua petunjuk dihadirkan secara implisit. Bukankah sebenarnya Hannah pun sebenarnya tidak jauh berbeda dengan dirinya? Ini adalah kisah tentang membebaskan diri dari masa lalu yang suram, meski masing-masing kemudian mengambil jalan yang berbeda untuk itu. Dan jalan tersebut memang tidak selalu mulus atau berakhir membahagiakan. Akan tetapi, setidaknya ia membebaskan.

Advertisements

2 thoughts on “Film Review: Tyrannosaur (2011)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s