Film Review: The Bourne Legacy (2012)


Mungkin blunder yang dilakukan oleh The Bourne Legacy adalah dengan memakai embel-embel kata Bourne di judulnya sementara dari segi pendekatan ia memiliki corak yang agak berbeda, sehingga mau tidak mau banyak penonton, yang kemudian mengaosiasikan film ini dengan tiga film sebelumnya yang dibintangi oleh Matt Damon itu, merasa kecewa dengan hasil akhir film ini. Dan mereka tidak bisa disalahkan juga, karena disamping film besutan Tony Gilroy ini masih meminjam banyak elemen dari “prekuel”-nya, film juga seolah tak rela melepaskan The Bourne Legacy dari story arc yang sudah dibangun sebelumnya. Namun, film sebenarnya tidak sepenuhnya sebuah kegagalan saja.

Gilroy, yang sebelumnya menjabat sebagai penulis skenario untuk trilogi  Bourne, memilih The Bourne Legacy untuk jauh  lebih talkative, dimana dalam durasi 135 menitnya, bisa dihitung dengan jari berapa banyak adegan laga yang ditampilka yang hadir dengan eksekusi yang jauh lebih sederhana meski intensitas dan ketegangan tetap dibangun dengan baik. Selebihnya film dipenuhi dengan dialog-dialog, baik yang berhubungan dengan operasi dunia intel dalam universe Bourne dan (tentu saja) interaksi antar karakternya.

Kisahnya bergerak dari peristiwa yang terjadi di awal The Bourne Ultimatum (2007), yang mengizinkan hadirnya Paddy Considine dalam penampilan singkat. Mulai titik itu, alur dalam Legacy mengalir kerah lain, meski secara pararel berkisah tentang skandal black ops milik Departemen Pertahanan Amerika Serikat. Ternyata selain Blackbriar, ada operasi bayangan lain yang dikembangkan, bernama Outcome, dan terdiri dari agen-agen yang memiliki kemampuan diatas rata-rata berkat obat-obatan yang mereka konsumsi secara rutin

Karena dianggap dapat membahayakan, atas pimpinan Eric Byer (Edward Norton), yang bertugas “membersihkan” proyek CIA yang blunder, dengan mengeliminasi mati setiap agen yang tersisa. Nasib baik berpihak kepada Aaron Cross (Jeremy Renner) yang luput dari bahaya. Ia pun menyadari jika ia telah dikhianati oleh orang-orang yang telah melatihnya. Namun alih-alih membersihkan namanya atau membalas dendam, ia malah mengincar Dr. Marta Shearing (Rachel Weisz), satu-satunya ilmuan Outcome yang selamat dari pembersihan.

Jason Bourne (Matt Damon) masih hadir mewarnai film ini meski hadir dalam bentuk siluet data informasi. CIA Deputy Director Pamela Landy (Joan Allen), supervisor Blackbriar Noah Vosen (David Strathairn), dan Direktur CIA Ezra Kramer (Scott Glenn) pun turut hadir dalam peran kecil untuk memberi aksentuasi pada latar belakang ceritanya. Namun sejatinya The Bourne Legacy berpusat pada karakter yang diperankan oleh Renner, Weisz dan Norton.

Aaron Cross bukanlah Jason Bourne. Ada sesuatu di dirinya yang membuat karakternya lebih membumi, meski tidak lebih baik juga. Pembawaanya juga tenang dan kalkulatif namun lebih santai jika tidak mau dikatakan laidback. Tak kalah tangguh pula.  Memang disayangkan saat potensinya tidak mendapat jatah yang lebih besar. Meski begitu, sulit untuk menafikan kesan jika Aaron Cross sebenarnya Jason Bourne yang sedikit mengalami alterasi karakter.

The Bourne Legacy beruntung karena didukung oleh barisan pemain watak yang mampu memberikan penampilan akting yang cemerlang, terlepas apakah karakter mereka sebenarnya tidak memiliki pengembangan yang berarti. Meski Marta Shearing memiliki watak yang cukup kuat, namun pada dasarnya ia adalah seorang damsel-in-distress yang tipikal terdapat dalam film aksi laga, sementara Eric Byer juga kurang memiliki kesan yang mendalam sebagai seorang villain, jika ia memang seorang antagonis di dalam kisahnya. Ia tidak lebih dari seorang pion birokrat yang menjalankan tugasnya secara baik, sangat baik, sehingga tidak memberi ruang untuk tampil “menyebalkan”.

Jika menilik The Bourne Legacy sebagai film berdiri sendiri, rasa-rasanya ia merupakan sebuah film yang cukup layak untuk disimak. Suspensi yang terjaga merupakan kelebihannya yang terutama. Namun, jika ia kemudian dibandingkan dengan film sebelumnya, mau tidak mau film akan terlihat inferior, dengan arc yang belum terlihat dengan jelas kemana arahnya. Apakah ini menjadikan The Bourne Legacy sebagai film yang divisive? Mungkin saja ia. Mungkin juga tidak. Tergantung bagaimana persepsi penonton saja setelah menyimaknya. Patut ditunggu kelanjutan sepak terjang Aaron Cross, and if we’re lucky enough, we might see him in an encounter with the Jason Bourne.

Advertisements

2 Comments

  1. dan terkesan lambat Ris,,kl dari mata gw,,,sprti yg lu bilang adegan actionnya hanya ketika Aaron kejar2n dengan Larx 3 selebihnya gw hampir tertidur..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s