Film Review: Java Heat (2013)

Java Heat

Terlepas dari kabar yang menyebutkan jika Java Heat ogah disebut sebagai film Indonesia, bagaimanapun susah untuk melepaskan film ini dari embel-embel Indonesia. Tidak hanya karena sebagian besar aktor berdarah Indonesia dan berlokasi di tanah Jawa,  sang sutradara, Conor Allyn, sebelumnya telah mengekspolitasi sejarah perjuangan bangsa Indonesia dalam trilogi Merah Putih (2009-2011). Kali ini pria Amerika tersebut menghadirkan sebuah aksi-laga modern yang juga menjadikan berbagai isu sosial kekinian yang terjadi di Indonesia sebagai bahan baku kisahnya. Well, mungkin Indonesia yang berada dalam alternate universe, meski secara kontekstual tidak begitu banyak perbedaan.

Sejarah film kita tidak asing dengan kehadiran aktor-aktor “internasional” yang hadir membintangi film Indonesia. Sebut saja Chris Noth dalam Peluru dan Wanita (1987), Cynthia Rothrock dalam Pertempuran Segitiga (1990) dan beberapa judul lain, David Bradley dalam Blood Warrior (1993) atau Frank Zagarino  dalam Outraged Fugitive (1996). Dan daftar ini dapat menjadi lebih panjang jika dirunut lagi jauh ke belakang. Dari barisan produksi film yang memakai bintang asing, baik murni film produksi Indonesia atau joint-venture tadi, umumnya dibuat dengan memakai aktor kelas B dan dalam semangat kelas B pula. Tidak ada yang salah sebenarnya, namun jika kita berbicara dalam konteks yang lebih ambisius, film-film ini tidak akan memberi kontribusi apa-apa dalam meletakkan nama Indonesia di peta film dunia.

Kecendrungan film-film ini, termasuk yang baru saja beredar di awal tahun, Dead Mine (2013), adalah memarginalisasi karakter lokal, entah baik sebagai extended extras atau plot devices atau karakter satelit. Pada umumnya film-film ini menglorifikasi sosok-sosok asing sebagai sentra utamanya. Java Heat juga masih menjadikan bule sebagai jagoannya. Indonesia pun masih dipandang berdasarkan stigma prejudisial tertentu. Akan tetapi, pilihan film juga memilih sosok lokal sebagai tandem setara menjadi sebuah nilai lebih. Jadi kita tidak akan hanya melihat Kellan Lutz, sang alumni Twilight Saga, dalam ber-action-ria, akan tetapi juga terpana oleh kharisma seorang Ario Bayu yang tampil meyakinkan sebagai sosok polisi tangguh.

Java Heat tidak memiliki cerita yang kuat. Akan tetapi Allyn tampaknya cukup niat untuk memoles filmnya dengan penuh gaya. Tata artistik yang mengedepankan sisi lokal demikian memanjakan mata. Secara visual, sang sinematografer, Shane Daly, cukup antusias dalam menangkap lanksap Yogyakarta yang cantik dengan otentik. Familiar bagi penonton lokal dan eksostis bagi penonton luar. Pesona Jawa yang eksotis ini ditangkap Allyn dengan cukup baik. Ia pun cukup niat dengan menangkap fenomena sosial yang terjadi di Indonesia untuk menjadi landasan plotnya, meskipun rasanya tidak begitu mirip Indonesia juga.

Dikisahkan Sultana Jawa (Atiqah Hasiholan) terbunuh dalam sebuah tragedi bom. Seorang polisi berdedikasi bernama Hashim (Ario Bayu) bertugas memecahkan kasus ini. Sementara itu seorang pria Amerika bernama Jake Travers (Kellan Lutz) dicurigai sebagai tersangka. Selain berada di tempat kejadian perkara, pria yang mengaku sebagai asisten dosen pascasarjana yang mengajar sejarah seni Asia Tenggara ini memiliki gelagat yang tidak beres. Uniknya, Hashim kemudian malah harus berkerjasa sama dengan Jake dalam menuntaskan misteri pembunuhan putri sekaligus pewaris tahta Sultan (Rudy Wowor), yang tampaknya berkaitan dengan kehadiran seorang teroris misterius bernama Malik (Mickey Rourke) yang berafiliasi dengan ekstrimis lokal, Achmed (Mike Muliadro).

Di atas kertas, Java Heat mengandalkan aksi laga dan twist-and-turn yang seharusnya menjadi kenikmatan tersendiri dalam menyimaknya. Sayangnya, Allyn pun masih memiliki semangat-besar-tenaga-kurang seperti film-film sebelumnya. Tidak saja intensitas yang kurang tergali, suspensi yang mendebarkan juga nyaris tidak ada. Adegan tembak-tembakan, kejar-kejaran, baku hantam dan sebagainya tampil dengan datar, bahkan beberapa menggelikan. Saya justru tertawa melihat seorang pria lengkap dengan blankon menembakkan bazooka ke sebuah gedung. Bukan karena pakaian tradisionalnya, akan tetapi kurangnya keahlian Allyn untuk membuat adegan tersebut untuk tampil meyakinkan. Untunglah di beberapa bagian eksekusinya cukup mencuri perhatian, seperti adegan saling mengejar di gang-gang sempit perumahan penduduk.

Dan siapa nyana Kellan Lutz bisa tampil meyakinkan. Postur tubuhnya yang kekar memang terasa mantap untuk film-film laga. Akan tetapi ia cukup meyakinkan tidak hanya dalam adegan yang menuntut stamina fisik, namun juga saat harus tampil serius ataupun komedik. Koneksinya dengan Ario Bayu terjalin dengan cukup baik untuk menjadikan Java Heat sebagai buddy film yang lumayan menggelitik. Tanpa chemistry yang baik antara Lutz dan Bayu, niscaya Java Heat akan lebih terpuruk. Apalagi Mickey Rourke, aktor yang pernah mendapat nominasi Oscar, sama sekali tak bisa diandalkan. Selain karakternya kurang tergali, Rourke tampil dengan kualitas akting yang buruk.

Java Heat, memang menambah judul daftar film kelas B kolaborasi asing dengan Indonesia yang mencoba tampil go international tapi tak berkesan lainnya. Oh ya, secara kualitas jelas mengecewakan, meski di beberapa sisi masih bisa diapreasiasi. Is it so bad it’s good? Mungkin.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s