Film Review: Sanubari Jakarta (2012)

Gue cuma pengen diakuin kok, kayak yang laen.” (Acel, Kentang)

Sanubari Jakarta hadir memeriahkan film Indonesia berbentuk omnibus yang banyak beredar akhir-akhir ini. Atas inisiatif Lola Amaria (Minggu Pagi di Victoria Park), ia mengajak sembilan sutradara muda untuk bergabung dan mengerjakan film ini. Uniknya lagi, film mencoba menyentuh tema yang jarang diangkat oleh sineas kita, yaitu LGBT (Lesbian, Gay, Bisexual dan Transegender). Maka hadirlah sepuluh film pendek yang mencoba membungkus kisah-kisah yang cinta yang terjadi di antara insan yang kerap dipandang sebagai anomali ini.

Sepuluh kisah yang tertuang dalam Sanubari Jakarta mungkin tidak begitu saja menjadi representasi kehidupan kaum GLBT di kota Jakarta, yang menjadi seting film. Meski begitu ia mencoba menangkap sekelumit geliat kehidupan mereka untuk tidak hanya sebagai sebuah deskripsi namun juga memberi pemahaman kepada khalayak awam jika mereka tidak berbeda jauh dengan para heteroseksual. Yang membedakan hanyalah preferensi seksual belaka.

Film dibuka dengan 1/2 yang merupakan buah karya Tika Pramesti. Tentang dua pria, Abi (Irfan Guchi) dan Biyan (Hernaz Patria), dan seorang perempuan yang membayangi, Anna (Pevita Pearce). Film dengan sengaja membuat kita bingung tentang siapa dan apa motivasi karakter-karakter yang terdapat di dalamnya. Di penghujung kita pada akhirnya menyadari jika ini tentang kisah cinta yang gamang oleh kebimbangan. Warna-warni yang memenuhi adegan terlihat begitu cantik dan menawan, seiring dengan plot yang membuat penasaran. Sebuah pembuka yang menjanjikan.

Selanjutnya kisah bergerak ke Malam Ini Aku Cantik yang merupakan debut penyutradaraan Dinda Kanya Dewi.  Filmnya sendiri berkisah tentang beratnya kehidupan seorang pria paruh baya bernama Agus (Dimas Hary) yang harus memilih untuk membuang kebahagiaannya demi keluarga yang disayanginya. Sebagai perantau miskin di ibu kota, nasib membuat ia harus bekerja sebagai waria tuna susila. Meski tidak terlalu istimewa, namun Dinda jelas mempunyai sense of cinematic yang cukup kuat. Yang diperlukan mungkin hanyalah frekuensi jam terbang saja untuk mempertajam bakatnya. Meski begitu, film ini terasa salah payung, karena film justru berbicara dalam konteks kemiskinan yang menjerat ketimbang apa dan bagaimana kehidupan seorang waria itu sendiri.

Lumba-Lumba, yang merupakan karya Lola Amaria, mendapat jatah ketiga. Memaparkan tentang seorang ibu rumah tangga bernama Anggya (Ruth Pakpahan) yang tertarik kepada seorang perempuan bernama bernama Adinda (Dinda Kanyadewi) yang tak lain merupakan guru TK dimana anaknya bersekolah. Dengan mengandalkan chemistry yang kuat antara Dinda dan Ruth, film menjadi sangat renyah untuk disimak, meski sebenarnya kisahnya tidak terlalu istimewa apalagi provokatif. Pada dasarnya Lumba-Lumba tidak lebih dari sebuah melodrama dengan kisah cinta yang tak biasa.

Tema yang serupa dapat ditemui dalam kisah berikutnya, Terhubung, karya Alfrits John Robert. Dua perempuan lesbian, Agatha (Permatasari Harahap) dan Kartika (Illfie) bergelut dengan masalah pilihan yang harus mereka pilih sebagai perempuan di masyarakat yang patriarkis dan homopobhia. Memilih antara menikah dengan laki-laki atau mandiri dengan menjadi diri sendiri menjadi konflik yang seolah tak berkesudahan. Terhubung merupakan segmen terlemah, karena selain tidak saja isu yang setipe sudah dibahas oleh Lumba-Lumba, eksekusi Robert terhadap plotnya juga tak membantu. Film bertutur dengan terbata dan nyaris tidak memiliki penghubung yang lekat antara karakter-karakternya. Pada akhirnya film terasa mubazir.

Untunglah kekecewaan dapat diobati dengan hadirnya segmen Kentang yang kocak. Aline Jusria dengan sukses menghadirkan kisah yang padat dan tepat sasaran hanya dengan bermodalkan dua sosok bernama Drajat (Hafez Ali) dan Acel (Gia Partawinata). Sebagai sepasang kekasih yang telah lama tak bersua, mereka mencoba melepaskan hasrat dan kerinduan di kamar kosan milik Drajat. Namun ada saja yang menghalangi hajat mereka, sehingga akhirnya menimbulkan ketegangan diantaranya. Meski terlihat ringan dan jenaka, namun Kentang justru hadir dengan banyaknya sindiran serta kritisi yang terkandung di dalam dialog-dialog antara Drajat yang masih living in the closet dan Acel yang lebih terbuka dengan seksualitasnya.

