Film Review: To Rome with Love (2012)

To Rome with Love adalah film Woody Allen ke….okay, I admit I’ve lost track. Di usia  ke 76 sutradara legendaris ini tetap produktif dan konsisten dengan menghasilkan satu film per-tahun. Film ini juga menandakan kembalinya Allen menjabat sebagai salah satu pemain di filmnya, setelah terakhir hadir di Scoop (2006).  Setelah Midnight In Paris (2011) yang gemilang, dalam To Rome with Love, Allen kembali lagi ke premis ala komedi situasi yang biasanya kita temui dalam film-filmnya akhir-akhir ini. Meski tak secemerlang Vicky Christina Barcelona (2008), namun tak semenjana You Will Meet a Tall Dark Stranger (2010).

To Rome with Love terdiri dari berbagai karakter yang terkumpul dalam beberapa kisah yang terpisah. Kota Roma tentu saja menjadi seting bagi kumpulan sketsa ini. Ada sepasang pengantin baru, Antonio (Alessandro Tiberi) dan Milly (Alessandra  Mastronardi) yang berbulan madu ke Roma; sepasang pasutri paruh baya asal Amerika, Jerry (Woody Allen) dan Phyllis (Judy Davis) yang mengunjungi putri mereka, Hayley (Alison Pill) dan tunangannya yang asli Roma, Michaelangelo (Flavio Parenti); seorang pria dari kelas menengah bernama Leopoldo (Roberto Benigni) yang tiba-tiba populer dan seorang arstiek Amerika yang menetap di Roma bernama Jack (Jesse Eisenberg), yang jatuh cinta kepada Monica (Ellen Page), yang juga sahabat dari kekasihnya, Sally (Greta Gerwig).

Sebagaimana umumnya antologi, ada beberapa cerita yang mampu untuk tampil menarik, namun ada juga beberapa yang kehilangan momentumnya dan berkurang pesonanya. Segmen Roberto Benigni mungkin menarik pada awalnya, dimana situasi yang dihadapinya mungkin agak sedikit absurd, meski sebenarnya merupakan sebuah analisa menarik tentang popularitas dan budaya memuja selebriti yang saat ini berkembang di masyarakat. Sayangnya, seiring cerita bergulir, esensi yang ingin disampaikannya tak lebih dari sebuah sketsa yang streotipikal dengan ironi yang tertebak.

Situasi absurd pun dapat ditemui dalam kisah Jack, Sally dan Monica. Hadirnya tokoh John (Alec Baldwin) diantara mereka memberi kesan jika ia merupakan suara hati dari Jack, yang tampil ala Elvis Presley di dalam True Romance (1993). Bisa saja kisah ini merupakan reka-ulang dari pengalaman John semasa muda, saat ia dulu menetap di Roma. Sebagai catatan, Jack menempati rumah dimana dulu John juga berdomisili. Terlepas dari itu, cukup menarik melihat hubungan yang cenderung neutorik antara Jack dan Sally. Chemistry diantara Eisenberg dan Page agak mengingatkan Juno (2007).  Setelah Owen Wilson di Midnight in Paris, maka sekarang giliran Jesse Eisenberg yang “menyalurkan” spirit Woody Allen ke dalam karakternya.

Comedy of error terdapat dalam kisah pasangan muda Antonio dan Milly. Penélope Cruz hadir sebagai seorang pelacur bernama Anna, yang karena sebuah kesalahpahaman harus diakui Antonio sebagai istrinya di hadapan sanak saudaranya. Sementara itu Milly yang tersesat di kota Roma bertemu dengan bintang pujaanya bernama Luca Salta (Antonio Albanese) dan kemudian bersedia untuk rendezvous di sebuah hotel.  Energi yang dipancarkan oleh para pemain di segmen ini membuat bagian ini terasa segar dan menggelitik, meski sebenarnya tema yang diusung juga tidak terlalu istimewa.

Kisah yang paling menarik justru terdapat dalam segmen yang dibintangi oleh Woody Allen. Tidak hanya berkisah tentang hubungan (calon) mertua dan menantu, namun juga tentang obsesi. Jerry mendapat jika calon besannya, Giancarlo (Fabio Armiliato), memiliki suara tenor yang memikat dan sebagai pensiunan sutradara opera, ia pun berniat untuk menjadikan Giancarlo seorang penyanyi ternama. Meski ditentang oleh Michaelangelo, pada akhirnya Giancarlo memutuskan untuk mencoba kesempatan ini.

Setelah menyimak kumpulan sketsa yang dipaparkan oleh To Rome with Love, rasa-rasanya bisa ditarik benang merah diantara kisahnya; fantasi dan obsesi yang seolah tak ada habisnya dan mencuri celah untuk tetap hadir di setiap sudut benak manusia. Dan untunglah Woody Allen tetap kompeten dalam memberikan komedi menggelitik yang sedikit absurd, namun memberi impresi yang cukup kuat. Contoh saja saat Giancarlo, diperankan oleh Fabio Armiliato yang kesehariannya memang merupakan seorang penyanyi tenor,  harus selalu tampil dalam kondisi tengah mandi, termasuk di tengah panggung, karena ia hanya mampu mengeluarkan potensi terbaiknya saat bernyanyi di dalam kamar mandi.

Allen pun beruntung karen didukung oleh jajaran pemain berkelas yang mampu memainkan karakternya dengan baik. Tabik khusus harus dialamatkan kepada Penélope Cruz yang begitu mencuri perhatian dengan pesonanya. Sayangnya  Alison Pill dan Greta Gerwig tidak diberi jatah yang cukup proporsional untuk dapat menyumbangkan penampilan terbaik mereka.

Secara struktur, narasi mengambil gaya tutur ala interwoven plot, dengan kronologi timeline dari masing-masing segmen yang berdiri sendiri dan tanpa bersinggungan sama sekali. Terkecuali segmen Antonio dan Milly yang terjadi dalam periode waktu sehari saja, setiap kisah berjalan dalam kisaran waktu yang cukup panjang. Allen sedikit tergagap dalam menyilangkan antar-plot ini sehingga  agak membingungkan di awal. Untunglah film dapat berjalan dengan lebih mulus setelah kita mengakrabi karakter-karakter-nya.

Sepanjang sejarah karirnya, Woody Allen tidak hanya menghasilkan film-film yang menarik untuk disimak, namun juga sebaliknya. Akan tetapi tidak sedikit juga yang memiliki kualitas sedang-sedang saja. Dan To Rome with Love termasuk dalam kategori sedang-sedang saja. Forgettable, predictable and somewhat messy. Kelemahan terbesar mungkin dikurang tepatnya takaran yang ditangani Allen untuk tiap segmen. Akan tetapi, sejelek-jeleknya film Woody Allen, ia masih tetap mampu menghadirkan kejenakaan yang cukup menyenangkan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s