Film Review: The Hobbit: An Unexpected Journey (2012)

The Hobbit - An Unexpected Journey
It’s been almost a decade, but nothing is more tempting than the persuasion to return to the Middle Earth. Dan terimakasih kepada Peter Jackson, kita pun dapat kembali mengalami petualangan penuh fantasi yang mendebarkan dalam The Hobbit: An Unexpected Journey.

Berbagai kritikan yang beredar setelah menyaksikan filmnya memang beralasan. Ada beberapa sebab mengapa kritikus atau pun penonton awam yang merasa jika film ini lemah.

Pertama, durasi. Berbeda dengan trilogi The Lord of The Ring (2001-2003) yang diangkat dari novel berkonsep trilogi pula, The Hobbit: An Unexpected Journey dikembangkan  dari 100 halaman pertama novel anak-anak karya J. R. R. Tolkien, The Hobbit (1937). Hal ini tentu saja sudah menimbulkan kecurigaan jika filmnya akan cenderung memanjang-manjangkan kisah sederhana di dalam bukunya. Apalagi mengingat The Hobbit pun diniatkan sebagai film yang dibagi menjadi tiga dan setiap bagian pun memiliki  durasinya (hampir) 3 jam.

Kedua, berbeda dengan trilogi TLOTR yang memiliki materi cerita yang kompleks dan suram, The Hobbit pada dasarnya merupakan sebuah dongeng anak-anak dengan plot yang tipis serta atmosfir yang lebih cerah serta fantasi yang lebih mudah dicerna. Berdasarkan ini, jelas TLOTR terlihat lebih superior dibandingkan The Hobbit.

Ketiga, masalah teknologi tontonan. The Hobbit: An Unexpected Journey dihadirkan dalam berbagai pendekatan, mulai dari standar 2D dan 3D yang dihadirkan dalam 24 fps (frame per second) hingga 3D dengan 48 fps dan 3D IMAX. Meski keberanian Peter Jackson dipuji karena keberanian mempergunakan 48fps yang membuat kualitas gambar yang lebih riil, ia juga dikritik karena dinilai terlalu mengeskploitasi filmnya.

Ujung-ujungnya kecurigaan jika The Hobbit: An Unexpected Journey merupakan produk kapitalis yang bertujuan untuk mengeruk keuntungan dengan sebesar-besarnya menjadi tak terelakkan. Akan tetapi, tunggu dulu. Meski mungkin kecurigaan itu beralasan, akan tetapi apakah Jackson lantas menyia-nyiakan keinginan para penggemar trilogi TLOTR untuk kembali ke Middle Earth dan menilik kisah yang terjadi 60 tahun sebelum peristiwa epik yang melibatkan Frodo Baggins itu terjadi?

The Hobbit: An Unexpected Journey pada akhirnya memang didedikasikan kepada para fans. Mungkin bakal agak sulit pagi para penonton yang kurang familiar dengan bukunya ataupun seri TLOTR untuk dapat mengikuti jalan ceritanya. Berbeda kasus misalnya Jackson mengadopsi The Hobbit tanpa harus memecah menjadi tiga film, karena cerita karangan Tolkien tersebut pada dasarnya sangat ringan dan mudah diikuti.

Akan tetapi, demi mengikuti alur yang sudah dibangun dalam trilogi film TLOTR, mau tidak mau skrip juga harus memasukkan bagian-bagian dari apendiks yang telah disusun oleh Tolkien di dalam TLOTR. Oleh karenanya The Hobbit: An Unexpected Journey memasukkan karakter-karakter dan jalan cerita yang tidak ada dalam materi aslinya akan tetapi hadir dalam kerangka waktu filmnya sesuai dengan apendiks tadi. Dan ini menjadi penting, karena seri The Hobbit ke depannya akan menjadi pijakan bagi trilogi TLTOR.

