Film Review: Malaikat Tanpa Sayap (2012)

Malaikat Tanpa Sayap

Seingat saya melodrama Indonesia umumnya tak pernah lepas dari haru-biru romansa yang berbau dengan kematian. Kematian yang selalu berperan untuk menggerakkan arus emosi di dalam pergerakan alurnya. Kematian yang seolah-olah menjadi alat untuk memancing rasa haru dan kasihan kepada karakter-karakternya. Dan Malaikat Tanpa Sayap (MTS) sebuah film yang rilis di awal 2012 masih menggangap formula klise tersebut ampuh dalam menjadi agenda berceritanya. Kisah sepasang muda-mudi yang kekuatan cintanya harus diuji dengan maut yang membayangi karena, tiada lain tiada bukan, sebuah penyakit mematikan. Namun sebaiknya tidak usah buru-buru mendiskreditkan film ini, karena ternyata ia masih menyimpan kekuatan lain untuk menarik perhatian kita.

Rako Prijanto adalah orang yang berada di balik MTS, nama yang akhir-akhir ini seolah terjebak dalam film-film tidak penting dan memarginalisasi kekuatan Rako sebagai seorang sutradara. Jangan lupakan debut penyutradaraanya dalam Ungu Violet (2005) yang menggugah atau film eksperimentalnya, Merah Itu Cinta (2007). Mengatakan film-film tersebut buruk akan terdengar subjektif dan (mungkin) pretensius, karena meski memiliki aspek tematis yang lemah namun dalam perspektif tertentu mereka adalah film yang cukup kuat dalam bertutur. Dan visi Rako terhadap hal-hal puitis tersampir dengan jelas, yang mungkin menggelikan bagi sebagian orang, namun efektif menggedor pintu emosi banyak orang lainnya. Atmosfir puitis yang romantis tampaknya memang idealisme Rako dalam berkarya. Bahkan puisi-puisi cantik dalam Ada Apa Dengan Cinta? (2002) pun lahir dari tangannya. Oleh karenanya saya cukup senang saat dalam MTS, Rako seolah kembali ke khitahnya.

MTS berkisah tentang Vino (Adipati Dolken) seorang remaja sinikal yang tidak terlalu lekat dengan keluarganya. Saat sang ayah, Amir (Surya Saputra) jatuh miskin karena ditelikung rekan bisnisnya, sang Ibu, Mirna (Kinaryosih) malah memutuskan untuk meninggalkan mereka. Seolah belum cukup, adik perempuan Vino, Wina (Geccha Qheagaveta) mengalami kecelakaan dan harus mendapatkan operasi jika tidak mau terancam jiwanya. Seorang pria misterius (Agus Kuncoro Adi) kemudian menawarkan Vino sejumlah uang dengan nominal yang luar biasa dengan imbalan jantung Vino sebagai donor untuk seseorang yang membutuhkan. Di saat lain, Vino berkenalan dengan Mura (Maudy Ayunda), seorang gadis periang dan budiwati. Kebersamaan Vino bersama Mura memberi warna dalam kehidupannya yang suram. Namun, Mura menyimpan sebuah rahasia yang mungkin akan memisahkan mereka selama-lamanya.

Membaca sinopsis diatas, tanpa harus menjadi spoiler, kita seharusnya sudah bisa menebak kemana film akan bermuara. Formula klise lagi-lagi menjadi amunisi dalam skenarionya. Akan tetapi bukankah semenjak Pygmalion, melodrama selalu lekat dengan hal-hal yang sifatnya streotipikal dan penekanan pada aspek emosional secara berlebihan? Tentu saja adalah naif untuk membandingkan MTS dengan karya Jean-Jacques Rousseau tersebut, apalagi mengharapkan MTS sebagai sebuah kajian tajam tentang aspek sosial-politis seperti hanya film-film melodrama milik Douglas Sirk, Rainer Werner Fassbinder atau maestro kita, Teguh Karya. MTS memang hadir untuk memuaskan keinginan penonton untuk larut dalam duka dan cita. Bahkan kalau perlu terkuras airmatanya. Meski memang harus disayangkan tidak menawarkan sesuatu yang baru dan belum lagi masalah plot yang seolah terlupa pada penempatan logika secara tepat atau oversimplikasi yang kebanyakan merambati film-film kita. Belum lagi klimaks film yang terasa terlalu tergesa dan terkesan mengambil “jalan pintas”.

Namun MTS tidak hanya kisah cinta Vino dan Mura. Ia juga berkisah tentang seorang anak yang merasa kecewa dengan keluarganya. Seorang suami dan ayah yang terluka harga dirinya atau disaat lain tentang orang tua yang harus merana menyaksikan sang anak yang secara perlahan-lahan akan terlepas dari pelukannya. Tabik untuk penampilan gemilang Ikang Fawzi yang berhasil menohok sudut kalbu tentang kegalauan ini. Namun kredit lebih harus diberikan kepada Surya Saputra yang dengan apik menampilkan sosok yang tidak melulu harus bijaksana atau lebih dewasa ketimbang putra tertuanya dan disaat lain merasakan kegusaran akan intimidasi terhadap perannya sebagai kepala keluarga serta rasa sayangnya kepada sang anak laki-laki yang seolah berjarak kepadanya. Sepanjang durasi Surya nyaris hadir dalam emosi yang tertahan dan menyesakkan. Dan ia berhasil membuat kita merasakan itu.

Ini yang membuat MTS menjadi menarik. Kronik keluarga, yang sebenarnya bertugas sebagai subplot, kemudian cenderung mengambil peran yang lebih dominan. Tanpa kehadirannya dan melulu hanya bersandar pada romansa remaja Vino-Mura, MTS akan menjadi film yang kering. Menyatakan kisah orang-tua dan anak dalam MTS sebagai upaya untuk memperumit kisah yang sederhana adalah sama mentahnya dengan mengharapkan salju turun di bulan April. Justru ia menjadi dasar yang cukup kuat untuk memproyeksikan kisah cinta tipikal tadi menjadi lebih bermakna.

Advertisements

One thought on “Film Review: Malaikat Tanpa Sayap (2012)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s