Best 40 Album of 2011 – Part4 (10-01)

2011 Albums

Akhirnya kita tiba juga di bagian akhir daftar album yang saya anggap terbaik untuk tahun 2011 yang lalu. Tentu saja sebuah penyusunan daftar seperti ini sifatnya tidak terlepas dari subjektifitas dan bias tertentu, sehingga tidak bisa mewakilkan selera tertentu atau perspektif secara jeneral. Sebelum melengkah lebih jauh, tidak ada salahnya saya menyebutkan jika 2011 termasuk tahun yang menggembirakan untuk industri musik karena cukup banyak dirilis album-album yang berkualitas dan sangat menarik perhatian. Oleh karenanya saya menemui sedikit kesulitan untuk memasukan 40 album untuk menjadi yang terbaik menurut saya. Setelah mengalami beberapa kali perombakan, akhirnya daftar ini pun sudah bisa mendapatkan judul-judul yang akan mengisinya.

Meski begitu, tidak sah rasanya jika tidak menyebutkan beberapa album yang sebenarnya saya inginkan masuk ke dalam daftar ini, namun ternyata tidak berhasil melewati final cut. Sebagai contoh, Biophilia-nya Bjork atau Kings of Limbs milik Radio Head, yang sebelum rilis sudah mendapatan ekspektasi tinggi saya. Begitu juga dengan album kedua milik Bon Iver, A Class milik Miss ACeremonial milik Florence + Machines, album kelima Feist, Metal, atau Let’s England Shake milik PJ Harvey, Ritual Reunion milik Little Dragon, dan Take Care yang merupakan album sophomore rapper Kanada, Drake serta pastinya 4 milik Beyonce,  yang mana mereka  semua dipastikan akan masuk ke daftar jika saja saya memulai daftar dari urutan 50.

Akhirnya, tanpa banyak basa-basi lagi, berikut 10 abum terbaik untuk tahun 2011 versi saya:


#10
Talk That Talk

Talk That Talk
(Rihanna)

Album keenam dalam waktu belum sampai 10 tahun bukan prestasi puncak seorang Rihanna, namun menorehkan 11 lagu nomor satu di Billboard Hot 100, mungkin adalah prestasi yang membanggakan. We Found Love, single utama dari album Talk That Talk memang menyumbangkan prestasi single nomor 1 tersebut, namun Talk That Talk juga menunjukkan progresi bermusik Rihanna yang semakin mapan. Keberanian untuk mengolah tema-tema gelap dengan balutan musik yang easy to listen patut untuk di acungi jempol. RnB yang dipadu dengan pop, electro-pop, dubstep dan dance-hall menjadikan Talk That Talk sebagai album pop yang sangat seru untuk disimak namun tidak memarginalisasi kualitas musiknya. 


#09
Helplessness Blues

Helplessness Blues
(Fleet Foxes)

Album debut Fleet Foxes (2008) sudah masuk ke dalam barisan album favorit saya sepanjang masa. Tentu saja kehadiran album kedua mereka sudah saya tunggu-tunggu dengan antusias. Dan saat mendengarkan Helpness Blues, segala ekspektasi pun terbayarkan. sekali lagi Robin Pecknold dan teman-teman mengharu biru saya melalui aransemen-aransemen baroque-folk-pop cantik mereka. Dengan menyimak Helplessness Blues, maka kita akan mendengarkan lagu-lagu yang terdengar megah namun sebenarnya memiliki kesederhanaan dalam tutur. Ibarat lukisan, Helplessness Blues adalah sebuah gambaran akan keindahan. Perayaan akan riaknya hidup. Terdengar berlebihan mungkin, namun rasanya hal tersebut adalah sesuatu yang tak terbantahkan.


