Film Review: The Four (2012)


Gordan Chan dulu mungkin dikenal karena ketrampilannya dalam menata aksi laga yang organis dalam film-film seperti Fist of Legend (Jet Li) atau Thunderbolt (Jacky Chan). Namun akhir-akhir ini ia tampaknya lebih tertarik untuk mengarahkan film-film bercorak fantasi dengan arsiran CGI yang kental. Sebut saja Painted Skin (2006) atau Mural (2011). Kini, dalam The Four ( 四大名捕) , lagi-lagi Chan hadir dengan gaya setipe. Namun alih-alih mengambil materi cerita dari kisah klasik Tiongkok, kali ini ia mengarahkan sebuah adaptasi dari novel silat karya Wen Ruian yang berjudul The Four Detective Guards.

Bangku sutradara tidak didudukinya sendirian, karena tercatat nama Janet Chun (All’s Well Ends Well 2011) yang selama ini dikenal karena film-film komedinya, mendampingi. Tidak heran The Four memiliki beberapa adegan komedik, meski ternyata tone yang dihadirkan The Four cukup serius, meski sebenarnya ini bukan jenis film yang mesti ditonton dengan serius juga. Pada awalnya Gordon dan Janet tidak menunjukkan kerjasama yang solid. Skrip yang berantakan dan editing yang terlalu berkelebat cukup membuat sulit mengikuti alur dan adegan laga yang dipertontonkan di awal cerita.

Barulah memasuki pertengahan sampai akhir, alur mulai mengalir dengan lebih tenang dan lancar. Editing juga sudah tidak terlalu berlebihan untuk menunjukkan kinetisme adegan. Bagaimana pun sebuah adegan laga di film WuXia akan lebih menarik ditampilkan dalam shot panjang ketimbang editing yang flashy hanya agar terlihat mentereng secara visual.

Di samping itu, dengan banyaknya karakter yang ditampilkan, cenderung malah mengorbankan mereka untuk dapat memiliki dimensi yang lebih luas. Akhirnya hanya tampil sebagai aksesoris di latar belakang kanvas ceritanya. Tentu saja kita mafhum kalau Gordon dan Janet memilki urgensi untuk menampilkan esensi yang ada di dalam novelnya dengan sekomplit mungkin. Sayangnya skrip keteteran untuk dapat menampilkan hal tersebut dalam takaran yang tepat.

Film berkisah tentang dua kelompok kepolisian, The Department Six Constabulary pimpinan Lord Liu (Cheng Tai-shen) dan Divine Constabulary pimpinan Zhuge Zhengwo (Anthony Wong), yang saling bersaing untuk memecahkan misteri peredaran uang palsu. Lord Liu kemudian mengirim orang kepercayaannya Cold Blood (Deng Chao) untuk menyusup ke dalam Divine Constabulary.

Meski awalnya niat Cold Blood diragukan oleh Emotionless (Liu Yifei), namun Zhuge Zhengwo dengan tangan terbuka menerima kehadiran Cold Blood. Bersama dua anggota utama Divine Constabulary lainnya, Iron hand (Collin Chou) dan Life Snatcher (Ronald Cheng), mereka kemudian membentuk tim yang kompak.

Kelemahan utama The Four adalah kurangnya ketegasan dalam tema besar yang ingin disampaikannya. Dalam tutur kisahnya, kita akan menemukan kisah investigatif kepolisian, drama konspirasi, romansa, persahabatan dan fantasi, yang sayangnya tidak benar-benar memiliki perkembangan yang baik dan hadir tidak lebih sebagai aksesoris belaka.

Sebenarnya The Four cukup inventif dengan memasukkan sentuhan mutanisme ala X-Men ke dalamnya dan memadukannya dengan elemen-elemen ala WuXia. Akan tetapi, dengan karakteristik yang terlalu plagiat (Emotionless duduk di kursi roda dan memiliki kemampuan membaca fikiran dan ESP (Professor X/Jean Grey combo), sedang Cold Blood dalam keadaan marah akan bertransformasi menjadi sesosok manusia serigala (Hulk/Wolverine combo), tidak hanya film kurang memiliki orisinalitas namun juga kredibilitas.

Tidak itu saja, dengan pengecualian Liu Yifei, Anthony Wong, dan Wu Xiubo yang menjadi villain dalam story arc-nya, para aktor yang terlibat tidak ada yang menampilkan akting yang mengesankan. Akhirnya film pun terasa datar dengan intensitas emosi yang tidak benar-benar tergali.

The Four dikabarkan merupakan bagian pertama dari sebuah trilogi. Mungkin bagian pertama ini diniatkan sebagai pengenalan karakter. Tidak masalah juga. Terlepas dari awal yang buruk, filmnya cukup menghibur. Hanya saja, dengan potensi yang dimilikinya, seharusnya bisa jauh lebih baik dari hanya sekedar sebuah WuXia-Fantasy yang jenerik. Tsui Hark dengan Detective Dee and the Mystery of the Phantom Flame (2010) bisa menjadi referensi.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s