Film Review: Men In Black III (2012)

Di tahun 1997, Men In Black menjadi salah satu film tersukses, tidak hanya dari segi komersial, akan tetapi juga mendapat atensi yang positif dari para kritikus. Film dengan baik berhasil memadukan antara satir, komedi gelap, fiksi-ilmiah dan tentu saja laga. Tidak heran lima tahun kemudian, di tahun 2002, dirilis Men In Black 2. Meski kurang mendapat sambutan yang menggembirakan dari para kritikus, namun film tersebut tetap menuai sukses yang memuaskan. sebenarnya tinggal menunggu waktu saja untuk munculnya Men In Black III (MIB III), namun ternyata kita harus menunggu selama 10 tahun untuk dapat menyaksikannya.

MIB III menjadi ajang reuni untuk sutradara Barry Sonnenfeld bersama duo Will Smith dan Tommy Lee Jones yang mengulang peran mereka sebagai agen rahasia antar-galaksi, J dan K. Tambahkan aktris watak asal Inggris,Emma Thompson, sebagai O, pimpinan terbaru MIB. J dan K sekarang harus menghentikan upaya seorang alien bernama Boris the Animal (Jemaine Clement) yang mencoba membalas dendam kepada agen K yang dulu memenjarakan dirinya di bulan selama 40 tahun dengan kembali ke masa lalu dan membunuh K disaat dirinya masih muda. Tentu saja J harus kembali ke masa lalu dan menyelamatkan K (kali ini diperankan oleh Josh Brolin) jika ingin sejarah tetap berada di tempatnya.

Men In Black masih mempunyai semua unsur humor yang menggelitik dan mengambil berbagai referensi popular sebagai ornamen dalam komedinya. Akan tetapi, sungguh disayangkan kita nyaris tidak dapat menemukan satir terhadap budaya pop lagi kali ini  karena MIB III tampil straight-to-the-point. Banal dan cenderung kering. Bahkan saat kita mengetahui Andy Warhol tidak sebagaimana yang ditampilkannya, tidak terasa mengangetkan lagi apalagi lucu. Semua serba tanggung.

Saat komedi tidak berhasil, maka skrip pun mengambil melankolisme sentimentil sebagai bahan rajutan ceritanya. Apalagi yang bisa digali selain hubungan antara J dan K, tentu saja. Dengan memanfaatkan gimmick perjalanan lintas waktu, J bisa mempelajari siapa itu K sebenarnya dan apa yang membuat ia menjadi sosok yang begitu kaku. “Kejutan” di ending dipastikan akan memeras emosi dan (diharapkan) air mata penontonnya.

Terlepas dari itu, MIB III masih tetap menyenangkan untuk disimak. Menghibur, meski porsi laga yang kian dipangkas demi mengejar penggalian sentimentalitas karakternya dan memaafkan hadirnya villain super konyol seperi Boris. Kredit lebih untuk Etan Cohen (Tropic Thunder) sebagai penulis skenario, yang mampu menjaga alur untuk tetap berada dalam koridornya, tanpa keinginan untuk melebar kesana-kemari.

Will Smith mungkin telah absen selama empat tahun dari pentas film dan sepuluh tahun semenjak terakhir menjadi seorang agen J, namun ternyata masih cukup mampu untuk membangun konsistensi karakter J. Yang patut dipuji justru adalah penampilan Josh Brolin sebagai K muda. Selain mampu mengadopsi karakter K yang diperankan oleh Tommy Lee Jones, ia juga memberi nuansa tersendiri dalam interprestasinya terhadap K. Sedang untuk Tommy Lee Jones sendiri lebih tepat jika disebut hadir seperti sebuah extended-cameo di film ini.

Pada akhirnya, MIB III hadir tidak lebih sebagai just another sequel yang tentu saja kehadirannya menjadi kewajiban dari franchise sebesar  Men In Black. Jangan heran jika beberapa tahun lagi akan ada bagian keempat dari petualangan Agen J dan Agen K dalam membasmi the scums of the universe. Dan kita hanya bisa berharap agar para penulis skenario jenius di Hollywood sana punya cara untuk mengembalikan Josh Brolin kedalam ceritanya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s