Film Review: The Flying Swords of Dragon Gate 3D (2011)

Setelah kesuksesan Detective Dee and the Mystery of the Phantom Flame di tahun 2010 lalu, tampaknya Tsui Hark sudah kembali ke fitrahnya, WuXia. Kini, dalam The Flying Swords of Dragon Gate (Lóng Mén Fēi Jiǎ – 龍門飛甲) ia kembali mengajak kita untuk masuk dalam dinamika dunia persilatan yang dipenuhi oleh kelebatan golok dan pedang. Lebih serunya lagi, petualangan di ranah Tiongkok klasik ini ditampilkan dalam efek kontemporer yang sangat ini tengah menjamur, yaitu sinema tiga dimensi. Sesuatu yang baru untuk industri perfilman Asia. Jadi, bersiaplah untuk melihat pisau-pisau yang melayang keluar dari layar, seolah-olah ditujukan kepada kita, sang penonton.

Tsui Hark memang sineas Asia yang terdepan dalam hal teknologi dan tidak ada istilah setengah-setengah dalam kamusnya. Tidak mengherankan jika efek tiga dimensi di dalam film ditampilkan dengan sangat mulus dan meyakinkan. Sejauh ini, The Flying Swords of Dragon Gate (TFSDG) adalah film yang mempergunakan 3D dengan efektif semenjak Avatar-nya James Cameron. Dan tidak melulu hanya untuk kepentingan gimmick efek benda-benda yang mencelat keluar layar, namun juga komposisi gambar yang terlihat sangat indah dan memiliki kedalaman mengagumkan dalam perspektif realisme.

Okelah, secara teknik pemakaian 3D, ini adalah film yang memuaskan, lantas bagaimana dengan kualitas dirinya sebagai sebuah film? Jangan khawatir. TFSDG tidak hanya akan memuaskan para penikmat film-film silat namun juga penonton film yang lebih awam, karena Tsui Hark memang bisa diandalkan dalam mempersembahkan sebuah plot yang mengalir dengan dentuman laga mendebarkan dalam riak arusnya, meski kisah yang terdapat dalam alur film sebenarnya sederhana saja.

Tsui Hark mengklaim jika TFSDG bukanlah reka ulang dari film klasik karya King Hu, Dragon Gate Inn (1966) ataupun versi remake-nya dimana Tsui Hark bertindak sebagai produser, The New Dragon Inn (1992), melainkan reimajinasi dari kisah yang terdapat di dalam film-film tersebut. Namun, setelah menyaksikan filmnya, saya malah merasa jika TFSDG justru adalah sekuel dari The New Dragon Inn, tidak hanya karena memiliki persamaan karakter, namun juga karena film bergerak berdasarkan akhir dari film tersebut. Dikisahkan jika Biro Timur (yang menjadi sentra antagonis film terdahulu dan menampilkan Donny Yen sebagai pimpinannya) kini mendapatkan tandingannya, yaitu Biro Barat di bawah pimpinan Yu Hua Tian (Chen Kun). Biro Barat mendapat titah untuk menemukan seorang dayang istana bernama Su (Mavis Fan), yang tengah mengandung janin hasil hubungannya dengan Kaisar.

Pada saat Su hampir menemui ajalnya, sosok misterius yang bernama Ling Yanqiu (Zhou Xun) dan mengaku sebagai Chow Huai-an, menyelamatkan sang dayang. Mereka kemudian bersama-sama menuju perbatasan di daerah Gerbang Naga untuk menyelamatkan Su dari kejaran Biro Barat. Sementara itu, sosok Huai-an (Jet Li) yang asli kemudian membayangi perjalanan mereka. Setiba di penginapan Gerbang Naga, situasi pun memanas, karena selain telah dihuni oleh orang-orang Biro Barat, terdapat juga serombongan orang Tartar pimpinan Buludu (Gwai Lun Mei) dan sepasang pemburu harta karun, Gu Shaotang (Li Yuchun) dan White Blade (juga diperankan oleh Chen Kun). Situasi pun memanas. Duel penentuan pun tak terelakkan lagi.

Dibandingkan film terdahulunya yang menampilkan dinamika konflik yang terpusat di penginapan Gerbang Naga, maka dalam TFSDG hanya menjadi salah satu dari bagian seting alih-alih menjadi karakter dalam kisah. Tsui Hark kini lebih memilih pendekatan ala petualangan ketimbang drama psikologis. Tidak mengherankan jika setting pun memakai banyak lokasi dan tata kelahi ditampilkan dengan lebih fantastis juga spektakuler. Kehadiran 3D mempertebal kesan fantastis tersebut, meski sebenarnya tidak selalu efektif untuk membuat adegan tarung menjadi lebih elaboratif.

Penekanan pada efek memang terkesan memarginalisasi ketangkasan dalam seni berkelahi, baik tangan kosong maupun adu pedang, seperti yang menjadi ciri khas film-film WuXia. Tidak heran jika akan ada rasa kecewa karena tidak dapat melihat ketangkasan Jet Li seperti yang biasa kita saksikan, karena adegan laga diset dalam skema yang lebih mengandalkan efek khusus. Sebagai nama yang menjadi “dagangan” utama, persentasi kehadiran Li di layar termasuk kecil. Justru Zhou Xun dan Chen Kun-lah yang mendapat jatah untuk mendominasi, terutama Chen Kun yang harus mengisi dua peran sekaligus. Yang juga mencuri perhatian adalah presentasi Gwai Lun Mei sebagai sosok Tartar dengan eksotisme yang unik, padahal jika ditelisik, karakter yang diperankannya jelas tidak terlalu signifikan dalam plot kecuali sebagai penyemarak cerita.

Dengan TFSDG Tsui Hark menunjukkan bahwa ia masih terdepan dalam jajaran sineas terkemuka. Dengan visinya yang unik, ia selalu mampu memberikan sebuah bentuk hiburan yang menarik perhatian. Perpaduan antara WuXia bergaya oldschool dengan pendekatan laga terkini yang mengandalkan efek khusus pun dihadirkan dengan mulus. Menyaksikan TFSDG, terutama dalam konsep 3D, adalah petualangan sinema yang mendebarkan.

PS:
Jika cermat, ada sebuah adegan dimana karakter Chow Huai-an yang diperankan oleh Jet Li mempertunjukkan jurus Tendangan Tanpa Bayangan, yang dipopulerkannya dalam serial Once Upon A Time In China di era 90-an yang juga diarahkan oleh Tsui Hark.

Advertisements

2 thoughts on “Film Review: The Flying Swords of Dragon Gate 3D (2011)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s