Film Review: The Girl (2012)

Siapa saja yang menggemari film pasti mengenal siapa itu Alfred Hitchcock. Sutradara legendaris ini terkenal dengan barisan film suspensnya yang menawan. Uniknya, 2012 menandakan hadirnya dua film biopic yang mencoba mengangkat namanya, yaitu Hitchcock, karya Sacha Gervasi yang mengangkat kronika di balik pembuatan Psycho (1960), serta The Girl, sebuah film televisi arahan Julian Jarrold (Kinky Boots) yang disiarkan oleh HBO dan berkisah tentang lika-liku hubungan antara Hitchcock bersama artis orbitannya, Tippi Hedren (The Birds, Marnie).

Sebuah film biopic, sebagus apa pun dia, mau tidak mau tidak akan terlepas dari apa yang disebut dengan dramatisasi. Yang menjadi persoalan, apakah dramatisasi yang dilakukan akan berlebihan sehingga akan meleburkan antara fakta dan fiksi atau malah sebaliknya dan mempertegas keakuratan kisahnya. Setelah menyaksikan The Girl, sulit untuk menghindari kesan jika skrip yang ditulis oleh Gwyneth Hughes, berdasarkan buku berjudul Spellbound by Beauty tulisan Donald Spoto, terlalu mendramatisir situasi.

Tentu saja dengan kehadiran Tippi Hedren (sekarang berusia 82 tahun) sebagai penasehat produksi, seharusnya akan menambah keakuratan kisahnya. Namun, dengan durasi hanya 90 menit-an, film hanya mencuplik fragmen dari hubungan yang terjadi antara Hitch dan Tippi. Dan parahnya film memang terasa tidak lebih sebagai kumpulan adegan “penting” ketimbang sebuah plot yang mengalir tentang friksi yang terjadi diantara mereka. Dan kata “penting” di sini mungkin dapat direferensikan pada “dramatis”. Akhirnya, film memilih untuk menganulir beberapa unsur yang mungkin dapat memberi dimensi yang lebih luas akan pertanyaan-pertanyaan seperti, “mengapa” dan “bagaimana”.

Baik Toby Jones dan Sienna Miller bermaindengan cukup meyakinkan sebagai Alfred Hitchcock dan Tippi Hedren. Selain didukung oleh teknik make-up yang mumpuni, Jones cakap dalam mengadopsi gestur dan mimik Hitchcock dan tidak hanya mencoba menjadi peniru, namun juga menghadirkan Hitch sebagai persona yang utuh melalui akting yang menawan. Sienna Miller sendiri selama ini kita kenal sebagai artis medioker yang tidak memiliki catatan yang terlalu gemilang di resumenya, namun dalam The Girl sukses menghadirkan sosok aktris karbitan yang mencoba memberikan upaya terbaiknya, terlepas dari ketidak-begitu-miripan dari segi fisik antara Miller dengan Hedren.

Namun, terkadang akting yang baik saja tidak cukup. Sebuah plot yang meyakinkan dalam bertutur juga penting. The Girl terkadang dapat menyentuh sisi-sisi manusiawi dalam kisahnya, namun dibanyak sisi lain, ia cenderung terlihat seperti eksploitasi terhadap friksi yang terjadi antara dua karakter utamanya. Ia seakan-akan tidak melewatkan kesempatan untuk menggambarkan sosok Hitchcock sebagai sosok monster manipulatif yang kesepian dan tega berbuat apa saja demi mencapai cita-citanya. Sementara Hedren diperlihatkan sebagai sosok tegar yang (sepertinya) menjadi korban situasi.

Saat di pengujung kisah, film merasa berkewajiban untuk menulis “Marnie now hailed as Hitchcock’s final masterpiece,” kita pun kemudian menyadarai validitas The Girl terhadap apa yang sebenarnya terjadi. Correct me if i was wrong tapi semua orang juga tahu kalau Psycho dan The Birds-lah yang dianggap sebagai masterpiece terakhirnya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s