Film Review: Free Fall (2013)

Free Fall

Tahun ini tampaknya merupakan tahun yang memberikan angin segar untuk queer cinema. Stranger by the Lake dan Blue is the Warmest Color bisa menjadi bukti jika dikerjakan dengan serius, film-film yang mengangkat isu LGBTQ pun bisa menjadi sebuah tontonan yang berkelas.

Tapi sebenarnya tahun ini queer cinema punya banyak gem lain. Free Fall (Freier Fall) dari Jerman ini misalnya. Film berkisah tentang kisah cinta “terlarang” antara dua pria yang (bukan kebetulan) berprofesi sebagai Polisi.

Dengan konteks tersebut, rasanya mudah saja menggambarkan jika film mencoba mengkritisi subordinasi sistem patriarki kepada homoseksualitas. Akan tetapi, film juga tentang pilihan dan konsekuensi, yang rasanya bisa berlaku universal tanpa memandang gender atau orientasi seksual. Film juga tidak bertendensi untuk “mengadili”, akan tetapi lebih senang untuk “memaparkan”. Ini membuat film menjadi terasa lebih personal.

Di tengah skena queer cinema yang dikritisi terlalu karikatural ataupun penggambaran karakter homoseksual yang terjebak pada streotip, senang rasanya bisa menyaksikan karakter-karakter yang lebih membumi dan bisa direlasikan secara emosional.

Stephan Lacant, sutradara Free Fall, mendapat nominasi Teddy Award dan Best Debut di Festival Film Berlin 2013 yang lalu

(4/5)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s