Film Review: Soegija (2012)

Kabarnya Soegija adalah film paling accessible dari seorang Garin Nugoro yang selama ini kita kenal dengan karya-karyanya yang sulit untuk diapresiasi oleh kalangan awam. Dan meski disebut bukanlah berbentuk sebuah biopic, namun Soegija mencoba mengangkat sosok Mgr. Albertus Soegijapranata, S.J., sebagai seorang uskup pribumi pertama di Indonesia untuk menjadi penggerak kisahnya. Dengan seting sekitar tahun 1940 hingga 1949, Soegija juga bercerita tentang perjuangan mencapai kemerdekaan serta kronik kemanusiaan dari orang-orang yang terlibat di dalamnya.

Soegija adalah film dengan visual yang indah. Garin dan kru produksi bekerja dengan cukup maksimal untuk menangkap aura dekade yang menjadi seting film ini. Jangan lupakan tata musik yang dikerjakan oleh Djaduk Ferianto yang mengharu-biru dalam setiap penampilannya. Sayangnya, film yang menarik untuk disimak itu tidak hanya oleh teknis yang dikerjakan secara mumpuni. Ujung-ujungnya, cerita dan penceritaan yang lancar menjadi titik utama dari sebuah film.

Dan Soegija adalah jenis film dengan teknik naratif  yang payah. Dia ingin bercerita tentang banyak hal, dengan karakter yang sama banyaknya dan kemudian saling bertumpuk. Sayangnya tidak ada yang benar-benar tergali dengan baik, secara emosi maupun runutan kisah. Film bagai gabungan beberapa potongan adegan yang kemudian saling melompati satu sama lain tanpa ada singgungan yang membuat film terasa ajeg dan padat.

Pada akhirnya sang Soegija (diperankan oleh penyair dan kritikus sastra, Nirwan Diwanto) sendiri menjadi sosok terpinggirkan dan numpang lewat. Film dengan kejam menjadikan sosok kharismatis ini hanya menjadi catatan kaki atau pencetus gelak tawa, yang merupakan kolaborasinya dengan sang pembantu (diperankan dengan jenaka oleh Butet Kertaradjasa). Oh ya, jangan lupakan sosok Pak Besut, sang penyiar RRI yang juga hadir sebagai sosok pengundang tawa dan (dengan curang) menjadi sumber informasi (verbal) bagi penonton.

Skrip memang terasa terlalu verbal. Nyaris setiap informasi didapat dari dialog di antara karakternya. Tampaknya film tidak mengenal konsep show, don’t tell. Ini membuat film terasa melelahkan dan monoton, mengingat terlalu banyak karakter yang harus kita perhatikan, sementara mereka seolah tak lelah-lelahnya membombardir kita dengan isi benak mereka. Ada seorang perempuan pribumi labil yang doyan berganti emosi sesuka hati, anak perempuan dari etnis Tionghoa yang menggugat perlakuan terhadap kaumnya, seorang Jepang yang merindu keluarga, dua orang Belanda yang memiliki karakter yang memiliki pandangan yang berlawanan tentang Indonesia dan beberapa lagi.

Karakter-karakter ini bertujuan untuk menyampaikan agenda kritisi sosial dan kemanusiaan yang ingin disampaikan oleh filmnya. Relevansinya mungkin masih bisa diterapkan untuk situasi sosio-politis masyarakat kita sekarang, namun karena film cenderung hanya menjadi kumpulan fragmen tanpa closure yang memuaskan, kita seperti hanya menyimak sebuah film berisi kumpulan petuah bijak ketimbang sebuah film dengan konsep dramaturgi yang jelas. Tidak ada sentimen emosional yang kuat melekat di benak selepas menyimak filmnya. Serba tanggung, tak jelas dan hanya di permukaan.

Jadi siapakah Romo Soegija sebenarnya? Dan apa kontribusi dirinya yang signifikan terhadap perjuangan kemerdekaan atau kepentingan umat? Rasa-rasanya wikipedia bisa lebih membantu jawab ketimbang film ini.

Advertisements

6 Comments

  1. Pertama, menonton film Soegija, ekspektasi kita dalam melihat film harus dirubah. Ini bukan film “cerita”, melainkan film yang sering disebut sebagai nonlinear narrative, disjointed narrative atau disrupted narrative. Artinya, kita tidak dapat melihat ini dengan kerunutan cerita secara linier, bahkan bisa dikatakan jika ekspektasi kita adalah “narasi konvensional”, dengan pengenalan masalah, masalah, klimaks dan anti klimaks, maka dapat dikatakan ekspektasi kita keliru. Film ini adalah sebuah film yang bisa dikatakan sebagai film “portrait”, mengungkap dimensi “event” dalam kemasan-kemasan pendek yang bermakna, “where events are portrayed out of chronological order”. Walaupun ada dimensi koronologisnya, namun itu jangan semata-mata memandangnya secara konvensional. Coba kita lihat, film ini ditutup dan diakhiri dengan “portrait” yang begitu memukau dan menyentuh.

