Her

Her

“If I was an insecure hipster, I probably would love Her.” That was my first response of the film after I saw it. Apparently some people thought that I was slyly “cooked up the term” (probably) to justify my (weak) (and judgmental) comment. They referred me to Merriam-Webster definition of, you know, hipster. I couldn’t help but laughed and I’m glad they got a very resourceful reference. I wonder though, if they have checked the more elaborate terminology on Urban Dictionary or probably the (just) Dictionary. We’ll come to that. Let’s chat about the film first.

Her lagi-lagi sebuah fantasi Hollywood tentang “cinta sejati” yang tak lain merupakan variasi kesekian dari Pygmalion. Dengan adanya nama Spike Jonze melekat sebagai sutradara, harapan akan film yang quirky pun sulit dihindarkan.

Of course Her got a peculiar character like Theodore (Joaquin Phoenix) who deeply in love with his OS, Samantha (disulih suara oleh Scarlett Johansson). Kisah cinta mereka dibangun dengan cukup masuk akal dan meyakinkan. Kita percaya jika Theodore mampu mencintai sebuah mahluk artifisial. Tapi Theodore terlupa jika sehumanis apapun Samantha, ia tetap sebuah produk.

Film patut dipuji karena berani menunjukkan kelemahan ini. Sayang Jonze sebagai penulis naskah kembali terjebak pada konsep Antropomorfisme yang seringkali memerangkap film-film Hollywood. Samantha bukan manusia. Tapi demi kenyamanan film ia harus terlihat, atau terdengar, seperti manusia utuh. Ini membuat romantisme klise sulit dihindarkan.

Theodore, and most people in the film, depicted as have a particularly (kinda) strong sense of alienation from most established social activities and relationships. Dan itu merupakan definisi hipster menurut kamus lho? Haha. Memang, menurut Dictionary, istilah ini lebih jamak untuk dekade 1950-an. Mungkin akan terlihat seperti sebuah oversimplifikasi. Namun film juga melakukan oversimplifikasi dalam kritisinya terhadap teori alienasi. Jadi, mengapa tidak?

Her bisa saja bermaksud baik dengan menggambarkan bagaimana manusia sudah begitu terikat dengan perangkat canggih mereka sehingga meminggirkan tawaran hubungan yang lebih organis dengan sesama manusia. Mungkin karena Theodore juga digambarkan sebagai sosok yang mengalami krisis rasa nyaman sehingga ada mantan istrinya, Catherine (Rooney Mara) yang merasa tersiakan. Bahkan mungkin ia melewatkan kesempatan untuk membina hubungan yang lebih lekat dengan sahabatnya, Amy (Amy Adams).

Does it a heartbreaking or heartfelt film? Bisa jadi. Tapi sulit juga mengusir kesan jika secara penceritaan, Spike Jonze terasa manipulatif terhadap emosinya. Ia punya semua pakem melodramatis agar kita merasa suka kepadanya. Jika itu memang disengaja, mungkin ini memang film yang luar biasa. Mungkin. But I’m not buy it.

(3/5)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s