Dibuka dengan hari yang sama dengan The Lord of the Rings: The Fellowship of the Ring (2001) bermula, dimana Bilbo Baggins (Ian Holm), tengah mempersiapkan perayaan ulang tahun ke 111-nya. Ia sedang menulis sebuah memoar tentang kisah masa mudanya yang ditujukan kepada sang ponakan, Frodo (Elijah Wood). Dari sini The Hobbit: An Unexpected Journey pun kemudian bercerita tentang 13 kurcaci pimpinan Thorin Oakenshield (Richard Armitage) yang mencoba merebut Erebor, kerajaan yang dulu dipimpin oleh ayah dan kakeknya, yang sekarang dikuasai oleh seekor naga bernama Smaug (Benedict Cumberbatch). Atas nasehat sang penyihir Gandalf The Grey (Ian McKellen), mereka mengajak seorang hobbit dari Shire bernama Bilbo Baggins (Martin Freeman) untuk membantu. Maka dimulailah petualangan menuju Lonely Mountain guna merebut kembali Erebor.

Secara umum, Jackson kembali menerapkan struktur narasi seperti yang dipakainya dalam TLOTR. Cerita berjalan merambat dengan memasukkan banyak penjelasan, sehingga mungkin akan terasa bertele  (atau membosankan, tergantung sudut pandang). Akan tetapi, seperti telah disebutkan di atas, dimasukkannya elemen-elemen kisah yang direka Tolkien dalam TLOTR dipastikan akan membuat para penggemar bersorak-sorai.

Tidak heran jika kita tidak hanya akan kembali menemui sang Gollum (Andy Serkis) pengidap schizophrenia, atau Lord Elrond (Hugo Weaving) pemimpin Rivendell, akan tetapi juga nama-nama yang tidak terdapat di dalam The Hobbit, namun berperan dalam kisahnya menurut apendiks TLOTR, sebut saja seperti Lady Galadriel (Cate Blanchett), Saruman The White (Christopher Lee), hingga Radagarst The Brown (Sylvester McCoy).

Unsur sentimentalia pada akhirnya memang berperan penting dalam menyimak The Hobbit: An Unexpected Journey, akan tetapi secara teknis, ini adalah film yang cukup mencengangkan. Mulai dari teknik sinematografi yang berkelas hingga tentu saja penggunaan efek 3D yang menakjubkan. Menjadi catatan tersendiri adalah efek khusus di beberapa bagian terlihat agak lemah dan kurang meyakinkan. Selain itu, tone yang dipergunakan oleh Jackson terlihat lebih bewarna, serta porsi komedi yang lebih besar.

Martin Freeman dan Richard Armitage merupakan nama baru dalam saga ini, namun berperan penting dalam menjalankan laju kisahnya. Syukurlah keduanya menjalankan tugasnya dengan baik. Freeman awalnya menampilkan karakter Bilbo secara komikal, meski sesuai perkembangan kisahnya, Bilbo versi Freeman kemudian menunjukkan perubahan karakter yang cukup signifikan. Sementara itu, Armitage sebagai Thorin tampaknya merupakan jawaban seri The Hobbit untuk Viggo Mortensen dengan Aragorn-nya dalam TLOTR. Dan Armitage cukup sukses dalam menghadirkan sosok ksatria yang kharismatis ini.

Melalui The Hobbit: An Unexpected Journey, sekali lagi Peter Jackson membuktikan jika ia adalah seorang sutradara dengan visi komersil yang khas. Walaupun kental dengan unsur hiburan dan mengandalkan adegan laga, akan tetapi ia tetap menyandarkan kisahnya pada balutan humanisme yang kental, terlepas dari realm fantasi yang menjadi dasar dalam filmnya. Segala kritisi tadi pun menjadi mentah. Saya sebelumnya juga pernah terhinggap keraguan akan kesuksesan Jackson dalam memecah The Hobbit menjadi tiga bagian. Namun, ia kini sukses membuat saya menjadi tidak sabar menunggu datangnya tahun depan demi menyaksikan The Hobbit: The Desolation of Smaug.

Advertisements

6 thoughts on “Film Review: The Hobbit: An Unexpected Journey (2012)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s