Segmen berikutnya, Menunggu Warna, juga merupakan salah satu segmen terkuat di Sanubari Jakarta. Adriyanto Dewo, sang sutradara sengaja bermain-main dengan konsep artistik yang tidak biasa. Meski bukan film bisu, akan tetapi film hadir nyaris tanpa dialog. Dengan penuhnya metafora yang memenuhi filmnya, kita memang harus ekstra rajin dan teliti untuk menebak-nebak apa gerangan yang esensi dari film ini. Akan tetapi, dengan menghadirkan kisah cinta manis antara dua pria, Satrio (Rangga Djoned) dan Adam (Albert Halim), kita seolah terjerat arus penuh makna kehidupan pria homoseksual yang terkungkung dalam gradasi hitam dan putih dan dengan cemas menunggu warna-warni cerah ceria yang entah kapan mengunjungi.

Eksperimen berani lainnya dapat ditemui dalam Pembalut, karya Billy Christian. Tidak tanggung-tanggung, film hanya menghadirkan Gesata Stella yang memerankan empat karakter sekaligus, terutama sepasang perempuan yang tengah rendezvous di sebuah kamar hotel (?).  Acungan jempol patut ditujukan kepada Gesata yang mampu memerankan sosok-sosok yang berbeda ini dengan cemerlang. Secara konteks, Pembalut masih mempertanyakan eksistensi para perempuan penyuka sesama jenis dalam kehidupannya serta friksi-friksi yang terjadi akibat ketidakjelasan hubungan mereka. Jangan kuatir, film mengalir dengan cukup lancar dan tidak membosankan sama sekali meski memiliki karakter dan seting yang terbatas.

Sementara itu, melodrama-tak-biasa lain bisa ditemukan dalam Topeng Srikandi buah karya Kirana Larasati yang tampaknya ingin mengikuti jejak Dinda Kanya Dewi. Secara ide, film ini menarik, namun sayangnya tidak begitu yang terjadi di layar. Selain pace yang tersendat dan terkesan membosankan, kisah seorang perempuan bernama Srikandi (Herfiza Novianti) yang menyaru menjadi pria untuk menantang sistem patriarki ini cenderung pointless. Satu lagi film yang berada dalam payung yang salah karena tidak memiliki korelasi yang erat dengan konteks LGBT yang diusung oleh Sanubari Jakarta. Selain itu, tidak seperti kebanyakan kisah ala Pygmalion lainnya, Topeng Srikandi gagal menciptakan efek believable. Pada akhirnya, film hanya bermain dalam tataran semiotika namun tidak memiliki ketajaman dalam pemaknaan.

Sementara itu, seorang pria paruh baya bernama Ari (Arswendi Nasution) yang mengenang kisahnya di masa lalu menjadi topik untuk segmen yang berjudul Untuk A. Sebuah twist yang ditawarkan di akhir cerita rasanya bukan menjadi kejutan lagi, karena penggarapan sang sutradara, Fira Sofiana, terlalu miskin aksentuasi jika tidak mau disebut datar. Pada akhirnya tema besar yang diusungnya terlihat terlalu sederhana. Untunglah Arswendi Nasution tampil watak sebagaimana biasanya.

Dan sampailah kita di bagian akhir, dengan sebuah film karya Sim F., yang sebelumnya telah malang melintang sebagai sutradara video musik. Kotak Cokelat, demikian judulnya, merupakan epilog yang manis untuk omnibus Sabubari Jakarta. Warna-warni cantik ala instagram menghiasi kisah percintaan yang romantis antara Reuben (Reuben Elishama) bersama Mia (Miea Kusuma). Narasi yang dialurkan oleh Sim F. sebenarnya cukup minimalis akan tetapi kaya dengan adegan-adegan untuk mengambarkan kisah Reuben dengan Mia. Film juga cukup efektif memanfaatkan durasi yang terbatas untuk becerita tentang banyak hal namun tetap fokus pada inti ceritanya.

Memang tidak ada pembatasan yang pasti tentang jumlah film pendek yang tergabung dalam sebuah omnibus. Namun pada umumnya film akan terasa lebih efektif dan padat jika memiliki segmen yang tidak terlalu banyak. Bukan berarti omnibus dengan segmen yang melimpah menjadi jelek. Tidak juga.

Paris, Je t’aime (2006) mungkin bisa menjadi contoh yang baik, bagaimana merangkum kisah dan tema yang beragam namun tetap mampu menjalin menjadi satu kesatuan film yang utuh. Sayangnya kasus yang sama tidak terjadi di Sanubari Jakarta. Tidak semua film memiliki kualitas yang lebih, sehingga menyebabkan alur film menjadi sedikit jomplang. Lagipula dengan pengulangan tema di beberapa segmen sebenarnya bisa dihindarkan dan film pun dapat menjadi lebih fokus dan padat.

Dan dengan memakai embel-embel Jakarta, film juga rasanya kurang berhasil menjadikan kota terbesar di Indonesia itu sebagai salah satu karakternya. Tidak ada sudut pandang khas yang membuat Jakarta serta karakter-karakter dalam cerita-nya lekat dan padu. Setiap kisah yang terjadi di film bisa terjadi di mana saja, tidak melulu Jakarta.

Namun, terlepas dari kekurangannya, Sanubari Jakarta patut mendapat kredit lebih karena keberaniannya untuk mengurai kisah yang tidak biasa namun sebenarnya banyak terjadi di sekitar kita. Film tidak mencoba menjadi sebuah propaganda apalagi polisi moral. Ia hanya mencoba menggambarkan apa dan bagaimana kehidupan LGBT itu. Dengan mengambil cinta sebagai benang merah setiap cerita, Sanubari Jakarta menegaskan jika perasaan itu tidak ada hubungannya dengan seksualitas. It’s nature, not nurture. Jadi, mengapa pelakunya harus dimarginalkan?

Advertisements

One thought on “Film Review: Sanubari Jakarta (2012)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s