Veronica Mars

Veronica Mars

Meskipun serial Veronica Mars tidak bertahan lama, hanya 3 musim, tapi ia sudah mengumpulkan jumlah penggemar yang cukup masif. Begitu masif sehingga saat Kristen Bell, sang pemeran detektif partikelir (dulunya) remaja, melalukan program kickstarter atau penggalangan dana mengumpulkan modal sebagai bujet film layar lebarnya, mereka dengan antusias bersedia terlibat. Hasilnya sebuah film yang kini bisa kita saksikan.

Berseting 9 tahun setelah akhir musim penayangan di televisi, Veronica Mars kini digambarkan sebagai calon pengacara yang siap untuk masuk ke dunia kerja profesional. Tapi, sebuah batu halangan muncul dalam bentuk kekasih dari masa lalu, Logan Echolls (Jason Dohring) yang lagi-lagi terlibat kasus pembunuhan. Maka Veronica kembali ke kota Neptunes yang sudah lama ditinggalkannya dan berupaya mencoret nama Logan dari daftar tersangka utama pembunuh kekasihnya, sekaligus teman mereka semasa sekolah, Carrie Bishop (Andrea Estella, dulunya diperankan oleh Leighton Meester).

Veronica Mars lebih tampak seperti sebuah reuni ketimbang benar-benar menyajikan sebuah kisah detektif yang bernas. Ditandai dengan kembalinya banyak karakter familiar yang dulu menghiasi serialnya, baik sebagai “figuran” maupun berperan penting dalam plotnya. Tentu saja ini akan memuaskan para fans, meski mungkin akan membuat penonton yang tidak terbiasa akan meraba-raba.

Sulit bagi film memang untuk mengenyahkan sentimentilia masa lalu yang pada akhirnya justru meminggirkan porsi penggambaran kekuatan Veronica Mars sebagai seorang detektif. Tidak ada teknik penyelidikan istimewa yang dipamerkan oleh Veronica. Film cenderung berkutat di masalah pribadi Veronica dengan sosok-sosok dari masa lalunya ini. Belum lagi secara tampilan, alur dan juga tempo, yang menyebabkan Veronica Mars lebih cocok untuk dikonsumsi di televisi.

Untungnya, naskah yang dikerjakan Rob Thomas, sang sutradara, bersama Diane Ruggiero tidak pelit untuk memberi sedikit nukilan latar belakang. Filmnya juga cukup renyah untuk dicerna, apalagi dengan bekal barisan dialog tajam yang menggelitik serta, pastinya, Kristen Bell.

Dan ohya, meski sebentar, penampilan Gaby Hoffmann sebagai (lagi-lagi) perempuan neurotis, sangat mencuri perhatian.

(3/5)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s