Film Review: Prometheus (2012)

PROBABLY CONTAINS SOME SPOILERS >>>

Prometheus berakar dari ide Ridley Scott untuk membuat sebuah prekuel dari film fiksi limiah klasik, Alien (1979), yang tak lain merupakan salah satu karya terbaiknya. Namun dalam perkembangannya, konsep film kemudian berkembang menuju area yang berbeda meski tetap memakai konsep  yang ada di dalam Alien. Alih-alih kembali bercerita tentang sepak terjang si ganas xenomorph, Prometheus berkeinginan untuk menggali asal muasal Space Jockey sosok raksasa misterius yang terbaring dalam keadaan tak bernyawa di sebuah pesawat kosong yang tak terurus di planet LV-426. Namun kemudian, dalam perkembangannya, Prometheus bergerak ke arah yang lain, sesuatu yang mungkin telah menjadi bahan pemikiran kita selama bertahun-tahun. Well, at least for me.

Oh bukan. Saya tidak sefilosofis atau sedalam Elizabeth Shaw (Noomi Rapace), tokoh utama dalam Prometheus, dalam misi pencarian ke-Tuhanan-nya. Saya cuma heran, dalam mitologi Alien, masa ras mahluk asing yang eksis secara aktif hanya semacam serangga raksasa seperti xenomorph? Pasti ada gelagat kehadiran entitas dengan daya intelejensi cerdas yang memungkinkan mereka memiliki teknologi di atas rata-rata dan agenda politis tertentu. Tentu saja kehadiran Space Jockey menjadi sedikit pencerah, mengingat ia memiliki karakteristik tersebut, meski ditemukan di dalam keadaan tak bernyawa.

Damon Lindelof, yang bertugas sebagai penulis skenario (bersama dengan Jon Spaihts) tampaknya masih terkungkung dalam pola fikir saat mengerjakan serial LOST, dimana film mengajukan banyak pertanyaan yang justru menimbulkan banyak pertanyaan lain sehingga terkesan menyesatkan atau membingungkan, jika tidak mau disebut memiliki banyak lubang di dalamnya. Kisahnya sendiri berawal di tahun 2089, saat  Shaw, sang arkeolog, dan partner sekaligus kekasihnya, Charlie Holloway (Logan Marshall-Green), menemukan  mural-mural kuno dari berbagai peradaban di berbagai belahan bumi yang menunjukkan persamaan, sebuah panggilan dari angkasa luar.

Dibiayai oleh seorang mega konglemerat bernama Peter Weyland (Guy Pearce) maka, diluncurkanlah pesawat luar angkasa bernama Prometheus untuk mengikuti peta bintang kuno tersebut, yang kemudian ditandai sebagai planet  LV-223. Setelah terlelap dalam keadaan stasis selama beberapa lama, pada tahun 2093, mereka tiba di lokasi yang dituju. Para ilmuan yang menyertai proyek ini mendapat informasi untuk menemukan, sesuai sebutan Shaw, para Engineer, yang diduga kuat sebagai pihak yang memberikan peta bintang tadi. Di bawah pengawasan Meredith Vickers (Charlize Theron) yang tegas, maka dimulailah penjelajahan mereka. Namun apa yang mereka temukan ternyata tidak seperti yang mereka bayangkan. Kengerian dan horor pun membayangi, tidak hanya keselamatan mereka, namun juga umat manusia secara keseluruhan.

Noomi Rapace memainkan tugasnya sebagai karakter sentral dengan baik. Sosok yang memiliki tingkat keimanan yang tinggi, meski terpapar banyak informasi yang cenderung bisa menyesatkan kepercayaanya. Rapuh dan agak labil di awal namun berkembang menjadi sosok yang tangguh kemudian. Elisabeth Shaw bukanlah Ellen Ripley, namun ia memiliki kualitas uniknya sendiri. Namun yang mencuri perhatian jelas penampilan Michael Fassbender sebagai android super cerdas bernama David. Obsesinya untuk tampil semanusia mungkin malah membuat motivasi dirinya perlu untuk dipertanyakan. Dan ambiguitas ini diperankan dengan brilian oleh Fassbender. Sementara itu karakter Meredith Vickers mungkin terlihat menyebalkan, namun jika dicermati, dialah satu-satunya yang berfikir dengan akal yang lebih terjaga dan pilihan-pilihan yang diambilnya terasa sangat logis. Charlize Theron pun mengisi sosok Vickers dengan kedalaman yang diperlukan, sehingga kita tidak bisa begitu saja membencinya.

Perlu kesabaran khusus untuk menyimak Prometheus. Paruh pertama diisi dengan banyaknya proposisi sebagai asupan informasi. Terlalu banyak bahkan, sehingga kita sebagai penonton harus sigap mencerna dan memilah segala bentuk informasi tadi. Sayangnya skrip terlalu fokus untuk membangun ide-ide besarnya sehingga terlupa pada perkembangan karakter. Hasilnya, sebagian besar dari mereka hadir tanpa benar-benar terasa penting untuk perkembangan plot terkecuali menjadi karakter satelit yang disposable belaka. Memasuki paruh akhir, intensitas mulai meningkat dan pace pun mulai bergerak dengan cepat. Disinilah atmosfir horor mulai memainkan perannya dengan prima dan film pun berpindah lajur dalam mode aksi laga.

Secara visual, Prometheus adalah film yang luar biasa cantik. Sinematografer Dariusz Wolski memanjakan mata kita dengan berbagai lanskap yang sangat mengagumkan. Indah namun juga suram. Patut dipuji pula penggunaan teknik 3D yang tak melulu sebagai  gimmick belaka, karena Ridley Scott ternyata cukup tangkas dalam memanfaatkan teknologi tersebut untuk memberi kedalaman pada visualnya. Selain itu, senang rasanya melihat bagaimana desain HR Giger untuk Alien masih dipertahankan di Prometheus. Dengan memanfaatkan aksentuasinya yang rumit namun eksotis, industrial, misterius, dan kelam sehingga masih mampu memberi warna untuk Prometheus.

