Hayao Miyazaki’s Top 5

Hayao Miyazaki
Hayao Miyazaki

Baru-baru ini terbetik kabar jika maestro animasi Jepang, Hayao Miyazaki (宮崎 駿) memutuskan untuk pensiun dari menyutradarai.  Tentu saja sebagai salah satu pendiri studio animasi populer Ghibli, ia mungkin akan tetap berkarya sebagai produser. Namun, as one of the most celebrated director, tentu saja kabar ini menyesakkan dada yang berarti kita tidak akan menyaksikan lagi film-film beliau.

Sebenarnya ini bukan kabar yang baru juga, karena sebelumnya Miyazaki-sama pernah mengumumkan Ponyo (2008) sebagai film terakhirnya. Toh, beliau merilis The Wind Rises (Kaze Tachinu – 風立ちぬ), di tahun 2013, sebagai film terakhirnya. Terlepas dari itu, sebenarnya cukup wajar jika Miyazaki-sama memutuskan untuk pensiun, mengingat usianya yang sudah beranjak senja, yaitu 72 tahun lebih tepatnya.

Dengan rentang karir selama 50 tahun, Miyazaki-sama telah memberikan kita 11 film animasi luar biasa. Oleh karenanya, rasa-rasanya kita tak layak untuk menangisi keputusannya untuk berhenti menyutradari film, melainkan harus mendukung dengan penuh suka cita. Lagi pula ia sudah memberikan “warisan” yang tak akan lekang oleh zaman.

Film pertama Miyazaki-sama yang saya tonton adalah Princess Mononoke (Mononoke-hime – もののけ姫, 1997).  Namun, yang benar-benar membuat saya jatuh cinta kepada karya-karyanya adalah Spirited Away (Sen to Chihiro no Kamikakushi  – 千と千尋の神隠し, 2001), yang akhirnya membuat saya menonton semua filmnya.

Dari 10 film yang telah saya tonton (tentunya sangat berharap bisa menyaksikan The Wind Rises dalam waktu dekat), berikut lima buah film Miyazaki-sama yang menjadi favorit saya:

#1
SPIRITED AWAY (2001)
( 千と千尋の神隠し Sen to Chihiro no Kamikakushi)

Spirited Away

Spirited Away merupakan film kedelapan Miyazaki-sama. Menorehkan prestasi sebagai film animasi terbaik di ajang Oscar 2003 bukan alasan mengapa saya mencintai film ini. Kisah gadis cilik Chihiro Ogino yang harus mengalami petualangan di dunia magis  bagi saya terasa sangat…magis namun juga menyentuh. Miyazaki-sama dengan gemilang mengajak saya untuk larut dalam petualangan Chihiro serta terpesona oleh dunia ghaib yang ada di film. Belum lagi kisah romansa antara Chihiro dengan si bocah misterius Haku begitu mengharu-biru. Saat film selesai, tak terasa saya meneteskan air mata, meski sudah menyaksikannya untuk kesekian kalinya.

#2
MY NEIGHBOR TOTORO (1988)

(となりのトトロ Tonari no Totoro)

My Neighbor Totoro

Saya ingat betapa saya sangat menyayangi Totoro setelah film usai saya saksikan. Miyazaki-sama sukses membuat karakter “monster” yang begitu menggemaskan dan lovable. Kekuatan Totoro justru terletak pada kesederhanaanya. Cerita yang pasti akan mudah untuk dicerna oleh anak-anak, namun juga bisa diresapi secara emosionil oleh orang dewasa. Menyaksikan Totoro akan membuat kita merasakan sesuatu yang hangat menjalar di dada karena indahnya penggambaran akan persahabatan, terlepas dari perbedaan yang bisa menjadi jurang. Totoro juga dengan sangat bernas berkisah tentang keseimbangan ekologi yang disampaikan dengan lembut tanpa harus cerewet dan menceramahi.

#3
HOWL’S MOVING CASTLE (2004)

(ハウルの動く城 Hauru no ugoku shiro)

Howl's Moving Castle

Howl’s Moving Castle diangkat dari buku karya pengarang Inggris bernama Diana Wynne Jones dan di tangan Miyazaki-sama, bertranformasi menjadi salah satu karya Miyazaki lainnya yang kental dengan nuansa magis dan juga hangat. Saya sudah membaca bukunya dan Miyazaki-sama melakukan perubahan detil di sana – sini, akan tetapi tidak mengurangi esensi filmnya. Pace-nya yang sedikit lambat dan cerita yang cukup kompleks serta berlapis mungkin akan membuat film ini agak sulit untuk diikuti oleh anak-anak atau penggemar animasi sederhana, akan tetapi setelah kita lebur di dalamnya, percayalah sulit untuk tidak mencintai Sophie dan Howl (disulih suara oleh Kimura Takuya) dan dunia dongeng mereka yang menakjubkan.

#4
PONYO (2008)

(崖の上のポニョ Gake no Ue no Ponyo)

Ponyo

Ponyo mengingatkan saya akan Totoro. Bukan hanya berkisah tentang persahabatan antara dua mahluk yang berbeda jenis akan tetapi juga kesederhaan dalam bertutur dan juga sangat kental dengan nilai-nilai kekeluargaan serta isu lingkungan hidup. Ponyo digambarkan sebagai sosok anak kecil yang mengemaskan sekaligus terkadang menyebalkan. Namun, sulit untuk tidak jatuh cinta kepada Ponyo yang bertekad kuat ini. Hubungannya dengan Sōsuke yang baik hati terasa begitu personal dan indah. Yep, Ponyo merupakan salah satu film Miyazaki-sama yang indah, bukan hanya karena lansekap yang cantik (seperti biasanya) akan tetapi juga tentang persahabatan tanpa pamrih itu sendiri. A breathtakingly beautiful alteration of Little Mermaid, perhaps?

#5
THE CASTLE CAGLIOSTRO (1979)

(ルパン三世 カリオストロの城 Rupan Sansei: Kariosutoro no Shiro)

The Castle of Cagliostro

The Castle of Cagliostro merupakan film pertama Miyazaki-sama dan diangkat dari manga karya Monkey Punch, Lupin III. Dari segi tone dan pendekatan cerita, film ini jelas jauh berbeda dari kebanyakan karya Miyazaki-sama yang kita kenal. Akan tetapi gaya bertutur yang enerjik serta komikal tidak bisa menafikan ciri khas Miyazaki-sama akan visual yang indah serta narasi yang sangat renyah. Sebagai sebuah film petualangan, ia sangat seru dan mendebarkan. Namun, kita juga sudah bisa merasakan akan bangunan karakter yang kuat serta interaksi yang hangat di antara mereka. Hubungan antara Lupin dengan Clarisse dibangun di atas pondasi yang tidak hanya romantis akan tetapi juga menyentuh. Juara!

And here’s my favorite soundtrack from Miyazaki-sama’s film:

Advertisements

3 Comments

  1. toss deh…jatuh cinta sama Totoro dkk sejak nonton Mononoke. Hampir semua udah dikoleksi kecuali Cagliostro dan Porco Rosso. Pak Miyazaki emang juara !!!

Comments are closed.