Film Review: The Cabin In The Woods (2012)

Sedari awal, The Cabin in the Woods (selanjutnya ditulis dengan Cabin saja), menampilkan barisan adegan yang pasti melekat erat di benak banyak penonton film horor, terutama subgenre slasher atau (tentu saja) cabin in the woods. Lima pemuda-pemudi dengan arketipe klise, virgin, slut, jock, nerd , and stoner, memutuskan untuk menghabiskan liburan mereka dengan pergi ke sebuah pondok di tengah hutan. Tidak perlu menjadi seorang jenius untuk menebak kalau everything will went wrong and all mayhem break loose.

Tapi Cabin tidak hanya bercerita tentang itu. Layaknya bawang, apa yang kita lihat hanya merupakan lapisan terluar. Plot ternyata menyimpan sesuatu yang lebih ambisius ketimbang horor tipikal. Duo Joss Whedon (The Avengers) dan Drew Godard (Cloverfield) yang berada di belakang Cabin tampaknya berupaya menjadikan film ini sebagai analisa sosologis maupun antropologis dari film horor itu sendiri dan tanpa melupakan bagaimana bersenang-senang dengan subgenre yang memiliki banyak peminat ini.

Cabin adalah debut Godard yang selama ini dikenal sebagai penulis skenario yang banyak bekerjasama dengan Whedon maupun J.J. Abrams. Resumenya yang banyak bergelut dengan kisah-kisah fantastis jelas menjadi modal bagi dirinya dalam menulis skrip Cabini. Tidak hanya self-referential akan tetapi juga bermain-main dengan semangat satirisme yang kental.

Ini sebenarnya bukan upaya yang baru atau inventif, karena sebelumnya Wes Craven dan Kevin Williamson telah bekerja dengan gemilang dalam film dengan pendekatan yang serupa dalam Scream (1996). Dan akhirnya Cabin pun menawarkan situasi-situasi menggelitik yang mungkin hanya bisa diapresiasi oleh para penonton yang awam dengan film-film sejenis. Semua konvensi klise dan formulaic dalam subgenre ini justru menjadi bahan olok-olokan yang jenial.

Agak susah memang bercerita panjang lebar tentang Cabin tanpa harus menjadi spoiler. Ini adalah jenis film yang akan menjadi pengalaman sinema yang sangat memuaskan jika bisa menghindarkan segala informasi tentangnya, entah dalam bentuk sinopsis dan bahkan trailer. Cabin akanmengajak kita masuk dalam semacam labirin penuh kejutan. Semacam wahana roller coaster yang menantang adrenalin, namun di sisi lain juga membutuhkan kecermatan otak penonton untuk menggiring kemana arah cerita bergulir.

Mengatakan Cabin sebagai film horor murni jelas merupakan kesalahan dan akan mengecewakan ekspektasi. Ia adalah sebuah homage sekaligus satire terhadap genre tersebut sekaligus bermain-main dengan penontonnya. Yang menjadi menjadi sedikit masalah saat unsur seram kurang dapat digali akibat semangat bermain-main Whedon dan Goddard yang kental tadi. Belum lagi saat twist utama terbuka, sulit untuk mengusir perasaan bahwa twist tersebut terasa cukup konyol.

Akan tetapi, Cabin pastinya merupakan sebuah pengalaman menonton film yang seru. Just sit back, relax, and enjoy the thrills. And you think you know the story? Think again!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s