Film Review: Modus Anomali (2012)

Nama Joko Anwar rasanya sudah menjadi jaminan akan film-film yang mampu meningkatkan standar kualitas yang menjadi patokan film Indonesia dewasa ini. Semenjak debut manisnya dengan Janji Joni di tahun 2005 hingga film-film thriller bercita rasa seni tinggi Kala (2007) dan Pintu Terlarang (2009). Agak melanggar kebiasaan rilis film per-dua tahun, kini tiba karya terbarunya, Modus Anomali, yang kabarnya melengkapi trilogi Dead Time, setelah Kala dan Pintu Terlarang. Sekali lagi, secara teknis, Modus Anomali menjanjikan kualitas yang mumpuni dan sangat memuaskan. Namun, apakah Joko Anwar berhasil meningkatkan kualitas filmnya secara umum? Nanti dulu.

Dalam Modus Anomali, Joko mencoba mengadosi unsur tematis cabin in the woods yang telah menjadi pakem umum bagi banyak film horor. Sebut saja Friday The 13th, The Burning, Sleepaway Camp, Evil Dead, Cabin Fever hingga yang terbaru The Cabin in The Woods. Film-film seperti ini biasanya berseting di tengah hutan dengan sekelompok orang yang tengah menikmati liburan dengan menginap di sebuah pondok sampai “sesuatu” mulai meneror ketentraman dengan maut sebagai ancamannya. Nah, premis demikian juga menjadi sentra utama bagi Modus Anomali.

Seorang pria (Rio Dewanto) terbangun di tengah hutan tanpa mampu mengingat apa yang tengah terjadi bahkan namanya sendiri. Ia tiba disebuah pondok dan dari sebuah video ia berasumsi jika istrinya yang tengah hamil (Hanah Al Rashid) menjadi korban pembunuhan sesosok misterius dan dua anaknya ((Izzati Amara Isman dan Aridh Tritama) hilang di tengah hutan. Maka dimulailah pencariannya memutari hutan sambil mencoba menyelamatkan diri dari ancaman sang sosok misterius yang sesekali muncul untuk membunuhnya. Sementara itu sang pria yang tampaknya bernama John Evans itu juga menemukan beberapa jam weker yang berdering secara berkala. Entah apa maksudnya.

Menonton Modus Anomali itu perlu ekstra kesabaran karena di pertengahan pertama, Joko dengan sengaja menjaga tempo agar bergerak secara perlahan. Kamera yang bergerak merapat dengan karakter yang diperankan oleh Rio Dewanto mungkin bertujuan agar kita, penonton, dapat mengintil dengan ketat kemana pun karakter tersebut bergerak. Tentu saja mudah-mudahan saja penonton juga merasakan kegelisahan serta kebingungan yang dialami oleh dirinya.

Adegan pun seperti berputar-putar layaknya Rio Dewanto yang berteriak-teriak (yang terasa mengganggu ketimbang memberi penekanan pada emosi dan dalam bahasa Inggris yang tidak nyaman didengar) nyaris sepanjang durasi film dalam melampiaskan kekalutannya. Memasuki paruh kedua, saat tensi film mulai bergerak pasti, karakter-karakternya pun menjadi lebih aktif sehingga tempo dapat menjadi lebih dinamis. Oh tapi saat kita mengira film sudah menemui klimaksnya, Joko Anwar masih  menyiapkan panggung terakhir yang kiranya dapat menjelaskan semua kebingungan yang menyergap di awal.

Modus Anomali is  a handsome film. Joko telah menunjukkan kelasnya dengan teknis film yang ultra cantik. Tata audio, tata kamera, tata seting dan pemilihan tone warna yang menghadirkan kesan kelam dan dingin. Hanya orang dungu yang tidak tahu kalau film ini dikerjakan dengan usaha yang keras dan semangat yang tinggi untuk menghasilkan film yang baik dan benar. Akan tetapi film dengan teknik juara tidak melulu pararel dengan konsep film yang bagus.

Meski bermodalkan premis yang sangat sederhana, Joko mencoba membombardir kita dengan berbagai twist yang sedianya membuat penonton terpengarah. Namun nama Joko sepertinya sudah sinergi dengan apa yang disebut dengan twist, sehingga rasanya wajar jika calon penonton sudah membekali diri mereka dengan berbagai ekspektasi (akan hadirnya twist) yang berimbas pada upaya kejelian untuk menangkap remah-remah petunjuk yang disebar di sepanjang film.

Dan rasanya, yang entah karena film terlalu murah hati atau penonton yang semakin familiar dengan gaya Joko, di beberapa menit awal teka-teki yang sedianya menjadi kejutan sudah dengan mudah tertebak. Masalahnya, selain memiliki beberapa plot holes, cerita juga terasa sangat manipulatif jika tidak mau dikata curang, karena sebagian petunjuk menjadi sumir untuk menjadi bagian dari keseluruhan bangun ruang ceritanya.

Pada akhirnya film seperti menantang (atau mungkin malah mengejek) daya nalar penonton untuk dapat mereka apa maksud dan tujuan film ini. Maka hadirlah kisah diakhir yang mungkin berfungsi sebagai eksposisi namun pada akhirnya malah menimbulkan beberapa pertanyaan lagi. Belum lagi absennya kesan tegang dan menyeramkan yang seharusnya didapat dari film yang “menjual” misteri seperti ini. Semuanya terasa sangat steril dan metodik, mengikuti pakem tanpa benar-benar ada sensasi thrill dari sebuah thriller.

Jika pernah menyaksikan serial semacam  The Twilight Zone atau The Outer Limits, maka sensasi menyaksikan Modus Anomali adalah seperti menyimak salah satu episodenya. Kisah misteri yang menggelitik namun tidaklah benar-benar mencengangkan. Apalagi mengingat ini sebuah film layar lebar. Akan tetapi apa yang bisa kita harap dari sebuah film dengan plot setipis kertas yang terkesan memanjang-manjangkan cerita untuk memenuhi durasi (kurang lebih) 90 menitnya? Jadi nikmati saja sebagai sebuah film ringan yang mencoba untuk tampil “beda”. Lupakan tentang “siapa” dan “mengapa” yang menjadi penggerak arus alurnya dan nikmati sebagai sebuah “pengalaman” tentang “bagaimana”, maka Modus Anomali akan lebih gampang untuk dinikmati.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s