Best 40 Album of 2011 – Part1 (40-31)

Akhir tahun memang saat yang paling pas untuk membuat daftar hal-hal yang menjadi favorit kita. Daftar film-film yang menjadi pilihan saya sepanjang 2011 memang masih dalam proses pengerjaan, namun tidak untuk daftar album musik yang saya sukai, meski memang agak sedikit diluar topik blog ini. Menyusun daftar yang berisi 40 album dari ratusan yang sudah didengarkan sepanjang tahun memang gampang-gampang sulit. Gampang karena begitu banyak album bagus yang memikat pendengaran. Sulit saat kemudian harus mengurutkan mereka dalam sebuah senarai yang mewakilkan selera subjektif namun setidaknya cukup komprehensif. Album-album yang terdapat di daftar ini adalah album yang dirilis dalam periode Desember 2010 hingga November 2011. Berikut adalah my pick of Best 40 Album of 2011 untuk urutan 40 hingga 31:

40. Torches (Foster The People)

Torches, album debut trio asal Los Angeles, Mark Foster, Mark Pontius dan Cubbie Fink yang tergabung dalam Foster The People. Pump Up Kids mungkin single yang mempopulerkan nama mereka, namun album juga menyimpan banyak materi yang tak kalah asyiknya.Dengan meleburkan rock, pop, elektronika dan semangat indie yang kental, Torches malah hadir sebagai sebuah album yang cukup mudah dicerna untuk kalangan yang lebih awam namun tidak lantas melupakan estetika bermusik yang eklektik. orches mungkin masih mempunyai beberapa nilai minus, namun diantara dentuman musik mesin yang banyak beredar saat ini, Foster The People dengan Torches-nya adalah sebuah angin segar yang sulit untuk ditolak. Full Review.

39. When You Grow Up (Priscilla Ahn)

Mendengarkan lagu-lagu Priscilla Ahn itu selalu menimbulkan efek menenangkan. Album kedua solois asal Amerika tersebut, When You Grow Up, juga bukan pengecualian. Vokalnya yang merdu dan lembut memang sangat mendukung untuk menyampaikan lagu-lagu mid-tempo yang diaransemen secara cantik dan indah seperti yang terdapat dalam album ini. Vokalnya memang sedikit tipis, namun Ahn jelas memiliki teknik bernanyi yang mumpuni sehingga tidak terdengar monoton apalagi membosankan. Sementara itu pop dan folk menjadi modal bagi Ahn untuk merangkai balutan nada yang harmonis dan juga cantik.

38. Xylos (Xylos)

Xylos adalah album self-titled sekaligus debut band quintet asal Brooklyn ini, setelah sebelumnya merils EP yang berjudul Bedroom. EP tersebut menarik banyak perhatian (termasuk saya), sehingga tentu saja kehadiran album ini cukup istimewa. Beberapa lagu dalam EP juga terdapat dalam album ini, tentu saja selain materi baru yang ternyata cukup berbeda dari yang kita harapkan. Bukan berarti jelek. Saat kita terbiasa dengan nomor-nomor elektro-indie-pop yang riang, Xylos kemudian juga menawarkan lagu-lagu atmospheric yang gloomy. Bagi yang kurang familiar namun ingin mencicipi musik mereka, coba dengarkan single Darling Dearest yang juga membuka album ini.

37. Within & Without (Washed Out)

Sampul albumnya memang sangat menggoda perhatian, akan tetapi album Within & Without milik band yang bernama Washed Out ini justru tampil lebih menggoda lagi. Washed Out sebenarnya merupakan proyek tunggal milik Ernest Greene, asal Georgia, Amerika. Sedang Within & Without adalah sebuah kompilasi berbagai komposisi synth-pop yang intim bahkan sensual. Vokal Greene yang empuk mendukung pula untuk membangun suasana tersebut. Walaupun ada yang bilang album ini hanya cocok didengar oleh para hipster, rasa-rasanya itu adalah sebuah klaim yang kurang pada tempatnya. Within & Without merupakan teman yang dapat diandalkan saat kita memerlukan me-time dalam suasana yang santai.

36. The Big Roar (The Joy Formidable)

Bersiap-siaplah untuk larut dalam sensasi indie-rock berbalut shoegazing dan dream pop dalam album debut The Joy Formidable yang bertajuk The Big Roar. Vokal Ritzy Bryan yang unik terkadang melengking dengan tajam namun tidak sungkan-sungkan untuk meluruh dalam kelembutan. Secara umum mood album memang terasa kasar, mengikuti semangat rock yang tebal, namun eksplorasi sound-sound yang unik membuat album ini terdengar sangat gempita dalam memancing rasa penasaran untuk menyimak albumnnya sampai tuntas. Memang, agak sedikit diperlukan waktu untuk mencernanya, namun bukan halangan untuk menyimak album yang fantastis ini.

