Film Review: Bangkit Dari Lumpur (2013)

Bangkit Dari Lumpur

The Indonesian schlock princess, Dewi Perssik, return with her brand new film, Bangkit Dari Lumpur. Masih mengandalkan kesensualan tubuhnya ketimbang akting, Perssik mengerjakan tugasnya dengan mudah. Lagipula tak banyak yang dilakukannya di film yang dikerjakan secara duet oleh sutradara impor dari India, Sridhar Jetty, bersama muatan lokal, Irwan Ibon.

Dikisahkan Shakira (Perssik), seorang penari eksotis yang baru saja ditinggal ke luar negeri oleh kekasihnya, James (Robby Shine, KK Dheeraj’s Genderuwo), secara tak sengaja menyaksikan pembunuhan oleh sekelompok orang yang tampaknya merupakan pedagang organ tubuh ilegal. Setelah dikejar-kejar dalam derasnya hujan (yang mengharuskan salah seorang pengejarnya harus melepaskan kaus kutangnya dan memamerkan tubuhnya seolah-olah tengah membintangi sebuah iklan susu khusus pria), Shakira menjadi korban berikutnya. Jantungnya diambil dan mayatnya dibuang ke sebuah kolam lumpur di Sidoarjo.

Agak niat memang para pembunuhnya, mengingat di awal film, lokasi tempat berlangsungnya kejadian seperti mengindikasikan di wilayah Jakarta. Sementara itu, jantung Shakira secara kebetulan (dan ajaib) segera ditransplantasi ke tubuh seorang perempuan bernama Monica (Febriyanie Ferdzilla, Kakek Cangkul) yang baru saja mengalami kecelakaan mobil saat melakukan hubungan intim bersama kekasihnya, Radit (Herichan, Sumpah Pocong di Sekolah).

Satu-satunya hal cerdas di film ini adalah saat arwah Shakira menumpang tubuh Monica dan melakukan berbagai aksi berbalut darah sebagai aksi balas dendam terhadap para pembunuhnya. Dengan memanfaatkan tubuh Monica, maka Shakira bisa melakukan berbagai aktifitas fisik, meski ujung-ujungnya tetap saja ia digambarkan sebagai seorang perempuan yang memiliki kekuatan super.

Sosok Perssik berbalut busana putih dan berbalur lumpur serta menyeret-nyeret kampak besar memang cukup meyakinkan dan pastinya akan menjadi kandidat sebagai sosok pembunuh kharismatis dalam sebuah film slasher-supernatural yang serius. Tapi tentu saja Irwan Ibon yang juga bertugas sebagai penulis skrip lebih berniat untuk memberikan shock factor ketimbang membangun kengerian psikologis.

Bangkit Dari Lumpur begitu tidak percaya diri dengan kekuatan cerita yang diusungnya sehingga kemudian memilih untuk menghadirkan komedi splastik yang tidak pada tempatnya dan membuat filmnya seperti sebuah double-feature yang saling bertabrakan secara tone dan atmosfir.

Kalau mengharapkan film memberi adegan panas, siap-siap kecewa, karena gunting sensor cukup cekatan dalam memangkas sehingga hal-hal yang bersifat erotis nyaris absen. Rasa-rasanya jika dihadirkan pasti akan membuat filmnya menjadi lebih “segar”. Yang lolos adalah berbagai adegan gore yang sebenarnya kurang meyakinkan (terima kasih kepada tim efek khusus), namun cukup berani.

Bangkit Dari Lumpur tidak hanya dioverpopulasi oleh karakter-karakter dungu dan logika yang lemah, akan tetapi juga garis cerita yang lari kesana-kemari. Pilihan adegan akhirnya sebenarnya cukup berani untuk film sejenis, akan tetapi sulit dibayar oleh segudang kebodohan yang ditampilkan sebelumnya.

Paling tidak, dia menawarkan diri untuk ditertawakan, bahkan ketika sang Hantu Lumpur Lapindo itu menyeringai dan tertawa menyeramkan, sembari memenggal leher mangsanya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s