2011: A Great Year of Cinema – 10 Best Films

2011

Bagi saya, tahun 2011 adalah tahun yang cukup luar biasa untuk dunia perfilman, karena begitu banyak film bagus yang bisa saya simak dan ternyata sebagian besar tampil dengan sangat memuaskan. Oleh karenanya, saat harus mengurutkan film-film dianggap sebagai yang terbaik untuk periode ini, saya menemukan sedikit kesulitan. Sementara itu, dari pengamatan saya, film-film yang berasal dari luar ranah produksi Hollywood, justru mampu tampil dengan sangat menonjol. Meski begitu, untuk tahun 2011, industri perfilman Amerika juga memiliki banyak judul yang tampil mengkilap dan mengasyikkan untuk di tonton, termasuk untuk tradisi film-film musim panas yang kali ini relatif lebih baik secara kualitas daripada tahun 2010. Terlepas dari itu, dengan kehadiran film-film yang memiliki mutu baik ini, kita sebagai penonton tidak hanya melulu mendapat tontonan yang menarik namun juga diperkaya secara intelektual melalui film-film yang dapat menjadi sebuah refleksi kritis bagi diri kita sendiri. Tanpa panjang lebar lagi, berikut 10 Film Terbaik 2011:

#10

“MIDNIGHT IN PARIS”
(Woody Allen)

Midnight In Paris adalah sebuah odelay menggelitik oleh Woody Allen tentang kenangan dan nostalgia, dimana setiap orang selalu merasa jika periode kehidupan lampau selalu lebih menarik dibandingkan apa yang tengah dijalaninya sekarang. Sebuah komedi berbalut fantasi yang sangat kental dengan gaya khas Allen. Midnight In Paris bukan berbicara tentang akurasi, akan tetapi tentang nostalgia dan juga romansa. Romantis, lucu dan menggemaskan, dan didukung oleh permainan prima oleh barisan bintang pendukungnya.

#09

“ONCE UPON A TIME IN ANATOLIA”
(Nuri Bilge Ceylan)

Auteur asal Turki, Nuri Bilge Ceylan, mengajak kita untuk mengunjungi Anatolia, sebuah daerah dipelosok Turki bersama sekelompok pria yang tengah mencari sosok tubuh yang dikubur untuk menutupi jejak pembunuhnya. Semalam di Anatolia, mungkin demikian judul yang lebih tepat, ternyata membuka jati diri masing-masing persona dan menguak rahasia hidup mereka. Dan Bilge Ceylan pun mengajak kita untuk masuk dalam momen-momen yang dipenuhi oleh aneka makna psikologis ketimbang dialog yang eksplisit. Once Upon A Time In Anatolia adalah sebuah studi karakter yang subtil dan elegen dan didukung oleh ensemble cast yang juara. Menghanyutkan kita dalam buramnya sifat manusia.

#08

“JANE EYRE”
(Cary Fukunaga)

Rasanya sudah berkali-kali novel karya Charlotte Brontë di adaptasi dalam bentuk film, namun entah mengapa masih ada saja sutradara yang tertarik untuk memberi penafsiran mereka terhadap roman klasik ini. Materi aslinya memang sudah memiliki bahan kisah yang kuat, sehingga tidak mengherankan jika film-film adaptasi Jane Eyre selalu memiliki narasi yang renyah untuk disimak. Termasuk juga versi paling mutakhir karya Cary Fukunaga ini. Elemen kelam dan gelap tetap menjadi nuansa yang memenuhi atmosfir kisahnya, namun Jane Eyre milik Fukunaga juga adalah sebuah kisah cinta indah tapi-tidak-biasa yang menggetarkan.

#07

“TINKER TAILOR SOLDIER SPY”
(Tomas Alfredson)

Di tangan sutradara asal Swedia, Tomas Alfredson (Let The Right One In), novel thriller-mata-mata populer asal Inggris karya John le Carré, Tinker, Tailor, Soldier, Spy, menjelma menjadi Tinker Tailor Soldier Spy, sebuah kisah menegangkan yang berkelas dan elegan. Cerita berjalan secara merambat dan bergerak melingkar seperti spiral, membiarkan penonton untuk larut dalam misterinya. Satu demi satu lembaran rahasia terkuak dan kita pun akhirnya terkesima oleh ketangkasan agen sepuh bernama George Smiley. Dan Smiley tak akan berhasil menawan hati kita tanpa penampilang gemilang seorang Gary Oldman. A first rate acting from a first rate spy thriller.