    Kedua, menonton film Soegija, ekspektasi kita jangan berharap ini sebagai film “sejarah”. Ini semata-mata bukan film “mengenai sejarah” atau “biografis” semata, melainkan film yang sering disebut sebagai “sub-conjungtive history”. Artinya, ada sebuah telaah, pandangan, dan makna-makna yang seakan dirajut untuk mempercantik sebuah peristiwa sejarah, walaupun itu bersifat fiktif, namun kepentingannya menyuguhkan makna yang mendalam. Maka ini, bukan film mengenai “biografis Soegija”, melainkan sebuah kisah-kisah yang seakan merangkai figur Soegija, sebagai kisah-kisah kemanusiaan. Maka, ketika Garin, selaku sutradara memasukkan “anak-anak Papua” dalam film, tolong ini jangan dilihat sebagai “kesalahan film”, ini memang disengaja, untuk sebuah “petisi” publik yang ingin mengatakan “Tanah Papua” adalah Tanah Indonesia yang ikut andil mengisi kemerdekaan, dan tentu masih banyak lagi “petisi-petisi” yang diangkat, termasuk mengenai “Keistimewaan Yogyakarta”. “Sub-conjungtive history” ini dipadu dengan sebuah “narator” yang coba dihadirkan dengan tokoh “Pak Besut”. Dan, cara menghadirkannya pun, terasa apik , menyentuh. Menariknya, “narator” yang coba dihadirkan melalui tokoh “Pak Besut” ini, mencoba membingkai viewpoint dalam kontekstualitasnya yang digagas semacam sembrono parikeno, membincangkan apa saja yang sedang populer di kalangan masyarakat dalam semangat dan tawaran nilai-nilai kejawen yang kental. Melalui sapaan, “Nuwun paromiarso . . . “, narator ini, menjadi semacam penghubung antara “makna” kekinian dengan sebuah konstelasi zaman.
    Ketiga, rasa-rasanya, dalam film Soegija ini, Garin ingin bermain dengan apa yang sering disebut sebagai omnibus film, package film, atau portmanteau film. Kita dapat melihat betapa dihadirkannya sosok Soegija sebagai “top-level” story-nya, kemudian ia coba lakukan a framing, terhadap sebuah “sub-stories”, melalui Mariyem, Robert, Ling-Ling, Broto dan lain sebagainya. Maka, saya menyadari, betapa ada banyak tanggapan penonton yang cukup kebingungan dengan ini. Namun, inilah masanya intertextuality dalam sebuah film. Saya melihat, hal ini selayaknya seperti saya memasuki “museum”, ketika saya mencoba menelaah berbagai rajutan “portrait” dengan “labellingnya”. Labelling ini muncul dalam setiap ungkapan-ungakapan yang artistik, melalui kata-kata tokoh yang dihadirkan.

    Keempat, terlepas dari berbagai kelemahan tehnis film, misalnya karakter pemain dan lain sebagainya, menonton film Soegija, perlulah ditempatkan dalam intertextuality. Maka, Garin seakan menggabungkan berbagai “feature film” dalam satu kesatuan Soegija. Bisa dikatakan ini sebuah anthology, “An anthology film is a fixed sequence of short subjects with a common theme”. Untuk itu, betapa sulitnya jika kita mengkaitkannya sebagai “dramaturgi” yang konvensional. Saat ini, masanya “garda depan” dalam film. Dan, film Soegija, tentu kita tempatkan dalam poststructuralist nya.

  2. Saya bukan orang yang mengerti teknis pembuatan film dan teori2nya, saya hanya penikmat. Kritik yang disampaikan di web ini benar, menurut saya Garin (masih) harus belajar untuk berkomunikasi dgn masyarakat awam, karena menurut saya film itu adalah media komunikasi, bagaimanapun cara penuturan ceritanya, message yg mau disampaikan harus sampai ke penontonnya. Itulah keberhasilan dari sebuah film menurut saya.

    Masalah ekspektasi penonton pun tidak bisa disalahkan. Film ini sendiri mengambil nama ‘Soegija’ sebagai sebuah judul. Menurut saya itu bukan tanpa alasan. Sutradara film ‘Thor’ pun menggunakan nama sang tokoh utama karena memang cerita film itu secara keseluruhan berpusat kepada tokoh tsb.

    Mengenai detail pun, menurut saya agak kurang terperhatikan di sini. Sudah konsekuensi jika film mengambil setting dgn latar belakang suatu jaman, tentunya segala detail harus diperhatikan, termasuk kehadiran orang Papua yang ada di film yg mengambil setting tanah Jawa di tahun 40an. Mayat yg masih sangat jelas terlihat bernafas pun menurut saya adalah kesalahan yg cukup fatal.

    Saya justru salut dengan acting orang2 bule di film itu, Hendrick, Robert, bagus sekali mereka memainkan perannya.

    Banyak sekali adegan yg tidak perlu dimasukkan di film itu. Mariyem, tokoh yg dibuat terlalu (sok) kompleks, bahkan saya tidak mengerti kenapa dia marah ketika Hendrick memuji matanya yg hitam dan tajam.. Apa pesannya? Scene saat Ling2 berdoa kemudian saat berbalik dia bertemu dengan Ibunya pun itu sangat2 tidak perlu dan (maaf), sangat murahan sekali. Sama seperti sinetron di tv, dan toh adegan tsb tidak dibuat cukup dramatis bahkan cenderung sambil lalu. Sayang, dengan durasi yang singkat, Soegijanya pun malah terabaikan.

    Namun terlepas dari itu semua, saya salut dengan gagasan untuk mengangkat tokoh nasional yg mungkin belum banyak dikenal, bahkan oleh umat Katolik sendiri. Semoga gambar besar mengenai perjuangan dan kebhinekaan bangsa Indonesia bisa tersampaikan kepada penonton

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s