Film Review: Negeri di Bawah Kabut (2011)

Negeri di Bawah Kabut

Melalui kehidupan sehari-hari dua keluarga petani, Negeri di Bawah Kabut mengajak kita melihat lebih dekat bagaimana perubahan musim, pendidikan dan kemiskinan saling berkaitan satu sama lain.”

Saat ini saya merasa beruntung sekali berdomisili di Medan, kota yang biasanya menjadi anak tiri untuk penayangan film-film non-mainstream,  namun syukurlah mendapat jatah pemutaran untuk salah satu film karya anak negeri yang berprestasi, Negeri di Bawah Kabut atau The Land Beneath the Fog. Film ini hadir sebagai bagian pemutaran keliling film dokumenter karya Shalahuddin Siregar yang menoreh catatan khusus dengan meraih Special Jury Prize’ di The 8th Dubai International Film Festival 2011 yang lalu.

Dalam sesi diskusi setelah penayangan, Shalahuddin Siregar menyebutkan jika jenis filmnya adalah observatory documentary, dimana materi film disampaikan melalui kata, perbuatan dan sudut pandang objek kajian. Tanpa pengaturan panggung, musik latar, efek suara, intertitles atau narator. Sepanjang durasi kita (hanya) akan menyaksikan kehidupan keseharian dua keluarga petani, yang menetap di sebuah desa bernama Genikan yang terletak di lereng Gunung Merbabu, Jawa Tengah, dalam bentuk yang paling banal. Bersama, kita diajak untuk singgah dan berdiam sekejap di desa tersebut dan merasakan geliat hidup mereka yang penuh dengan kesederhanaan.

Ada dua keluarga yang menjadi poros utama narasi. Keluarga pertama adalah pasangan suami istri Muryati dan Sudardi dengan dua anak laki-laki dan Arifin yang duduk di bangku terakhir Sekolah Dasar setempat. Jika Muryati dan Sudardi adalah pasangan suami istri  petani yang mengeluhkan tentang cuaca yang tak menentu, maka Arifin tengah gamang dengan masa depannya selepas SD, karena kedua orangtuanya yang merupakan petani penggarap hidup dengan segala keterbatasan sehingga mengalami kesulitan untuk membiayai pendidikan Arifin lebih lanjut.

Berbeda dengan kebanyakan dokumenter, terutama yang ada di Indonesia, Negeri di Bawah Kabut hadir dengan gaya pendekatan ala cinéma vérité. Alih-alih berisi serangkaian wawancara dan narasi pengantar, maka film memilih untuk memaparkan para narasumber dengan apa adanya, seolah-olah mereka tidak menyadari akan adanya kamera yang hadir ditengah-tengah dan terus membayangi serta menangkap aktifitas mereka.

Tidak heran jika ada beberapa penonton yang mengira jika Negeri di Bawah Kabut adalah sebuah film fiksi karena bertutur dengan alur dan dialog. Belum lagi penataan sudut pandang kamera yang dengan jitu menangkap keindahan panorama pegunungan Merbabu layaknya gambar-gambar menyenangkan di kartu pos wisata yang biasa kita beli di toko buku.

Tampaknya teknik dengan gaya sinematis dipergunakan dalam memprovokasi objek yang menjadi topik untuk dapat digali lebih lanjut. Contohlah pemanfaatan shot-shot panjang yang berguna untuk menggali gestur para informan secara lebih intim juga personal. Hal ini tentu saja agar ritme kehidupan mereka yang berjalan lambat dan tenang dapat ditangkap, dirasakan dan dimaknai oleh penonton.

Monoton? Bisa jadi begitu, sebagaimana yang diungkapkan oleh salah seorang penonton sehabis menyaksikan filmnya. Ia juga tidak menemukan urgensi dari filmnya. Apa sih sebenarnya yang ingin disampaikan? Tidak bisa disalahkan juga. Ditengah kebiasaan menyaksikan film tiga babak yang dengan nyaman mengarahkan penonton pada solusi, tentu saja apa yang ditawarkan oleh Negeri di Bawah Kabut terasa tawar dan tak menarik. Apa serunya menyaksikan orang-orang yang menghabiskan waktu mereka membicarakan cuaca yang semakin tidak jelas, ancaman gagal panen, harga jual sayuran yang semakin tidak kondusif atau gundahnya sebuah keluarga akan kelanjutan pendidikan sang anak?

Tentu saja Negeri di Bawah Kabut bukanlah film dokumenter terbaik yang pernah ada. Materi yang dipaparkan juga tidak cukup kompleks sebagai bahan analisa masalah lingkungan yang komprehensif. Akan tetapi pilihan film untuk mengangkat permasalahan keseharian penduduk desa menegaskan jika kita yang terbiasa dengan problema kaum urban (kelas menengah), seperti batalnya konser Lady Gaga atau sulitnya mendapat tiket bioskop IMAX, seolah terlupa ada kelompok masyarakat  dengan masalah yang mungkin sederhana bagi kita namun krusial bagi kelangsungan kehidupan mereka.

Arifin membutuhkan biaya sekitar 700 ribu rupiah agar bisa masuk ke sekolah negeri, meski kata pak guru ia sama sekali tidak perlu mengteluarkan biaya apapun kecuali baju seragam. Setelah mencoba berhutang kesana-sini, ayah Arifin pun akhirnya hanya bisa memasukkan dirinya ke sebuah pesantren. Atau Muryati yang harus bangun di awal subuh dan menerobos dinginnya pagi dan uduk di bak belakang sebuah mobil untuk menjual sayurannya ke pasar yang kemudian hanya dihargai sebesar 300 ribu rupiah. Alih-alih bersedih tak berujung, mereka menghadapi semua itu dengan santai dan senyum menyungging.

Menurut hemat saya, setelah menyimak filmnya, aksi dan motivasi para informan tidak bisa digolongkan sebagai sebuah sikap  yang fatalistik atau pesimistik. Akan lebih tepat jika disebut sebagai sebuah kearifan dalam menyikapi kehidupan mereka yang sederhana. Film tidak memberikan solusi karena memang bertujuan mengajak penonton untuk mengobservasi kehidupan para petani ini. Ia hadir sebagai sebuah perjalanan emosi yang dirasakan secara visual. Maka nikmati saja arusnya. Jika tidak, silahkan bergabung dengan penonton yang merasa kebosanan tadi.

Negeri di Bawah Kabut mengingatkan saya akan film-film Béla Tarr atau Abbas Kiarostami, yang menekankan alur pada aksi trivial dan banal  karakter-karakternya, namun mampu membangkitkan sisi humanis yang subtil sekaligus juga meresahkan. Film menghapus batasan jarak antara  mereka dengan penonton, yang pada awalnya hanya bertugas menjadi sosok pengamat asing dan berjarak. Kabut tebal yang menyelimuti, derai hujan yang membasahi tanah dan obrolan-obrolan ringan tidak lagi menjadi tontonan namun bagian dari pengalaman psikologis yang mendalam.

Advertisements

3 thoughts on “Film Review: Negeri di Bawah Kabut (2011)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s