Film Review: Negeri 5 Menara (2012)

Saya mengerti mengapa Alif (Gaza Zubizareta) enggan menerima tawaran kedua orang tuanya (David Chalik dan Lulu Tobing) untuk melanjutkan pendidikan selepas sekolah menengah pertama ke pesantren daripada sekolah umum. Banyak pandangan tak sedap yang tersampir di pesantren dengan segala keterbatasannya. Pada akhirnya Alif mengalah dan meninggalkan kampung halamannya di Maninjau, Sumatera Barat dan menimba ilmu di sebuah pesantren di Ponorogo, Jawa Timur, bernama Pondok Madani pimpinan Kyai Rais (Ikang Fawzi). Di sana ia menjalin persahabatan dengan lima anak lainnya, Baso (Billy Sandy) dari Gowa, Atang (Rizky Ramdani) dari Bandung, Said (Ernest Samudera) dari Surabaya, Raja (Jiofani Lubis) dari Medan, dan Dulmajid (Aris Putra) dari Madura. Mereka kemudian dijuluki sebagai Sahibul Menara dan memiliki cita-cita tinggi untuk masa depan mereka dengan berlandaskan semangat yang dilantangkan oleh salah satu pengajar, Ustad Salman (Donny Alamsyah), Man Jadda Wajada! Siapa yang bersungguh-sungguh pasti akan berhasil. Demikianlah hikayat yang diusung oleh film berjudul Negeri 5 Menara, buah karya terbaru dari Affandi Abdul Rahman (The Perfect House).

Negeri 5 Menara adalah film yang menyusul film-film seperti Laskar Pelangi dan Ayat-Ayat Cinta sebagai barisan film yang diangkat dari novel populer. Dengan modal jumlah pembaca setia yang melimpah sudah dapat dipastikan jika film ini pun (mungkin) akan menyusul kesuksesan film-film tersebut. Uniknya, Negeri 5 Menara pun memiliki Salman Aristo yang berperan sebagai penulis skenario dari novel karya Ahmad Fuadi tersebut, sebagaimana dulu ia mengadaptasi novel-novel seperti Laskar Pelangi atau Ayat-Ayat Cinta. Dengan jam terbang cukup tinggi dalam menangani film-film adaptasi, tentu saja kita bisa berharap lebih kepada alur kisah film ini. Sedang bagi Affandi Abdul Rahman ini adalah film adaptasi novel pertamanya dan sulit untuk bisa meraba apakah dirinya akan mampu menerjemahkan isi novel, baik cerita maupun esensi, dengan proporsional.

Setelah menyaksikan filmnya langsung, ternyata hasilnya lumayan juga. Filmnya menghibur. Pace yang berjalan dalam tempo sedang memberi waktu bagi kita yang tidak pernah membaca novelnya untuk dapat mencerna karakter-karakter juga kisah mereka. Bahkan dipastikan penonton yang sangat awam sekali dengan cerita dalam Negeri 5 Menara akan dapat mengikuti alurnya dengan mudah karena nyaris tidak terjadi sesuatu yang benar-benar signifikan dalam perkembangan plot. Film hanya mencoba menggambarkan kehidupan enam remaja ini di dalam pesantren tanpa ada urgensi untuk memberi “misi” agar terjadi intensitas di dalam dinamika cerita. Menjelang akhir, barulah mereka dilibatkan dalam sebuah “tugas” yang kemudian dapat “diperdayakan” sebagai kilmaks cerita. Kelemahannya, Negeri 5 Menara bukanlah jenis film yang inspiratif, sebagaimana Laskar Pelangi misalnya, terlepas dari adanya anggapan doktrin pedagogi yang mengukur keberhasilan dengan pencapaian pendidikan tertinggi di luar negeri.

Memang, pada akhirnya tujuan para karakter adalah untuk mencapai kesuksesan yang ditandai dengan niat mengunjungi lima buah menara terkenal yang terdapat di berbagai penjuru dunia. Mengapa lima menara alih-alih enam? Jawabannya dapat ditemukan dalam film ini. Sayangnya film tidak benar-benar menunjukkan “kerja keras” mereka untuk mencapai “prestasi” tersebut. Kita hanya disajikan semacam rangkaian fragmen yang nyaris tanpa konflik yang berarti untuk memancing emosi yang mendalam, kecuali beberapa riak kecil di jalan menuju penghujung cerita. Lempangnya plot didukung pula dengan datarnya kualitas akting para pemain utamanya. Namun ini dapat dimaklumi mengingat mereka adalah nama-nama baru yang kemungkinan baru sekali ini menjajaki dunia akting, dengan pengecualian Billy Sandy yang berperan sebagai Baso yang tampil cemerlang dan sangat meyakinkan. Untunglah kehadiran nama-nama beken sebagai pemain pendukung menghapus dahaga di tengah kualitas akting yang kerontang, sehingga dinamika film tidak menjadi terlalu kaku.

Negeri 5 Menara bukanlah film yang istimewa. Secara teknis juga tidak luar biasa. Tapi saya mengerti jika para penonton kemudian dapat menikmati film ini. Karena bagaimana pun sebuah kesederhanaan itu biasanya selalu lebih mudah untuk dipahami dan juga dinikmati.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s