Film Review: Snow White and The Huntsman (2012)

Mungkin kakak beradik Jacob dan Wilhelm Grimm akan merasa bangga dan haru kalau mengetahui jika karya-karya mereka masih tetap diapresiasi sampai sekarang. Meski kemudian banyak terjadi penafsiran dan interprestasi yang kadang bergerak jauh dari pakem aslinya, namun setidaknya eksistensi mereka tetap terjaga dengan baik.  Snow White and The Huntsman (SWATH) adalah adaptasi terbaru dari kisah si Snow White atau Putih Salju yang ternama. Tentu saja ini bukan film pertama yang mengangkat dongeng klasik tersebut. Tercatat yang paling berkesan adalah film animasi klasik dari Walt Disney, Snow White and the Seven Dwarfs (1937) dan yang paling mutakhir, karya Tarsem Singh, Mirror Mirror (2012). Lantas apa yang membedakan film debut sutradara Rupert Sanders ini dengan yang terdahulu?

Secara premis, tidak banyak perbedaan. Masih bekutat tentang seorang ratu bertangan besi bernama Ravenna (Charlize Theron) yang terobsesi dengan kecantikan. Ia kerap bertanya kepada cermin ajaib (disulih suara oleh Christopher Obi Ogugua), “mirror, mirror on the wall. Who is fairest of them all?“, dan tersenyum puas saat sang cermin menjawab dirinyalah yang tercantik.  Namun ia menjadi sangat gusar saat suatu hari cermin justru menyebutkan sebuah nama lain, sebuah nama yang selama ini disekapnya di balik jeruji penjara di salah satu menara kastil kediaman Ravenna. Dialah Snow White (Kristen Stewart), sang putri tiri yang sejatinya adalah pewaris sah tahta kerajaan.

Suatu hari Snow White berhasil melarikan diri dari sekapan. Ravenna kemudian memerintahkan seorang pemburu bernama Eric (Chris Hemsworth) untuk menangkap Snow White. Namun, siapa nyana sang pemburu malah balik menolong Snow White melarikan diri, jauh masuk kedalam Dark Forest dan bertemu dengan segerombolan kurcaci (diperankan olen versi kerdil dari Bob Hoskins, Ian McShane, Ray Winstone, Toby Jones, Eddie Marsan, Johnny Harris, Nick Frost, dan  Brian Gleeson). Lantas kemanakah sang prince charming?

Jangan kuatir, William (Sam Claflin), sang pangeran, tetap diberi ruang untuk menjadi love interest Snow White. Namun dengan menilik judul yang diusung oleh film, Sang pangeran harus puas hanya menjadi karakter ketiga di antara Snow White dan Eric, sang huntsman. Skrip yang dikerjakan oleh trio Evan Daugherty, John Lee Hancock dan Hossein Amini jelas ingin mengalirkan arah kisah Snow White ke dalam ranah yang lebih kelam dan kuat dalam atmosfir fantasi. Bukan itu saja, sang putri kini juga direkonstruksi sebagai sosok pejuang yang tak segan-segan terlibat dalam aktifitas fisik yang berbahaya. Dengan semangat woman empowerment yang kental, SWATH kemudian seolah memarginalkan romansa dan mempertebal aksi laga.

Terlepas dari itu, subteks jika penampilan fisik masih menjadi prioritas bagi perempuan ternyata masih sulit untuk dialterasi, meski pun ia telah memilki kekuatan politis yang dominan.  Motivasi Ravenna yang hanya mengejar supremasi kecantikan membuat ia tidak lebih sebagai sosok rapuh yang bertopeng baja. Segala cara dihalalkan untuk  mempertahankan kelebihannya itu, termasuk subordinasi totalitarian terhadap orang-orang di sekitarnya, bahkan kepada saudara kandungnya yang setia, Finn (Sam Spruell).

Ujung-ujungnya, meski skrip merasa perlu untuk me-manusia-kan Ravenna dan tidak membiarkan dirinya terjebak dalam streotipe evil queen yang karikatural, tetap saja ia terasa berjarak dan tidak membumi. Charlize Theron memberi dimensi yang luas bagi karakternya, namun sayangnya kurang konsisten. Pada beberapa bagian ia terlihat menjadi begitu dingin, namun ternyata juga  sangat emosionil. Ujung-ujungnya ia cenderung labil ketimbang kharismatis. Apalagi Theron sulit untuk menghindarkan dirinya untuk tidak tampil over-the-top. Dear Charlize, the constant screaming in the top of your lung thingy is kind of annoying. 

Kelemahan lain dari SWATH adalah betapa berlapisnya wacana yang ingin diangkat di dalam kisahnya, akan tetapi mereka tidak benar-benar mendapat sudut pandang yang tajam dan menyeluruh, sehingga terasa tanggung. Kita sulit menghindarkan perasaan, meski plot bergerak cepat, namun tidak terdapat kedalaman yang bisa diselami. Semua hanya tampak dipermukaan, termasuk pergerakan hubungan antara Snow White dan Eric, sang pemburu. Minimnya porsi chemistry yang tebal diantara mereka sebenarnya bisa dimaklumi, mengingat rendezvous  di antara mereka terjadi dalam ruang dan kesempatan yang terbatas. Secara akting, Theron jelas terlihat superior ketimbang Stewart dan Hemsworth, akan tetapi sebenarnya mereka juga tidak jelek-jelek amat dalam menerjemahkan karakter mereka. Jelas masih perlu waktu untuk menciptakan sebuah getar romansa yang khas. Mungkin ini akan ditindaklanjuti dalam sekuelnya?

Sementara itu, jangan lupakan fakta bahwa SWATH adalah film yang cantik dan menarik. Dengan mengadopsi konsep fantasi milik Peter Jackson dan Guillermo Del Toro, ranah dongeng Snow WHite terasa lebih gelap dengan atmosfir gothik yang tebal, mengembalikan kenangan akan suramnya kisah-kisah dongeng ini sebenarnya. Tata visual yang rancak dari Greig Fraser begitu membius pandangan. Belum lagi penggambaran sosok-sosok mitologi yang dihadirkan dengan efek khusus yang sangat meyakinkan, membuat SWATH terlihat megah dan menutupi sederhananya plot yang sebenarnya diusung. Meski bukanlah sebuah film adaptasi dongeng klasik terbaik yang pernah ada, akan tetapi dengan tutur yang cukup mengalir, ia tetap layak untuk disimak.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s