Film Review: Stoker (2013)

Stoker

One of the most celebrated Korean auteur, Park Chan-wook, made his most anticipated American film debut with Stoker. Siapa pun yang gemar menyimak sinema dari negeri ginseng tersebut pasti mengenal karya-karya Chan-wook. Mulai dari Joint Security Area (2000) hingga trilogi Vegeance-nya (Sympathy for Mr. Vengeance, Oldboy, Sympathy for Mrs. Vengeance) yang fenomenal itu. Menariknya, skrip Stoker dikerjakan oleh aktor yang populer melalui serial Prison Break, Wentworth Miller. Apakah kerjasama duo “nubi” ini berhasil? Jawabannya ya dan tidak.

Miller tampaknya begitu terobsesi dengan Shadow of a Doubt (1943), salah satu film terbaik milik master of suspense, Alfred Hitchcock. Tidak hanya memiliki kemiripian dalam tema, bahkan ia menamakan salah satu karakternya dengan Charlie. Tidak ada salahnya, karena Miller memang menyebutkan, “The jumping-off point is actually Hitchcock’s Shadow of a Doubt. So, that’s where we begin, and then we take it in a very, very different direction.”  Di tengah kreatifitas dan inventivitas yang semakin langka, tentu tidak ada salahnya memelintir materi lama untuk sesuatu yang baru dan segar.

Paman Charlie dalam Stoker hadir dalam sosok misterius yang diperankan oleh Mathew Goode (A Single Man, Watchmen), yang hadir dalam kehidupan seorang remaja puteri penyendiri bernama India Stoker (Mia Wasikowska, Jane Eyre, Albert Nobbs), sesaat setelah kematian ayahnya, Richard (Dermot Mulroney, My Best Friend’s Wedding, Copycat).  Charlie, yang keberadaany selama ini tak jelas rimbanya, memberi warna tersendiri di kehidupan India dan ibunya, Evelyn (Nicole Kidman, The Hours, The Others).

Apa motivasi Charlie sebenarnya? Kemana ia menghilang selama ini? Pertanyaan-pertanyaan ini bukan mutlak milik India, karena kita sebagai penonton juga merasakan kegelisahan yang sama. Goode memerankan Charlie yang charming namun penuh teka-teki dengan menawan. Kita bisa merasa suka dengan karakternya namun di saat lain  tidak bisa tidak untuk mencurigainya. India pun awalnya merasa terganggu dengan kehadiran Charlie, meski kemudian ia mulai tersedot dalam pesona Charlie.

Stoker adalah sebuah thriller-psikologis yang bermain-main dengan metafora. Ini menyebabkan penonton tidak hanya harus bisa mereka-reka alur bergerak namun juga bahasa gambar yang kaya imajinasi oleh Chan-wook, bersama dengan kolaborator setianya, penata kamera Chung Chung-hoon. Editing oleh Nicolas De Toth pun tak kalah tangkasnya dalam memadu-madan serta menyusun gambar-gambar cantik tadi dalam sebuah alur plot yang tegang mendebarkan.

Park Chan-wook jelas bisa mempertanggung jawabkan kredibilitasnya sebagai seorang sutradara. Film tidak hanya kaya secara visual dan penuh makna, namun juga memiliki intensitas yang terjaga dengan sangat rapi. Tentu saja jangan mengharapkan ceceran darah dan kengerian yang sama seperti ciri khas Chan-wook selama ini, meski Stoker jelas masih “milik” dirinya secara mutlak.

Sayangnya, bagi yang sudah kenyang dengan film-film sejenis, plot Stoker mudah tertebak, selain karena skrip tidak hanya mencomot ide dari sana-sini, secara substekstual ia dangkal. Sederhananya, alih-alih membaca buku tentang kejiwaan misalnya, sang penulis lebih memilih cara gampang dengan membaca brosur yang disediakan di klinik psikiater. Hasilnya, pada beberapa bagian psiko-analisa yang dicoba tampilkan oleh Stoker terlihat sumir dan gampangan. Jika saja Stoker tidak dikonsep sedari awal sebagai “film serius”, ini mungkin tidak menjadi masalah. Akan tetapi, karena Stoker sudah secara mapan menghadirkan tone dead-serious, mau tidak mau ini menjadi sesuatu yang mengganjal.

Dikarenakan film terlalu fokus pada hubungan Charlie dan India secara intens, skrip juga dengan “kejam” menjadikan karakter-karakter lain mengambang layaknya orbit dan bertugas sebagai plot devices, ketimbang hadir sebagai tandem sebenarnya, terutama karakter yang diperankan oleh Nicole Kidman. Padahal Kidman sudah bermain dengan sangat baik sekali sebagai Evelyn dan mampu meniupkan ruh kegelisahan sekaligus kerapuhan sosok dewasa yang seharusnya lebih superior ketimbang India, anaknya sendiri.

Terlepas dari itu, Stoker tetap sebuah thriller Hitchcockian kontemporer yang menarik untuk disimak. Mia Wasikowska sebagai tonggak pusaran arusnya bisa menjalankan tugasnya dengan baik, meski tampaknya ia mulai terjebak pada pola peran yang streotipikal. Akan tetapi, jelas visual yang kaya menjadi penggerak yang menyenangkan. Untuk ini kita harus berterimakasih pada kekuatan seorang Park Chan-wook sebagai seorang story-teller. Ia membuktikan, seorang sutradara yang bagus bisa menggubah kisah yang paling banal sekalipun menjadi berkelas. And I think he’s among the views who can make style over substance gracefully.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s