Coldplay – Ghost Stories

Coldplay - Ghost Stories

Dalam 18 tahun rentang karirnya dan semenjak album debut mereka Parachutes di tahun 2000, Coldplay telah menjelma menjadi sosok raksasa dalam industri musik dunia. Semula mereka dikenal sebagai pengusung rock alternative dalam era pasca Brit-pop, namun setelah sukses besar yang diraih oleh Mylo Xyloto (2011), tampaknya Coldplay semakin menyebrang ke arah pop. Dan itu semakin dipertegas dengan album keenam mereka, Ghost Stories.

Lagu-lagu balada lirih yang melantun lembut bukanlah sesuatu hal yang aneh. Fix You (2005) masih merupakan salah satu lagu terbaik mereka di departemen ini. Dan dalam Ghost Stories, lagu-lagu sejenis akan banyak ditemui. Tapi satu yang menjadi catatan, semenjak Mylo Xyloto juga, Coldplay juga sangat akrab dengan gerak elektronika dan itu semain dipertegas dalam album ini.

Gelagat tersebut dapat ditemui dalam track Magic, Dengan ritme dan beat yang terdengar sangat nge-pop namun memfungsikan ambient sebagai balutan, Magic mungkin akan terdengar bergerak jauh dari akar Coldplay, meski tetap saja anthemic sound yang menjadi ciri khas Coldplay masih tetap dipercayakan untuk membalur lagunya. Beat EDM ringan mungkin merupakan tanggung jawab produser asal Perancis, Madeon, yang selama ini dikenal dengan usungan Electro-house-nya.

Tentunya ada Midnight, dimana musisi elektronika/EDM, Jon Hopkins, berperan sebagai salah satu produser. Dengan ambient yang kental, ditambah lagi penggunaan vocoder oleh Chris Martin dalam menyanyikan lagunya. Lagu “minimalis” ini justru terdengar kompleks dari segi audio dan penggunaan instrumen.

Belum lagi kolaborasi antara Coldplay dengan salah satu DJ yang tengah naik daun, Avicii, dalam track A Sky Full of Stars. Sungguh mengejutkan. Atau bukan? Melalui track ini Coldplay pun akhirnya terjun juga dalam gemerlap EDM. Dengan hadirnya Avicii, jelas Progressive House merupakan balutan utama A Sky Full of Stars, sementara piano menjadi jiwanya. Tapi dentuman EDM yang menghentak mau tidak mau pun mencuri perhatian. Tapi jika Coldplay mengerjakan lagu EDM, mungkin seperti inilah memang contohnya.

Namun, seperti disebutkan di atas, balada lirihlah yang memenuhi album secara mutlak. Dan itu sudah ditandai dengan track pembuka, Always In My Head. Track ini mungkin salah satu lagu yang mengandalkan instrumen organis yang ada dalam Ghost Stories dan mengingatkan akan lagu-lagu Coldplay di awal karir mereka.

Ini menjadi penting, karena dengan penggunaan instrumen elektronika yang ekstensif, maka fungsi Jonny Buckland sebagai gitaris dan Will Champion sebagai penggebuk drum menjadi sedikit terpinggirkan, meski kini bass yang diusung oleh Guy Berryman terdengar lebih ekspresif. Nah, dalam Always In My Head, kolaborasi mereka dapat terjalin dengan cukup padu.

Ada Timbaland yang membantu mengisi segmen drum dalam track True Love, sehingga sekilas membuat Coldplay terdengar seperti OneRepublic. Tapi secara umum ini masih merupakan lagu milik Coldplay. Tumpuan utama adalah pada vokal Chris Martin yang bernyanyi dengan sangat mengharu-biru perasaan. Sisi lirik yang lugas mungkin terdengar banal justru tepat pada sasaran karena tanpa embel-embel bahasa tinggi yang sulit dipahami.

Karena mayoritas Ghost Stories diisi oleh lagu-lagu balada lirih, maka meski penggunaan elektronika tadi terdengar masif, album terdengar perih kalau tidak mau disebut galau, walau masih dalam ruang lingkup romantisme yang kental. Simak saja track-track atmosperik seperti Oceans atau track penutup O, yang bisa disebut sebagai salah satu lagu terbaik dalam album ini.

Dalam O, piano menjadi senjata utama untuk membetot perasaan pendengar lagunya. Chris Martin bernyanyi dengan lebih lempang, tidak selirih atau sesedih seperti pada beberapa lagu sebelumnya. Namun tidak bisa dinafikan juga jika bagian chorus terdengar begitu menyesakkan dada:

“Still I always
Look up to the sky
Pray before the dawn
‘Cause they fly away
One minute they arrive,
Next you know they’re gone
They fly on
Fly on”

Ghost Stories dirilis setelah perpisahan Chris Martin dengan aktris Gwyneth Paltrow yang sudah dinikahinya selama 11 tahun. Bukan usia yang singkat. Tentunya banyak kenangan yang tersemak di benak, sehingga perpisahan tersebut terasa berat. Dan apa cara yang lebih efektif dalam menuangkan uneg-uneg bagi seorang musisi selain dalam bentuk lagu?

Kehadiran Paul Epworth, yang sebelumnya sukses dengan album-album “galau” milik Adele, sebagai salah satu produser, mungkin menjadi penyebab Ghost Stories terdengar begitu gundah dan personal. Akan tetapi ini juga berimbas positif, karena setelah Mylo Xyloto dan juga Viva la Vida or Death and All His Friends (2008) yang riuh dan kompleks, Coldplay justru kembali ke bentuk yang lebih personal dan intim, sebagaimana awal karir mereka.

Meskipun tentu saja secara materi dan konsep Ghost Stories sangat jauh berbeda dari Parachute atau A Rush of Blood to the Head (2002) yang lebih kental dengan nuansa rock, album ini masih menandakan kekuatan Coldplay sebagai salah satu musisi terdepan masa kini.

Evolusi mereka menuju ranah pop yang lebih awam mungkin tidak bisa diterima secara mutlak oleh banyak penggemar mereka. Namun setelah Mylo Xyloto, sudah seharusnya kita tidak usah heran lagi jika Coldplay goes more pop and pop-er. Apalagi mereka masih mengerjakan Ghost Stories dengan kualitas yang tidak perlu diragukan lagi.

(4/5)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s