#06

“LE QUATTRO VOLTE”
(Michelangelo Frammartino)

Dengan pendekatan ala dokumenter, sutradara asal Italia, Michelangelo Frammartino, mengajak kita untuk melihat siklus kehidupan dalam empat musim di sebuah kota pegunungan bernama Coulonia yang terletak di selatan Italia. Sepanjang durasi kita tidak akan menemukan dialog sama sekali, karena kita dibiarkan menjadi pengamat (dalam long takes dan long shot yang mengagumkan) keseharian yang dijalani sebuah pria tua, seekor kambing, dan sebatang pohon. Potongan-potongan gambar tanpa narasi justru mampu bercerita dengan lugas, dan bahkan terkadang meditatif, tentang pemaknaan hidup.

#05

“THE SKIN I LIVE IN”
(Pedro Almodovar)

Premis The Skin I Live In  mengingatkan akan film-film horor-fiksi-ilmiah kelas B yang biasa kita kenal; seorang ilmuan jenius/ekstentrik/gila melakukan percobaan rahasia yang menentang hukum alam dan ada sosok korban dalam bentuk seorang perempuan lemah tak berdaya yang harus keluar dari mimpi buruk yang menimpanya. Namun bukan Pedro Almodovar namanya jika dia tidak merancang sebuah skema yang penuh dengan lika-liku namun juga dibalut dalam sebuah komposisi emosionil yang subtil. Suspensi yang terjaga, karakterisasi yang kuat, sisi emosionil yang terbangun baik dan kompleks but never misleadingOh yes, The Skin I Live In is sophisticated, edgy, urbane, stylistic and a perfect example how  a master works.

#4

“THE TURIN HORSE”
(Béla Tarr)

Seperti biasa, sineas Hungaria kenamaan, Béla Tarr, mengajak kita untuk mengikuti banalisme keseharian dalam dunia hitam putih serta serangkaian long takes non-kompromistis namun memiliki pemaknaan yang mendalam dan berkesan. Kali ini, dalam The Turin Horse, ia menghadirkan semacam fan fiction atas peristiwa yang dialami oleh Nietzsche saat ia menyaksikan seekor kuda yang dicambuki oleh majikannya di kota Turino, Italia. Film mengikuti keseharian pemilik kuda bersama putrinya setelah peristiwa itu berlangsung. Jika Nietzsche dikabarkan mengalami gangguan mental sehabis menyaksikan peristiwa tersebut, maka apa yang terjadi dengan sang pemilik kuda yang telah berusia lanjut tersebut? Dengan ending yang sangat menohok, tidak heran jika The Turin Horse bisa kita sebutkan salah satu karya gemilang Tarr.

#03

“CERTIFIED COPY”
(Abbas Kiarostami)

Yang saya sukai dari Certified Copy adalah betapa menyenangkan melihat dua orang dewasa yang ngobrol dengan intens soal kehidupan mereka sebagai…orang dewasa. Mereka membicarakan masalah remeh-temeh dengan santai namun terkadang dengan penuh emosi membahas hubungan yang terjalin panjang diantara mereka. Certified Copy adalah sebuah film romantis dalam perspektif seorang Abbas Kiarostami dan dengan cantik memberikan kita dekripsi sekaligus kritisi tentang persepsi terhadap sebuah hubungan dalam bentuk terbanalnya, realisme? And sometime reality sucks. We all supposed to know that.  Is it art imitating life or life imitating art? That’s what Certified Copy really about.

#02

“A SEPARATION”
(Asghar Farhadi)

A Separation adalah contoh film yang memiliki materi cerita sederhana namun kemudian berkembang dalam kompleksitas yang ruwet. Ia tidak hanya berbicara tentang konflik domestik akan tetapi juga menjabar pertentangan kelas sosial, analisa sosiologis terhadap kepentingan gender dan strata masyarakat Iran kontemporer dan interelasi manusia. Nader and Simin, A Separation is first rate drama. The plot is intriguing and deeply moving. Meski berseting di Iran moderen, namun esensi yang terkadung didalamnya bisa diadopsi oleh kalangan masyarakat kontemporer lainnya. Dengan segala kelebihannya, it’s definitely one of the best film for this year. A-must-see!

#01

“THE KID WITH A BIKE”
(Jean-Luc & Pierre Dardenne)

Kesederhanaan akan mudah kita temui dalam film ini. Mulai dari struktur narasi, komposisi gambar, hingga teknik produksi. Kakak beradik Jean-Luc dan Pierre Dardenne kembali menerapkan teknik dokumenter, yang tentu saja mereka kuasai dengan baik.  Film dengan fasih membiarkan kita larut dalam hubungan emosionil antar karakter utamanya. Adegan-adegan ditampilkan seolah-olah bagian dari keseharian. Tidak ada dialog-dialog pretensius apalagi politis. Semuanya terasa membumi. Dan inilah yang membuat narasi begitu mengikat, karena kita dapat merasakan setiap detil emosi di atmosfirnya; getir, sedih, kecewa, bahagia bahkan bahaya yang mengancam.

Advertisements

8 thoughts on “2011: A Great Year of Cinema – 10 Best Films

Comments are closed.