Premis Prometheus sebenarnya tidaklah orisinil atau baru. Dengan mengadopsi konsep campur tangan mahluk luar angkasa dalam pembentukan peradaban manusia seperti yang diwacanakan oleh Erich von Däniken dalam bukunya yang legendaris, Chariots of the Gods? (1968) serta konsep keimanan yang diapungkan dalam novel fiksi limiah berjudul Contact (1985) karya Carl Sagan. Kemiripan juga tak dapat dihindarkan dari film Mission to Mars (2000) karya Brian DePalma yang juga memberi sugesti jika kehidupan manusia di bumi berawal dari angkasa luar. Pendekatan secara filosofis yang dipakai oleh Prometheus juga memiliki kemiripan dengan film 2001: A Space Oddysey (1968) karya Stanley Kubrick.

Oleh karenanya menyebutkan Prometheus sebagai film paling provokatif (dan brilian), jelas salah kaprah. Akan tetapi, film tidak mentah-mentah menyedot ide yang telah berkembang sebelumnya dengan begitu saja. Dengan memadukannya dengan mitologi Alien itu sendiri, ternyata hasilnya adalah sebuah hibrida yang memuaskan. Tidak hanya menjadi sebuah film dengan kandungan kontemplasi yang cukup besar, juga hadir sebagai sebuah petualangan luar angkasa yang menggedor perasaan. Ia memberi jawaban atas beberapa pertanyaan yang muncul saat menyimak Alien, namun juga memberikan banyak pertanyaan lain.

Lantas, apakah Prometheus akan menyambung langsung ke Alien? Menilik adegan klimaks yang terdapat di akhir film, jelas kisahnya akan menuju ke arah yang berbeda. Mungkin diperlukan beberapa film lagi untuk sampai ke sana. Harap dicatat, Alien berseting beberapa tahun setelah Prometheus dan saat para awak Nostromo menemukan Space Jockey, tidak terlihat kekagetan di wajah mereka, seolah-olah mereka telah terbiasa dengan sosok tersebut. Mengapa begitu? Tidak ada jawaban yang pasti. Oleh karenanya kita bisa berharap agar kiranya film-film selanjutnya akan memberikan konklusi yang memuaskan.

Sebagai karya fiksi lmiah ketiganya setelah Alien dan Blade Runner (1982), Prometheus adalah bukti jika Ridley Scott masih memiliki taji sebagai seorang sutradara dengan visi yang kuat. Terlepas dari berbagai kekurangannya, Prometheus adalah film yang memuaskan. Pencarian tentang asal-usul manusia serta aspek spritual yang melingkupinya tidak menafikan jika pada dasarnya Prometheus itu adalah sebuah big budgeted sci-fi thriller slash body horror slash summer film, namun dikemas dengan kualitas mewah yang terjaga. 

And yeah, I screamed with joy when the giant face hugger gave birth to the giant baby xenomorph in the last reels of the film. Bring the sequel on!

PS:

  • Situs ini mungkin akan dapat membantu memberi jawaban untuk beberapa pertanyaan tentang detil Prometheus yang terlihat kabur dan membingungkan.
  • Cairan hitam yang kemudian menyebabkan proses mutasi entah kenapa mengingatkan akan Black Cancer yang terdapat dalam mitologi  The X-Files dan memiliki prinsip kerja yang sedikit mirip dalam penciptaan sub-species alien. Coincidence much?

Advertisements

8 thoughts on “Film Review: Prometheus (2012)

  1. Praque Jones says:

    Dikarenakan rasa penasaran yang sama atau mungkin lebih besar dari Elizabeth Shaw, serta atas rekomendasi bang Haris akhirnya saya menonton film ‘Promy’ kemarin, ‘review-review’ buruk dari orang-orang terdekat saya tak menyurutkan niat saya untuk menonton, dan gak pernah merasa menyesal sampai detik ini. Makasi bang… Emang paling tau deh selera saya hahaha…. Entertaining sekali. Sedikit curhat, awalnya agak meragu karena kecewa beberapa waktu yang lalu menonton film-film yang katanya punya budget, plot, dan efek visual yang fantastis, tapi gak meninggalkan kesan WOW bagi saya. Bahkan setelah keluar dari bioskop saya sudah melupakan apa yang saya tonton barusan. Nah, yang satu ini beda. Terus terang saya masih penasaran dengan para Engineers dan cairan hitam di film ini. Recommended sekali deh! 4/5 dari saya.

  2. Jon Ndoet says:

    Saya masih bingung dengan motivasi si android yang mencampur cairan hitam ke minuman charlie. 【ツ】нeнe 【ツ】 napa ya?

    • Haris Fadli Pasaribu says:

      mungkin dia hanya ingin melakukan eksperimen dengan cairan tersebut. dan rasa-rasanya bukan sembarang dia memilih Charlie Holloway sebagai “kelinci percobaan.”

      • Jon Ndoet says:

        Oh gitu… Bisa jadi juga, apalagi memang si android seakaan lebih penasaran dianding manusianya. Seperti dia sendiri menjelajah sampai ketemu cairan hitam itu..

      • Haris Fadli Pasaribu says:

        SPOILER:
        kan dia memang ditugaskan oleh Weyland untuk mencari “ramuan memperpanjang umur”, jadi wajar jika dia melakukan hal-hal tersebut 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s