Foster the People – Supermodel

Foster the People - Supermodel

Menyimak Coming of Age, single terbaru Foster the People (FTP) yang juga lead untuk album sophomore mereka, Supermodel, bisa diasumsikan jika band gawangan Mark Foster ini tidak mau terjebak dalam pola yang sama. Tentu saja masih dalam semangat rock/indie/alternatif dan beat yang dance-able, namun juga mengadopsi gaya modern-rock yang dipadu dengan sound yang terdengar vintage.

Tiga tahun sudah semenjak debut mereka, Torches (2011) dan juga single fenomenal Pumped Up Kicks, yang melambungkan trio yang terdiri atas Mark Foster, Cubbie Fink dan Mark Pontius. Mungkin kita bertanya-tanya apa selanjutnya yang akan dilakukan oleh Foster the People untuk menyusul kesuksesan debut mereka. Hasilnya adalah Supermodel ini.

Coming of Age bukan hanya penegas jika mereka menghadirkan yang berbeda dengan Torches.  Album ini menurut Mark Foster juga sebuah tanggapan atau opini personalnya akan aspek negatif konsumerisme dan juga sisi jelek kapitalisme. Tidak mengherankan jika lagu-lagu terdapat dalam Supermodel disusun dengan lebih kompleks dan sedikit meminggirkan sisi catchy atau easy listening atau hook.

Yang anehnya, jika dicermati, sebenarnya tidak terjadi perbedaan yang mencolok. Secara struktur atau melodi, lagu-lagu dalam Supermodel masih sangat Foster the People-esque. Tapi terpampang nyata jika Mark Foster dan teman-teman dalam menulis lagunya selalu mencoba membelokkan formula agar tidak terdengar repetitif. Sayangnya, alih-alih orisinil atau inventif, sebagian besar dari lagu justru mengingatkan akan lagu dari musisi lain.

Tentunya masih ada lagu-lagu seperti Best Friend, Ask Your Friend, atau Tabloid Super Junkie, dimana pop, dance dan rock yang  bekerjasama dengan baik, sebagaimana yang bisa kita harapkan dari FTP. Tapi dengan dibuka Are You What You Want to Be? yang sedikit banyak mengingatkan akan Vampire Weekend, rasa curiga pun sulit untuk diusir jika FTP tidak benar-benar bergerak maju.

Nevermind seperti Beck jika masih mengerjakan lagu seperti yang dinyanyikannya di tahun 90-an. Pseudologia Fantastica terdengar seperti Mew jika ingin tampil lebih nge-pop. Atau Fire Escape dimana Death Cab for Cutie tampil dalam mode moody mereka.  Ohya, Vampire Weekend wannabe tadi masih bisa ditemui dalam The Truth.

Patut dihargai keinginan FTP untuk menghindarkan Supermodel menjadi Torches part II, sebuah album pop komersial yang tujuannya menjadi rekan di saat kumpul-kumpul bersama teman, karaoke, berkendaraan dan semacamnya. Menyenangkan, enjoyable tapi trivial.

Nah, upaya menjadi beda dan tidak terdengar trivial itulah yang justru menghianati esensi musik FTP itu sendiri, jika tidak mau disebut pretensius. Dengan barisan lagu sarat “pesan”, FTP justru tidak tampil lepas dan bebas, sehingga lagu-lagunya, meski dikerjakan dengan teknis yang juara, cenderung membosankan dan mudah dilupakan.

(3/5)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s