Film Review: Garuda Di Dadaku 2 (2011)

Dalam sebuah film bertema olahraga, semangat from zero-to-hero biasanya menjadi formula dalam ceritanya. Lantas, jika sosok utamanya telah menjadi seorang hero, apa selanjutnya yang bisa dikisahkan? Mempertahankan status hero-nya mungkin and among other things. Yang paling penting tampaknya adalah eksistensi dan melanjutkan prestasi. Demikianlah yang menjadi inti dari Garuda Di Dadaku 2, buah karya sutradara kawakan Rudi Sudjarwo.

Sungguh menggembirakan menyimak perkembangan film-film yang mengusung olahraga di Indonesia, khususnya sepak bola. Setelah Tendangan Dari Langit yang sangat memuaskan, serunya menyimak sebuah pertandingan memperebutkan bola pun lagi-lagi dapat kita temui dalam film ini. Memang, Garuda Di Dadaku (2009) pun telah dipaparkan dengan gemilang oleh Ifa Ifansyah (Sang Penari), sehingga sungguh suatu kejutan saat Rudi mampu dengan baik melanjutkan standar kualitas yang telah dibangun oleh Ifa.

Plot yang menarik untuk diikuti berjalan harmonis bersama dengan intensitas, ritme yang dinamis, dan tentu saja eksekusi pertandingan yang juara, yang mana dengan sangat baik dieksekusi oleh film ini. Tambah pula dengan hadirnya sentilan-sentilan kritis terhadap perkembangan dunia sepak bola kita. Tidak heran, kita berteriak, geram, meringis, tersedu, tertawa dan kemudian bersorak oleh dinamikanya.

Kisahnya sederhana saja, Bayu (Emir Mahira, yang baru saja memenangkan gelar Aktor Terbaik di FF1 2011 untuk perannya sebagai anak dengan kebutuhan khusus di film Rumah Tanpa Jendela) kini menjadi seorang kapten untuk kesebelasan nasional U-15. Tantangan untuk mempertahankan kinerjanya di lapangan harus berbenturan dengan tegasnya pelatih baru, Pak Wisnu (Rio Dewanto, Arisan! 2). Belum lagi hadirnya pemain baru yang mencuri perhatian, Yusuf (Muhammad Ali) serta kepentingan untuk menjaga prestasinya di sekolah. Seolah belum cukup, sang bunda, Wahyuni (Maudy Kusnadi), tampaknya mempunyai hubungan khusus dengan mitra kerjanya, oom Rudi (Rendy Bragi).

Yang patut untuk dipuji adalah bagaimana skrip yang dikerjakan oleh Salman Arsito dengan sistematis merangkai semua konflik untuk mempertebal materi kisahnya yang tipis tanpa harus terlihat menjadi tempelan belaka. Plot utama dan sub-plot disusun sebagai satu kesatuan yang saling mendukung untuk mengantarkan sebuah film dengan narasi yang solid. Selama durasinya, kita tidak hanya akan menyimak bagaimana anak-anak berbakat ini berlatih keras mencapai prestasi yang monoton, namun juga ditunjukkan sisi-sisi lain yang membuat mereka manusia. Sosok-sosok yang bisa kita rasakan dan menimbulkan empati

Bayu mendapati dirinya cemburu melihat kedekatan karibnya, Heri (Aldo Tansani), dengan Yusuf sehingga kemudian bersikap egois dan kekanak-kanakan. Namun di sisi lain ia juga mencoba belajar menjadi dewasa saat harus berhadapan dengan rekan sekolahnya, Anya (Monica Sayangbati) yang disiplin dan kaku. Dan semua ini ditampilkan secara wajar dan tak berlebihan. Bayu hadir layaknya seorang anak usia 15 tahun yang memandang hidup berdasarkan perspektif seorang anak berusia 15 tahun. Tidak lebih. Tidak kurang.

Selain sukses sebagai film olahraga, namun Garuda Di Dadaku 2 dengan gemilang juga menunjukkan, beginilah seharusnya film remaja dibuat. Penuh dengan positifisme, dewasa tanpa harus berlebihan atau mengeliminir keremajaan mereka. Hadir dengan sangat menyegarkan, menghibur, juga mempunyai pesan yang positif tanpa harus menggurui. Dan siapa bilang film kita tidak mempunyai kualitas teknis yang juara? Garuda Di Dadaku 2 buktinya.

Advertisements

4 thoughts on “Film Review: Garuda Di Dadaku 2 (2011)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s