Film Review: Oblivion (2013)

Oblivion

Earth is a memory worth fighting for.

Oblivion adalah karya kedua Joseph Kosinski setelah Tron: Legacy (2010). Lagi-lagi fiksi lmiah, namun kali ini Kosinski mengangkat karyanya sendiri, sebuah novel grafis yang sayangnya tidak pernah dipublikasikan. Menyaksikan Oblivion, kita dapat merasakan kecintaan Kosinski terhadap karya-karya fiksi-ilmiah, karena banyaknya referensi terhadap film-film sejenis yang bertabur di dalamnya. Sementara itu, Oblivion sendiri diakuinya sebagai homage terhadap genre sejenis di era 1970-an.

Terlepas dari banyaknya “kemiripan” Oblivion dengan banyak film fiksi-ilmiah lain (yang sebaiknya tak usah disebut untuk menghindari spoiler, tapi jika memaksa, bisa melihat catatan kaki di bawah*), ini adalah film yang sangat memikat. A true sci-fi flick. Menegaskan pada kata ilmiah di fiksi yang diusungnya. Sesuatu yang saat ini jarang bisa kita temukan, karena pada umumnya di sebuah film, fiksi-ilmiah hanya menjadi landasan untuk berbagai sub-genre serta unsur tematis lain yang lebih menonjol.

Berseting di tahun 2077, Oblivion berkisah tentang seorang pria bernama Jack Harper (Tom Cruise), salah satu manusia yang tersisa pasca pertempuran dengan alien yang ingin menguasai bumi 60 tahun sebelumnya. Ia bersama rekannya, Victoria Olsen (Andrea Riseborough), bertugas di bumi sebagai teknisi yang mengawasi dan merawat sepasukan drone, atau robot yang bertugas untuk menjaga wilayah bumi yang belum terkontaminasi dari serbuan para Scavengers, alien yang tersisa, di bawah supervisi Sally (Mellisa Leo), yang berada di TET, sebuah satelit raksasa di orbit Bumi.

Oblivion2

Sementara itu, sesosok perempuan misterius kerap mengisi mimpi Jack Harper dan ini membuatnya gelisah, karena seolah-olah sang perempuan dan dirinya pernah bertemu di masa lalu. Sampai sebuah pesawat antariksa terjatuh dan menyisakan seorang awak bernama Julia Rusakova (Olga Kurylenko). Tidak hanya mirip dengan perempuan misterius di mimpinya, Julia mengaku sebagai istri Jack. Apa sebenarnya yang tengah terjadi?

Oblivion hadir dengan visual yang mencengangkan. Bumi pasca apocalypse digambarkan dengan sangat menarik dan menggugah. Latar belakang Kosinski sebagai lulusan sekolah arsitek sedikit banyaknya memberi kontribusi pada konstruksi latar yang sangat detil dan menawan yang ditampilkan oleh Oblivion. Dan tentu saja ini juga tak terlepas dari tangan dingin sang sinematografer, Claudio Miranda, yang baru saja memenangi Oscar untuk Life of Pi (2012). Memanjakan mata.

Akan tetapi, kelebihan Oblivion tidak hanya di visual. Kosinski kerap mampu menghadirkan arus narasi yang mengalir meski ia cukup tidak toleran dengan membiarkan pergerakan plot yang bergerak secara merambat, alih-alih langsung pada sasaran. Pada sebagian orang, ini akan membuat frustrasi, karena menganggap filmnya membosankan. Padahal alur yang berjalan secara perlahan ini diperlukan tidak saja untuk menciptakan efek sepi, sebagaimana yang dirasakan oleh karakter Jack Harper, melainkan juga untuk menghindarkan Oblivion jatuh pada aksi laga yang jenerik.

Tentu saja aksi laga masih disediakan oleh Oblivion, akan tetapi sifatnya reaksional, ketimbang mengejar keseruan belaka. Hal yang sekarang langka ditemui. Nah, untuk urusan ini sebenarnya boleh dicurigai campur tangan Tom Cruise yang menginginkan adegan action yang spektakular, meski kemudian Kosinski mampu menjawab tantangan itu.

Oblivion3

Tom Cruise bermain menarik di sini. Sebenarnya masih mengingatkan akan Ethan Hunt di seri Mission: Impossible, akan tetapi kita bisa merasakan kegelisahan yang manusiawi seorang Jack Harper yang harus berbagi kehidupan dengan seorang perempuan cantik, namun lingkungan di sekitarnya justru terasa steril. Tak urung ia kemudian mendambakan sesuatu yang membuat hidupnya akan terasa lebih…hidup.  Dua aktris yang menjadi tandemnya, Kurylenko dan Riseborough, pun diberi kesempatan untuk memperlihatkan sisi-sisi emosional mereka. Trio ini juga menjalin koneksi yang cukup intens, sehingga kita terlibat secara emosionil dengan mereka dan merasa peduli dengan karakter-karakternya. Sesuatu yang jarang di film-film sejenis.

Sayangnya skrip yang dikerjakan oleh Kosinski bersama William Monahan (The Departed, 2006), Karl Gajdusek (Trespass, 2011) dan  Michael Arndt (Little Miss Sunshine, 2006), tidak memberikan ruang lingkup yang lebih luas bagi mereka agar dapat berkembang lagi. Tidak ada semacam keleluasaan bagi karakter mereka untuk melangkah lebih jauh, meski tidak terjebak di skala dua dimensi juga. Skrip jugalah yang membuat karakter yang memegang peranan penting seperti yang dimainkan oleh Morgan Freeman sedikit terpinggirkan.

Masalah orisinalitas juga mungkin menjadi sedikit masalah, akan tetapi mengingat Oblivion memang diniatkan sebagai homage tentu saja hal-hal yang bersifat meta sulit dihindarkan, yang mungkin hanya akan berhasil jika penonton memang awam dengan hal-hal yang menjadi referensi bagi Oblivion. Di beberapa bagian, skrip juga terasa malas untuk lebih mengeksplorasi plot agar dapat tampil dengan lebih dalam dan inventif atau menutup beberapa lubang pada plot, yang sebenarnya cukup mengganggu.

Akan tetapi, terlepas dari kelemahannya tersebut, Oblivion adalah sebuah film fiksi-ilmiah yang memukau. Disamping sisi artistik yang memanjakan mata, elaborasi pada sisi-sisi ilmiahnya juga cukup kompeten dan berhasil pula membangun sisi fiksi yang renyah untuk disimak. Namun, sebagaimana dengan Tron: Legacy, film arahan Kosinski ini pun tampaknya akan jatuh ke ranah divisive, di mana sebagian orang akan menguap saat menontonnya, sementara sisanya akan bersorak gembira saat menyaksikannya. Dan saya termasuk golongan yang ke dua.

*) Film-film referensi: 2001: A Space Odyssey, I Am Legend, Independence Day, Moon, Star Wars, Total Recall, The Matrix, Planet of The Apes, WALL•E. Did I miss a title?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s