A Touch of Sin

A Touch of Sin

Sebagai salah satu sosok terdepan dalam perfilman China Daratan, karya Jia Zhangke memang sulit untuk dilewatkan, termasuk yang terbaru ini, A Touch of Sin (天注定; Tian zhu ding). Sama halnya dengan film-film Jia sebelumnya, ada sesuatu tentang China kontemporer yang ingin dibicarakannya. Terbagi dalam 4 segmen, A Touch of Sin mencuplik bagaimana tingginya pertumbuhan ekonomi suatu negara tidak selalu sejalan dengan kesejahteraan rakyatnya.

Mungkin terdengar terlalu politis, tapi percayalah, dalam A Touch of Sin isu tersebut diterjemahkan secara lebih ringan dan mudah dicerna. Tidak terlihat gampangan atau dangkal pula. Malahan ia mengandung kritik sosial yang justru disampaikan dengan tanpa malu-malu.

Mulai dari kisah Dahai (Jiang Wu), seorang penambang penentang kaum elit, Zhou San (Wang Baoqiang) yang pulang kampung menemui keluarganya, hingga Xiao Yu (Zhao Tao) seorang resepsionis sauna yang menjadi selingkuhan pria beristri, dan pemuda Xiao Hui (Luo Lanshan) yang terjebak hutang, A Touch Sin pada awalnya terlihat sebagai sebuah drama saja, sampai secara random ditutup dengan tindak kekerasan yang penuh darah.

As random as it might seem, jika dicermati, kekerasan yang ditampilkan sebenarnya sebuah akumulasi dari emosi yang tertahan. Terpantik oleh keresahan yang membuncah dan kemudian meletup menjadi bara. Aura pesimistis yang memenuhi A Touch of Sin tidak lantas membuat filmnya jatuh ke ranah gelap juga. Secara umum film masih memiliki semangat humanisme seperti Still Life (2006) misalnya, meski cenderung lebih getir.

Judul A Touch of Sin berasal dari A Touch of Zen (1971), sebuah wuxia klasik karya King Hu. Oleh karenanya, meski realisme menjadi bangunan dari cara bertutur film, namun pada satu titik ia seperti memasuki wilayah fantasi ala wuxia, terutama saat kekerasan mengambil kendali cerita. Baiknya, transisi realisme dan fantasi dieksekusi dengan puitis oleh Jia, sehingga tidak terasa menganggu.

Pertanyaan yang muncul adalah kenapa Jia harus “merusak” tone realis dengan keberadaan elemen seperti wuxia tadi? Satu yang harus disadari bahwa A Touch of Sin berkisah tentang eksploitasi. Dan tidak ada salahnya jika dipaparkan dengan semangat film eksploitasi pula. Toh, Quentin Tarantino sudah membuktikan jika seni dan eksploitasi bisa berjalan dengan beriringan.

(4.5/5)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s