Film Review: Ender’s Game (2013)

Ender's Game

Dalam trend film yang diangkat dari novel  young adult, Ender’s Game hadir menyemarakkan. Hanya saja, novel  berjudul sama yang mendasarinya berasal dari hampir tiga dekade lalu, sehingga jelas memiliki aspek tematis yang berbeda dari yang banyak beredar masa kini (baca: romansa, terlepas apa pun kemasannya). Ender’s Game (1985) karya Orson Scott Card memberi penekanan yang tebal pada kosa kata fiksi-ilmiah dan fantasi dengan subteks tentang anti-perang/kekerasan yang cukup kontemplatif. Di tangan Gavin Hood (Tsotsi, X-Men Origins: Wolverine), Ender’s Game tampak setia dengan materi awal, akan tetapi jelas tidak memiliki sisi kontemplasi apalagi kompleksitas yang sama.

Berseting di tahun  2086, Ender’s Game  berkisah tentang seorang remaja pria bernama Ender Wiggin (Asa Butterfield, Hugo) yang memiliki determinasi untuk menjadi komandan dalam menghadapi ras alien bernama Formics yang dulu pernah meluluh lantakkan Bumi dan ditengarai berniat untuk menyerang kembali.

Ender direkrut oleh Kolonel Graff (Harrison Ford) dan Mayor Gwen Anderson (Viola Davis) untuk bergabung di Battle School, sebuah sekolah yang berlokasi di luar angkasa guna melatih anak-anak terpilih untuk melawan Formics.

Meski masih berusia belia, anak-anak ini ditempa dengan sistem pelatihan yang keras dan persaingan sengit menjadi pondasi untuk menjadi yang terbaik. Dengan segala bakatnya, Graff  menganggap Ender sebagai kandidat utama sebagai komandan, meski ia harus melakukan apa pun yang diperlukan agar Ender siap menerima “takdir”-nya.

Premis Ender’s Game sebenarnya tidak istimewa, bahkan cenderung tipikal film-film fiksi-ilmiah yang tertebak. Menjadi istimewa karena di tangan Orson Scott Card karakter Ender Wiggin harus menghadapi situasi demi situasi yang memaksanya menjadi dewasa. Kekerasan yang dilakukan oleh Ender merupakan bagian dari determinasi.

Dalam film, Ender adalah sosok yang ingin membuat keluarganya bangga, setelah dua kakaknya gagal mengikuti program serupa. Determinasi Ender dalam film terdorong oleh banyak faktor eksternal yang terutama tentunya dorongan dari Graff. Dan ia beruntung memiliki sosok-sosok di sekitarnya yang siap menolong, yang jauh lebih banyak daripada yang ingin mencelakainya.

Sebagai tonggak utama film, Butterfield bermain dengan cukup baik, apalagi ia didukung oleh barisan pemain yang memiliki “sertifikat” Oscar di nama mereka. Akan tetapi, ia terlihat terlalu manis sebagai Ender alih-alih memancarkan kharisma sebagai seorang pemimpin apalagi determinasi yang kuat.

Sementara itu, karakter Graff sebenarnya diproyeksikan sebagai sosok tegas tanpa ampun yang tujuan utamanya adalah untuk menaklukkan para Formics. Dan ya, Graff versi Ford memang tegas, akan tetapi sulit untuk menafikan ada sisi kebaikan di dalam dirinya. Film cenderung memastikan karakter Graff bukan untuk dibenci. Bukan pula karakter yang memiliki ambiguitas. Ia hanya sosok pria yang terpaksa memanipulasi Ender agar tujuannya tercapai.

Inilah mengapa Ender’s Game cenderung bermain aman. Hood tidak berani membiarkan karakter-karakternya untuk tampil lebih frontal. Pada akhirnya hal ini mengeliminasi karakterisasi dan dinamika plot yang lebih mendalam.

Bahkan dengan durasi  sepanjang 114 menit, film terasa memenggal banyak hal dan berbuat “curang” dengan informasi yang bersifat verbal ketimbang visual. Sulit untuk membuang kesan jika apa yang terpampang di layar tidak terlalu signifikan dalam memberikan kontribusi sebagai sebuah film fiksi-limiah yang cerdas dan mengagumkan apalagi thought provoking.

Bukan berarti Ender’s Game tidak menyenangkan untuk di simak. Ia masih memiliki beberapa momentum yang cukup bernas sebagai sebuah film dalam konteks fksi-ilmiah. Hanya saja, pendekatan yang diambil oleh Hood mungkin akan lebih pas menjadi tontonan anak-anak ataupun pelepas waktu senggang yang kemudian dilupakan, ketimbang menjadi sebuah sentilan kritis tentang anti-perang/kekerasan itu sendiri.

Ender’s Game versi novel memiliki banyak judul lanjutan lainnya, sehingga dipastikan jikaEnder’s Game versi Hood pun diniatkan sebagai awal dari sebuah franchise. Akan tetapi, dengan awal yang tidak terlalu mengesankan seperti ini, agak sulit untuk melihat masa depan yang menjanjikan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s