Ada Apa Dengan Cinta? Dan Kenangan 10 Tahun Yang Lalu

Jika sepuluh tahun yang lalu jaringan sosial media bernama Twitter sudah eksis, mungkin  linimasa saya akan dipenuhi dengan berbagai komentar tak berkesudahan tentang film Indonesia terbaru yang berjudul Ada Apa Dengan Cinta? (AADC?). Namun, pada saat itu tidak perlu Twitter untuk mengabarkan dengan cepat betapa bagusnya film ini dan keharusan untuk menontonnya di bioskop. Layaknya wabah virus yang menyerang dengan kecepatan tinggi di film-film bertema zombie, kabar tersebut menyebar dengan cepat dan tidak heran gerombolan orang pun berbondong-bondong memenuhi bioskop.

Yep, tepat pada tanggal 8 Februari 2002, sepuluh tahun lalu, film  Ada Apa Dengan Cinta? dirilis ke bioskop-bioskop di Indonesia. Sepuluh tahun yang lalu juga menjadikan kita sebagai saksi akan fakta bahwa film Indonesia akhirnya dapat bangkit dari fase hibernasi yang cukup panjang. Di tahun itu kita seolah tersadar bahwa ternyata secara kualitas film Indonesia juga tidak kalah dari film asing yang saat itu masih sangat mendominasi. Semua berawal dari kecintaan para pembuatnya (Mira Lesmana, Riri Riza, Rudi Soedjarwo dan banyak lagi) terhadap film lokal. Rasa cinta yang akhirnya memenuhi semangat mereka untuk mengajak kita untuk kembali ke bioskop demi film yang berbahasa dan berlokasi Indonesia.

Saya ingat, Miles Film sebagai rumah produksi di belakang AADC? begitu gencar mempromosikan film ini, tidak hanya melalui berbagai media, baik cetak maupun audio-visual, namun juga dengan memanfaatkan album soundtrack. Sesuatu yang mulai jarang dilakukan oleh sineas kita. Tangan dingin Melly Goeslaw bersama Anto Hoed terbukti sakti dalam memberikan kita lagu-lagu yang tidak hanya mumpuni secara kualitas namun juga sangat renyah untuk disimak. Salah satu karya terbaik duo suami-istri tersebut yang bahkan hingga kini tetap tak lekang oleh waktu. Kesuksesan album soundtrack-nya tampaknya merupakan salah satu kunci pendorong para penikmatnya untuk menyaksikannya sebagai bagian dari filmnya, seperti alasan utama saat itu.

Saya,sebagaimana kebanyakan orang pada kala itu, adalah termasuk golongan yang pesimisdengan film Indonesia. Disamping tidak begitu banyak film yang beredar, masih tersisa perasaan traumatis yang mendalam (hahaha) dengan film-film yang banyak beredar di periode 90-an, film berbau seksualitas dengan kualitas buruk. Dengan adanya stigma tersebut, tentu saja saya sama sekali tidak terkesan dengan promosi masif yang tengah dilakukan oleh pihak Miles Film. Hanya saja saat itu I’ was a devoted fan of Potret and Melly Goeslaw as the master mind behind the band, jadi kehadiran album soundtrack AADC? jelas menarik perhatian saya. Sekali dengar, saya sudah jatuh cinta dan memutuskan untuk menyaksikan filmnya untuk melihat bagaimana lagu-lagu di dalam album tersebut akan menjadi pengiring ceritanya.

Pada awalnya saya tidak berminat untuk menyaksikan secara buru-buru, namun seorang sepupu berkeras ingin menyaksikannya di tepat hari pertama penayangan, maka jadilah tepat di hari pertama kita menonton filmnya. Setiba di bioskop, salah satu bioskop kelas A di kota Medan saat itu yang sayangnya sekarang sudah tidak ada, kami kaget karena melihat antrian di loket yang begitu panjang. Perasaan antara senang dan jengkel pun menjadi satu. Senang karena melihat animo masyarakat yang begitu tinggi. Jengkel karena harus mengantri untuk medapatkan tiket. Akhirnya setelah berdiri berdesakan cukup lama kami pun akhirnya memeroleh tiket meski mendapat tempat tepat di barisan paling depan yang mengaruskan kami menonton sambil mendongak.

Yang paling saya ingat setelah menyimak filmnya, betapa banyak aspek sosiologis yang bisa dipetik dari kisahnya, hahaha. Maklum, saya saat  itu masih berstatus mahasiswa FISIP, sehingga segala sesuatu yang berkaitan dengan kajian keilmuan selalu menarik perhatian. Secara teknis bagi saya film tersebut bukanlah sesuatu yang istimewa, namun kemampuan film untuk mengajak kita turut dalam aliran kisahnya cukup membuat saya kagum. Oleh karenanya saya tidak keberatan saat diajak teman-teman kampus untuk menonton lagi filmnya.  Dan satu kali lagi bersama adik saya.

Setelahnya hanya sejarah. AADC? pun menjadi salah satu film Indonesia tersukses. Menjadi pendorong untuk maraknya film-film Indonesia untuk dapat kembali eksis bahkan hingga saat ini. Orang-orang yang berada dibelakangnya pun akhirnya menjadi barisan pelaku seni yang menjulang namanya. Nama-nama seperti Nicholas Saputra, Dian Sastrowardoyo, Ladya Cheryl, Adinia Wirasti, Titi Kamal dan Sissy Priscillia  tetap berada di jalur film, meski saat ini tidak semua benar-benar aktif, namun sebagian dari mereka terlibat dalam proyek-proyek film berkelas yang sangat layak untuk disimak.

Untuk memperingati 10 tahun AADC?, Miles Film memutar ulang film tersebut di salah satu bioskop di Jakarta sampai hari Minggu. Sayang, kota Medan atau kota-kota lain di Indonesia tidak kebagian jatah tayang, karena kalau tidak saya ingin sekali lagi mengulang pengalaman menyenangkan menyaksikan film tersebut di layar lebar.

Yang saya harapkan, salah satu distributor home video berkenan untuk merilis ulang DVDnya, secara DVD AADC? (yang tidak salah merupakan salah  satu DVD film Indonesia pertama) yang saya miliki sudah rusak, indikasi kualitas yang kurang memadai. Sudah sepantasnya kita memiliki film ini sebagai bagian dari sejarah perfilman Indonesia.

 

Advertisements

2 Comments

  1. sampe sekarang klo liat AADC lagi,masih ngrasa klik–ga lekang oleh waktu…kapan ya ada film lokal remaja kaya gini lagi?
    hm…yg ga harus berkutat dgn penyakit kronis dan karakter ABG klise 😀

  2. Review filmnya bagus. Well, sqyangnya saat filmnya tayang di bioskop, saya belum lahir. Hiks hiks.

    Tapi beruntunglah karena sekarang zamannya internet, jadi bisa download~

Comments are closed.