#08
An Album By Korralreven

An Album By Korralreven
(Korralreven)

Band asal Swedia yang bernama Korralreven ini menawarkan ambient dalam album debut mereka yang berjudul An Album By Korralreven. Duo Marcus Joons dan Daniel Tjader yang berada di belakang Korralreven akan mengajak kita larut dalam dunia yang gloomy, lembut dan mengawang. Terkadang ada nuansa new wave yang mereka larutkan dalam pilihan nadanya, namun sulit juga untuk membantah jika musik-musik yang ditawarkan oleh Korralreven adalah indie-pop yang didistorsi sedemikian rupa sehingga menjadi anthem elektronika. Rasanya ini tidak luput dari campur tangan Tjader yang juga pentolan band keren pengusung dream-pop, The Radio Dept. Rasa-rasanya lagu-lagu yang dreamy-like ini memang menjadi semacam ciri khas Tjader. Namun, rasanya sulit untuk menolak ajakan Joons dan Tjader untuk masuk ke dalam dunia “mimpi” mereka.


#07
Wounded Rhymes

Wounded Rhymes
(Lykke Li)

Dalam album keduanya, artis Swedia yang bernama lengkap Li Lykke Timotej Zachrisson ini meningkatkan performa bermusiknya dengan sangat signifikan. Dengan Wounded Rhymes, Lykke Li menunjukkan jika dirinya memang memiliki kemampuan yang optimal dalam merangka lagu-lagu yang mudah dicerna namun tanpa harus terkesan pasaran. Dibandingkan dengan Youth Novel (2008) yang cenderung berperan sebagai ajang aktualisasi diri bagi Li, maka album ini bisa dikatakan sebagai unjuk kematangan diri. Dengan atmosfir yang terkadang terkesan suram dan gelap, bukan berarti album menjual kepedihan dalam kesedihan. Coba dengarkan Sadness Is a Blessing yang merupakan salah satu lagu terbaik di album ini, yang mungkin dapat menggambarkan isinya secara penuh.


#06
On A Mission

On A Mission
(Katy B)

Jika tahun 2011 kemarin dubstep mempunyai James Blake sebagai calon “pangeran” subgenre tersebut, maka sebagai “putri”-nya, mungkin sesama warga London, Inggris, Katy B, bisa mendapatkan gelar tersebut. Namun berbeda dengan Blake, dubstep yang diapungkan oleh Katy cenderung memilih tone yang lebih cerah dan berwarna walau juga tak kalah tangkas dalam memadu-padan dubstep dengan aliran lain. Dan Katy memilih house, pop, RnB dan garage sebagai pasangannya. Dalam durasi 55:55 menit (termasuk hidden track), On A Mission tidak pernah membosankan. Katy selalu menemukan cara untuk mengajak kita turut dalam atmosfir lagu yang ditawarkannya. Uniknya, setiap lagu dihadirkan dengan corak yang berbeda namun kita tetap bisa menemukan ciri khas yang menjadi benang merah diantara mereka.


#05
Cape Dory

Cape Dory
(Tennis)

Duo suami-istri asal Denver, Amerika, Alaina Moore dan Patrick Riley, tampaknya sangat mencintai lagu-lagu pop-retro sehingga dalam debut album mereka, Cape Dory, kita seolah-olah terbawa ke dalam pusaran waktu dan “terdampar” di era 50-60-an. Tambahkan efek lo-fi pada vokal dan padukan dengan sensasi manis indie-pop, maka kita akan terbuai dalam suasana vintage yang mengadiksi. Jika ada yang menyebutkan Cape Dory sebagai album yang datar, mungkin ia tidak salah, karena Cape Dory memang cenderung menawarkan lagu-lagu yang memiliki gaya bertutur yang sama. Akan tetapi harus diperhatikan jika lagu-lagu tersebut dibawakan dengan santai oleh Tennis, sehingga kita pun kemudia larut bersama keseruan yang mereka bawakan.