35. Battleground (The Wanted)

Dalam album keduanya, Battleground, boyband asal Inggris, The Wanted, seolah mencoba naik kelas. Kali ini mereka tampil dengan album dengan materi yang kental dengan unsur-unsur dubstep juga elektronika dan dance. Bahkan rock yang gahar juga tidak segan-segan mereka infusi kedalam aransemennya. Hasilnya, 11 lagu yang terdapat dalam album ini adalah lagu-lagu yang mungkin terdengar pop dan easy-listening, namun kesan gloomy rasanya cukup sulit untuk diindahkan. Bukan berarti jelek, karena Battleground kini malah terasa memiliki tekstur yang lebih berserat dan juga menghindarkan kesan cheesy dengan lebih cerdik, meski harus diakui, setelah mendengar albumnya secara keseluruhan, kesan ringan memang sulit untuk dihindarkan.

34. Holy Ghost! (Holy Ghost!)

Lagi-lagi sebuah album debut dan lagi-lagi dengan judul self-titled. Holy Ghost! adalah duo pengusung elektro-pop asal New York yang terdiri atas Nick Millhiser dan Alex Frankel. Sebelumnya mereka telah merilis sebuah EP yang berjudul Static on the Wire di tahun 2010. Meski mengusung elektro-pop berbumbu disko, jangan langsung mengasosiasikan lagu-lagu yang mereka tawarkan akan sama dengan kebanyakan elektro-pop yang beredar. Kesan dreamy dan bahkan terkadang elemen shoegazing pun tidak pantang untuk disematkan dalam aransemennya, sehingga lagu-lagunya terdengar lebih berisi dan tidak pasaran. Sebuah debut yang sangat mencuri perhatian.

33. Codes and Keys (Death Cab For Cutie)

Tidak terasa band asal Washington, Death Cab For Cutie, telah melepas album ketujuh mereka, yang diberi judul Codes and Keys. Satu yang pasti, Codes and Key terdengar lebih “cerah” dengan pemilihan nada-nada yang lebih positif dan juga terdengar optimis dalam menceritakan kisahnya. Mungkin kritisi yang ditarik adalah bagaimana DCFC kemudian lebih memilih jalan yang lebih aman dengan memilih aransemen yang “jenerik” dan “ngepop”. Tidak ada lagu yang membosankan dan semuanya renyah untuk disimak. Apakah dengan menjadi lebih easy listening adalah sebuah kemunduran? Tidak juga. Bukankah itu hanya sebuah persepsi yang tentu saja subjektif sifatnya. Full Review

32. Vows (Kimbra)

Kimbra Johnson atau yang lebih dikenal dengan Kimbra adalah solois asal Australia yang patut untuk dicermati dan debut albumnya, Vows, adalah sebuah album pop yang memikat. Vokal Kimbra mempunya jangkauan yang luas juga sangat bertenaga, namun dalam album ini ia tidak hanya menjual kekuatan vokalnya belaka namun juga dengan berani menampilkan lagu-lagu yang dikomposisikan dalam semangat urban dan eklektik yang tebal.Meski pop masih menjadi dasar bagi kebanyakan lagunya, namun setiap lagu diaransemen dengan menyimpan kejutan dalam pergerakan notasinya. Bisalah kita sebutkan jika Kimbra adalah pengusung pop alternatif yang progresif. Jangan lupakan adonan soul yang tanpa segan-segan ditiupkan Kimbra dalam teknik bernyanyinya. Sangat menyegarkan untuk disimak.

31. Fiction and Fact (B2ST)

Boyband asal Korea ini memulai debutnya di tahun 2009 yang lalu, namun album penuh pertama mereka baru di rilis di tahun 2011 ini. Memang, sebelumnya mereka telah merilis sejumlah EP untuk mengaktualiasi diri mereka di skena K-Pop. Jangan pandang remeh album ini karena B2ST atau juga Beast yang terdiri dari enam pria ganteng ini dengan sangat mengejutkan naik kelas dari sekedar memberikan lagu-lagu cheesy nan ringan ala bubble-gum pop remaja yang tipikal. Tentu saja pop yang gampang dicerna masih menjadi andalan mereka, namun dengan pemilihan lagu-lagu yang lebih dewasa, artikulatif dan dalam semangat urban yang kental, tentu saja menjadikan album ini terdengar menonjol dibandingkan kebanyakan album K-Pop yang seragam. B2ST here to stay and hereby declare my self as fan.

Best 40 Album of 2011 – Part2 (30-21) |  Best 40 Album of 2011 – Part2 (20-11) |

Advertisements

9 thoughts on “Best 40 Album of 2011 – Part1 (40-31)

  1. Awya says:

    liked the inclusion of Washed Out (something i admired but not love tho), Death Cab for Cutie, Holy Ghost! (how come i forgot this!), and….. is The wanted really that good?

    i assumed that our overlaps on top ten are: Adele and James Blake or Fleet Foxes? 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s