Film Review: Mission: Impossible – Ghost Protocol (2011)

Dalam Ghost Protocol, judul keempat dalam seri film Mission: Impossible, Tom Cruise seolah tak ada matinya. Dengan melakoni berbagai adegan berbahaya, yang kabarnya dilakukan tanpa pemeran pengganti, ia seolah-olah menegaskan jika dirinya masih seorang mega-bintang yang solid. Nyaris dalam sepanjang durasinya, kita akan menyimak Ethan Hunt, agen rahasia IMF yang diperankan oleh Cruise, berjibaku dengan situasi yang mengharuskan dirinya melakukan sesuatu yang mustahil menjadi mungkin. Bergayutan di gedung tertinggi di dunia, Burj Khalifa, Dubai, bukan satu-satunya. Film semarak dengan ledakan, tembakan, adu jotos, kejar-kejaran, adu taktik, adu kecanggihan teknologi dan semacamnya. Lantas apa kelebihan film ini dibandingkan para pendahulunya?

Cruise masih melanjutkan kerjasamanya dengan J.J. Abrams yang mengarahkan aksinya dalam seri ketiga, namun Abrams kali ini hanya menjabat posisi produser. Bangku sutradara kali ini diduduki oleh Brad Bird, yang sebelumnya berpengalaman mengerjakan film-film animasi juara seperti The Iron Giant (1999), The Incredibles (2004) atau Ratatouille (2007). Bird tentu tak usah diragukan lagi saat harus mengeksekusi berbagai adegan aksi dalam bentuk animasi namun tak dinyana, Bird pun ternyata tak kalah tangkasnya dalam menggarap aksi yang melibatkan manusa nyata. Tentu saja kehadiran CGI disana-sini memoles adegan laga agar terlihat lebih fantastis, namun Bird menunjukkan jika ia pun bisa diandalkan dalam mengkoreografi laga yang tangkas dan mendebarkan.

Dalam durasi kurang lebih dua jamnya, Ghost Protocol mengajak kita untuk larut dalam petualangan Ethan Hunt yang mencoba mengembalikan nama baik IMF yang tercemar akibat sabotase seorang ahli nuklir asal Swedia berdarah Rusia, Kurt Hendric (Michael Nyqvist, The Girl With The Dragon Tattoo) yang mencoba memanipulasi perang demi kepentingan pribadinya. Dengan dibantu oleh dua agen IMF yang tersisa, Jane Carter (Paula Patton, Deja Vu) dan Benji Dunn (Simon Pegg, Star Trek) serta William Brandt (Jeremy Renner, The Hurt Locker) yang memiliki latar belakang misterius, Hunt pun mencoba menghentikan aksi Hendric.

Sebagaimana film bertema mata-mata lainnya, film pun tak segan mengajak kita untuk melanglang buana mengikuti gerak langkah karakternya. Budapest, Moskow, Dubai dan Mumbai pun menjadi latar eksotis dalam serunya petualangan mereka. Skrip yang dikerjakan duo André Nemec dan Josh Appelbaum pun tak terlena dengan hanya membombardir kita dengan aksi laga, namun juga tak terlupa memberikan kesempatan kepada karakter-karakternya untuk berkembang, sehingga kita bisa lekat dan memberi empati.

Sosok Hunt pun kini tidak melulu menjadi agen tunggal yang tahan banting, karena kehadiran agen-agen lain pun ternyata dapat membantu performanya di lapangan secara lebih maksimal. Semangat kerjasama yang dulu tersirat kuat dalam serialnya, berhasil dikembalikan lagi dalam film ini. Sementara itu, meski sang villain masih dihadirkan secara sterotipikal, namun Nyqvist cukup baik mempresentasikan sosok antagonis dengan menarik. Senang saat melihat dirinya dan parternya di Dragon Tattoo, Noomi Rapace (Sherlock Holmes: A Game of Shadows), hadir secara bersamaan dalam film besar Hollywood.

Saat menyimak Mission: Impossible – Ghost Protocol, saya tidak bisa menafikan jika agak sedikit terganggu dengan banyaknya lubang yang menganga di kisahnya. Belum lagi para karakternya melakukan adegan aksi dengan terlalu nyaman, seolah-olah mereka tahu jika mereka pasti akan berhasil dalam melaksanakan misinya, sehingga mengurangi sense of real danger yang biasa kita dapati dalam film sejenis. Namun, terlepas dari hal-hal tersebut, Ghost Protocol hadir tidak hanya menjadi ajang pamer ketangkasan, baik bagi Cruise namun juga Bird, namun juga menunjukkan jika film ini adalah salah satu contoh bagaimana sebuah film aksi laga seharusnya. Seru sampai akhir.

Advertisements

3 thoughts on “Film Review: Mission: Impossible – Ghost Protocol (2011)

  1. William says:

    Hmm saya menyayangkan film ini yang seolah2 menghilangkan esensi film spy thriller yaitu twist (brilliant di seri pertama dan ketiga) dan doublecross things,dan villainnya juga agak lame.

  2. Citra Rahman says:

    Setuju sekali dengan isi paragraf terakhir di tulisan ini. Aku juga merasa ga ada yang perlu dikhawatirkan dalam mereka menyelesaikan misi-misi mereka. Everything’s gonna be alright, kok, Cit. Dan aku juga merasa film ini seperti…emm…ekstrim ga sih kalau aku bilang pembunuhan karakter? Film action spionage kayak gini, beberapa adegannya yang terbilang lucu seperti menyiratkan kalau ini adalah akhir dari karir Tom Cruise sebagai Ethan Hunt. Lebay sekali ya penilaianku? Hahaha…

    • Haris Fadli Pasaribu says:

      ah..engga lebay kok. wajar sih jika kemudian berfikiran seperti itu. film kan memang subjektif dan pengalaman yang berbeda-beda untuk setiap orang 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s