Film Review: Dilema (2012)

Keuntungan menonton sebuah film dengan konsep omnibus adalah kesempatan untuk menyaksikan sejumlah kisah yang dibungkus dalam satu paket. Omnibus juga dapat menjadi sarana bagi beberapa sutradara pemula untuk dapat memperkenalkan karyanya ke publik karena selain dapat lebih fokus menggarap filmnya yang hadir dalam narasi yang relatif lebih pendek juga tidak harus terbebani sendiri dengan sejumlah prosedur rumit dalam membuat film panjang. Dan tampaknya akhir-akhir ini proyek omnibus laris manis diterapkan oleh para sineas kita, sebut saja Takut, Jakarta Magrib atau FISFIC 6 Vol. 1 sebagai contohnya. Menyusul kini ada Dilema yang merupakan proyek keroyokan empat sutradara muda dalam usia dan karya, Adilla Dimitri, Robert Ronny, Robby Ertanto Soediskam, dan Rinaldy Puspoyo. Dimitri dan Ronny memulai debut mereka melalui Dilema, sedang Soediskam pernah ikut proyek Takut dan 7 Hati, 7 Cinta, 7 Wanita dan Puspoyo berpengalaman dalam mengerjakan film 6:30.

Uniknya, jika sebagian besar omnibus adalah sebuah antologi film yang berdiri sendiri-sendiri, terlepas dari memiliki benang merah atau tidak, maka Dilema memilih pendekatan ala film dengan multiplot, seperti Babel atau Crash, dimana setiap plot dialirkan dengan saling silang bergantian menindih plot yang lain Film yang memakai alur seperti ini memiliki potensi untuk memperkaya dinamika dalam bertutur dan mempertajam objek film. Jika tidak ditangani secara matang, plot yang memiliki jalan cerita berbeda namun ditampilkan silih berganti akan cenderung membingungkan penonton. Namun jika ditangani secara mulus dan rapi, malah menjadi kenikmatan tersendiri dengan menyimak potongan cerita serupa puzzle yang menantang kita untuk menyatukannya. Dan ternyata, Dilema terjatuh pada kategori yang pertama.

Saya tidak peduli film ini mau mengambil pendekatan yang bagaimana dalam struktur narasinya, asal saja dia mampu mengkomunikasikan dengan baik ide dan konteks yang diapungkannya kepada penontonnya. Masalahnya, tidak semua kisah dalam film ini digarap dengan baik. Tidak hanya karena hasil editing yang kurang mulus sehingga persinggungan multiplot menjadi kasar dan sangat mengganggu, namun juga menyebabkan kisah yang menjemukan menutupi kisah yang menarik. Pada akhirnya film malah mendudukkan penonton pada situasi yang dilematis, mau meninggalkan ruang bioskop karena merasa tersiksa oleh buruknya film bertutur, akan tetapi tanggung karena segmen yang menarik perhatian kita belum menemukan klimaksnya. Mau tidak mau penonton menjadi seorang pelaku sadomasokis yang menyiksa diri sendiri dengan bertahan hanya karena penasaran ingin melihat closure film.

Ada lima kisah di dalam Dilema: seorang reserse muda dalam hari pertamanya patroli di ibukota, seorang mantan pejudi yang mencoba mendapatkan harga dirinya kembali, perempuan muda kesepian yang didekati oleh seorang bandar narkoba, dua orang ekstrimis atas nama agama dan seorang arsitek muda yang harus menemui seorang pengusaha sukses namun sebenarnya memiliki banyak usaha gelap. Dua kisah pertama, yang disutradarai oleh Dimitri dan Ronny, adalah highlight dari Dilema, tidak hanya karena memiliki bingkai plot yang jelas namun juga karena penggarapan yang rapi. Sisanya adalah sebuah upaya mentah yang mencoba terlalu keras untuk tampil edgy namun terlihat sama palsunya seperti janggut dan kumis yang dipakai oleh Winky Wiryawan.

Mungkin Dilema berangkat dari niat baik untuk mencoba menangkap sisi lain Jakarta yang selama ini kita kenal sebagai sosok penuh harapan dan glamor. Tidak kita nafikan jika fragmen dalam Dilema memang banyak terjadi di sekitar. Namun niat baik saja tidak cukup. Film adalah tutur. Bagaimana pun bentuknya. Mungkin sebaiknya Dilema memilih bentuk omnibus dalam segmen saja ketimbang memaksakan diri sebagai mosaik. Selain timpang, juga mengorbankan banyak hal, mulai dari logika hingga kronologis waktu yang tak sejalan. Hingga pada akhirnya, kisah-kisah yang tertuang dalam Dilema tidak lebih hanya kumpulan sketsa yang tidak benar-benar memiliki kedalaman untuk membuat kita menyerap moral dalam ceritanya. Itu juga kalau ada. Meski demikian, Dilema masih menjanjikan kita beberapa nama muda berbakat yang tampaknya bisa menjadi harapan masa depan perfilman Indonesia. Semoga.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s