#04

Love Notes/Letter Bombs
(The Submarines)

Album ketiga The Submarines, band asal Los Angeles, Amerika, ini masih betah membombardir saya dengan lagu-lagu bagus mereka. Jika di album kedua, Honeysuckle Weeks (2008), The Submarines mencoba meningkatkan ritme mereka dengan memberikan lagu-lagu up-tempo, maka untuk album Love Notes/Letter Bombs, tampaknya mereka coba kembali ke akar lagu-lagu lembut yang manis seperti yang terdapat di album debut mereka, Declare a New State! (2006). Namun begitu, album ini tidak bulat-bulat menawarkan seperti apa yang telah mereka kerjakan dahulu, karena Love Notes/Letter Bombs juga tidak melupakan untuk menyuntikan dosis intensitas, sehingga lagu-lagu dalam album ini bergerak diantara tempo sedang hingga sedikit cepat. Sungguh menyegarkan.


#03

Cults
(Cults)

Cults adalah duo pengusung indie-pop asal New York, Amerika, yang terdiri atas Brian Oblivion dan Madeline Follin. Cults juga menjadi judul bagi album debut mereka yang sangat menarik untuk disimak. Sungguh suatu kejutan, saat mendengarkan album ini dengan ekspektasi yang sangat rendah, namun ternyata Cults dengan gemilang mengajak kita untuk terbawa oleh musikalitas yang mereka persembahkan. Saya menyukai single-single pre-album mereka, Abducted atau Go Outside, namun tidak pernah menyangka jika  di album debutnya, mereka konsisten dengan memberikan lagu-lagu indie-pop bercorak retro yang sangat mengasyikann untuk disimak. Tidak ada lagu di album ini yang tidak enak untuk di dengarkan. Sebuah debut yang sangat direkomendasikan.


#02
The Rip Tide

The Rip Tide
(Beirut)

Zach Condon dengan Beirut-nya seolah-olah selalu punya ide untuk mengeksplorasi kekuatan folk yang dipadu dengan indie-pop yang juga mengadopsi konsep world music dan juga elektronika ke dalam lagu-lagunya. Begitu juga yang bisa di dapat saat mendengarkan album ketiga Beirut, The Rip Tide. Secara pribadi, mengapa saya menyukai album ini karena lagu-lagu yang terdapat di dalam album ini mampu untuk menyeret saya kedalam suasana yang sangat filmis sekali, seolah-olah setiap lagu menjadi latar belakang untuk berbagai adegan yang berlangsung di dalam sebuah film. Terlepas dari itu, The Rip Tide juga menunjukkan kedewasaan Beirut dalam bermusik. Konsep yang matang dan pemilihan tema-tema personal tidak terdengar melankolis dan manja, melainkan diterjemahkan secara lugas.


#01
21

21
(Adele)

Dengan 21, Adele menepis pameo jika keberhasilan album pertama biasanya sulit diikuti oleh album kedua. Ternyata keberhasilan 21 bahkan jauh melompati sukses 19 (2008), album debut Adele. Entah karena galau memang tengah menjadi trend global atau bagaimana, namun romantisme gelap yang ditawarkan oleh Adele seolah-olah telah menjadi perwakilan suasana hati banyak orang. Akan tetapi bukan itu yang menyebabkan album ini menjadi juara. Kualitas 21 lah yang membuat album ini merebut perhatian banyak orang. Meski old soul menjadi sentra utama dalam gaya bertutur Adele, akan tetapi 21 juga memberikan kita lagu-lagu yang dapat direlasikan secara personal. Dan itu dapat terjadi karena pemilihan lirik yang mendalam, melodi yang sedap di dengar dan tentu saja penjiwaan maksimal oleh Adele. Jangan salahkan jika kemudian Someone Like You menjadi anthem universal bagi hati yang patah. Jangan heran jika Rolling In the Deep kemudian menjadi suara komunal dalam menyatakan kegeraman. Itu semua berkat gemilangnya Adele dalam menyanyikan setiap  sendi dan tutur lagu-lagunya. A contemporary classic album!


Untuk daftar lengkapnya, dapat di klik pada link-link berikut:

Best 40 Album of 2011 – Part1 (40-31) | Best 40 Album of 2011 – Part2 (30-21) | Best 40 Album of 2011 – Part3 (20-11) |

Advertisements

3 thoughts on “Best 40 Album of 2011 – Part4 (10-01)

Comments are closed.